Lewat KIARA Memahami Pentingnya Stimulasi Sejak Dini untuk Mencapai Potensi Maksimal Anak

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 06:05 WIB
Roselina Ping Juan (tiga kiri) saat menjadi narasumber dalam KIARA di Dinas Perpustakaan dan Arsip Balikpapan, Selasa (4/8). (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)
Roselina Ping Juan (tiga kiri) saat menjadi narasumber dalam KIARA di Dinas Perpustakaan dan Arsip Balikpapan, Selasa (4/8). (FOTO ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID-Tangis bayi mungkin hanya terdengar beberapa menit. Namun, apa yang diterima seorang anak pada tiga tahun pertama kehidupannya bisa menentukan arah masa depannya hingga puluhan tahun kemudian.

Sentuhan kasih sayang, perhatian, dan stimulasi sederhana dari orang-orang terdekat menjadi fondasi yang akan membentuk kemampuan belajar, karakter, hingga kualitas hidupnya ketika dewasa.

Pesan itu mengemuka dalam kegiatan KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) bertema Penggerak Bersinergi, Hak Anak Terlindungi yang berlangsung di Aula Lantai 4 Dinas Perpustakaan dan Arsip Balikpapan, Selasa (4/8).

Di hadapan peserta, Regional Lead Kalimantan Tanoto Foundation Roselina Ping Juan mengajak masyarakat melihat pengasuhan bukan sekadar rutinitas merawat anak, melainkan investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia (SDM).

Baca Juga: Hipmi Balikpapan Sambut Kolaborasi CIMB Niaga, Fokus Permudah Pembiayaan bagi Pengusaha Muda

Menurutnya, masa usia dini merupakan periode emas yang tidak bisa diulang. Pada fase itulah perkembangan otak, kemampuan motorik, sensorik hingga dasar kemampuan belajar berlangsung sangat cepat. Karena itu, anak memerlukan lingkungan yang mampu memberikan stimulasi yang tepat sejak lahir.

Untuk mendukung hal tersebut, Tanoto Foundation mengembangkan Rumah Anak SIGAP, sebuah program yang berfokus pada pendampingan orangtua dan pengasuh anak usia 0 hingga 3 tahun.

Berbeda dengan layanan penitipan anak atau daycare, program itu justru menempatkan orangtua dan pengasuh sebagai peserta utama.

“Kami memiliki program Rumah Anak SIGAP yang saat ini telah berjalan di 22 center di seluruh Indonesia. Program ini berbeda dengan daycare. Di Rumah Anak SIGAP, orangtua atau pengasuh utama wajib hadir karena yang kami dampingi adalah mereka. Kami ingin meningkatkan kemampuan pengasuh dalam memberikan stimulasi terbaik kepada anak,” ujar Roselina.

Ia menjelaskan, sosok pengasuh utama tidak selalu ayah dan ibu. Dalam banyak keluarga Indonesia, nenek, kakek, maupun anggota keluarga lain turut mengambil peran besar dalam mendampingi tumbuh kembang anak.

Karena itu, seluruh pihak yang terlibat dalam pengasuhan perlu memiliki pemahaman yang sama mengenai pola asuh yang responsif.

Baca Juga: Okupansi Hotel Berbintang di Balikpapan Naik Jadi 59,02 Persen, Industri Perhotelan Mulai Pulih

Hasil pendampingan Rumah Anak SIGAP selama periode 2021 hingga 2024 menunjukkan tantangan yang masih dihadapi anak usia dini di Indonesia. 

Berdasarkan kajian program tersebut, sekitar 57 persen anak berisiko tidak mencapai potensi perkembangan secara optimal apabila tidak memperoleh stimulasi dan pengasuhan yang memadai sejak dini.

“Ada risiko sekitar 57 persen anak-anak kita tidak bisa mencapai potensi maksimalnya. Potensi itu mencakup perkembangan otak, kemampuan motorik, sensorik hingga kemampuan belajar. Salah satu penyebabnya adalah mereka tidak memperoleh akses terhadap stimulasi yang tepat pada masa awal kehidupannya,” jelasnya.

Roselina menegaskan, dampak kurangnya stimulasi tidak berhenti pada masa kanak-kanak. Anak yang kehilangan kesempatan berkembang pada periode emas berpotensi menghadapi hambatan dalam proses belajar, keterampilan bekerja, hingga kualitas hidup saat memasuki usia produktif.

“Ketika anak tidak memperoleh kesempatan berkembang secara optimal sejak dini, maka kemampuan belajarnya akan terpengaruh. Pada akhirnya hal itu juga berdampak terhadap potensi pendapatan, pekerjaan, bahkan kualitas hidup mereka di masa depan,” ungkapnya.

Karena itu, ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memandang pengasuhan sebagai tanggung jawab bersama.

Sebab, masa depan anak tidak hanya dibentuk oleh pendidikan di sekolah. Tetapi juga oleh kualitas interaksi, perhatian, dan stimulasi yang mereka terima sejak hari-hari pertama kehidupan. (rd)

Editor : Romdani.
KIARA Tanoto Foundation ibu kota nusantara Gubernur Kaltim Rudi Masud tanoto foundation tumbuh kembang anak