BALIKPAPAN - Memasuki awal Agustus, penjualan atribut HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Balikpapan belum menunjukkan peningkatan. Pedagang musiman yang membuka lapak di sepanjang Jalan Soekarno-Hatta mengeluhkan sepinya pembeli, bahkan omset mereka turun drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Salah satunya Nuriyadin, pedagang atribut kemerdekaan yang berjualan di Jalan Soekarno-Hatta KM. Pria asal Garut, Jawa Barat ini mengaku kondisi penjualan tahun ini menjadi yang paling lesu sejak beberapa tahun terakhir. Padahal ia telah membuka lapak sejak akhir Juli dan akan berjualan hingga pertengahan Agustus nanti.
"Belum ada peningkatan. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun lalu masih lebih ramai," ujarnya, Kamis (6/8).
Menurut Nuriyadin, pada periode yang sama di tahun-tahun sebelumnya sudah banyak pembeli yang datang, baik masyarakat umum maupun pengurus RT, Karang Taruna, hingga proyek dan perumahan yang membeli atribut kemerdekaan dalam jumlah besar.
"Biasanya tanggal segini sudah banyak yang tanya-tanya. Sekarang RT, Karang Taruna, sampai proyek belum ada yang datang sama sekali," katanya.
Ia menduga lesunya penjualan dipengaruhi perubahan pola belanja masyarakat yang mulai beralih ke platform online, ditambah kondisi ekonomi yang membuat daya beli melemah.
Penurunan pembeli berdampak langsung terhadap pendapatan. Jika pada awal Agustus tahun lalu omet hariannya bisa mencapai Rp800 ribu hingga Rp1 juta, kini penjualannya hanya berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu per hari.
Kondisi tersebut membuat Nuriyadin khawatir. Hasil penjualan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan selama berada di Balikpapan, tetapi juga untuk menutup biaya perjalanan kembali ke Garut.
"Takutnya nanti tidak cukup buat ongkos pulang. Kalau barang banyak sisa juga harus dibawa lagi ke Garut, ongkosnya jadi berat," ujarnya.
Di lapaknya, Nuriyadin menjual berbagai atribut kemerdekaan, mulai bendera Merah Putih berbagai ukuran, umbul-umbul, hingga aksesori kendaraan. Harga yang ditawarkan berkisar Rp30 ribu hingga Rp75 ribu. Ia membuka lapak setiap hari mulai pukul 07.00 hingga sekitar pukul 18.00. Nuriyadin telah rutin berjualan atribut kemerdekaan di Balikpapan sejak 2013.
Setiap pertengahan Juli ia datang dari Garut untuk berdagang selama sekitar satu bulan, kemudian kembali ke kampung halamannya setelah peringatan 17 Agustus.
Berjarak dua kilometer dari lapak Nuriyadin, putranya, Willy, juga membuka lapak atribut kemerdekaan di KM 9. Menurut Willy, tahun ini sekitar 35 pedagang musiman asal Garut datang ke Kalimantan Timur untuk berjualan. Mayoritas membuka lapak di Balikpapan, sementara sebagian lainnya berjualan di Sepaku dan Samarinda.
Meski penjualan masih lesu, Nuriyadin berharap permintaan atribut kemerdekaan akan meningkat menjelang hari H peringatan HUT ke-81 RI. (*)
Editor : Ismet Rifani