KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Penelitian tentang anak usia dini tak berhenti menjadi tumpukan laporan akademik, hasil kajian itu dibawa keluar kampus, masuk ke kelurahan, menyapa guru PAUD, mendampingi orang tua, hingga menjadi bahan evaluasi berbagai program pemerintah.
Semangat itulah yang dibawa Akademisi Universitas Mulia Balikpapan Sri Purwanti dalam forum KIARA (Kelas Inspirasi Antar Penggerak) yang digagas Tanoto Foundation di Aula Lantai 4 Dinas Perpustakaan dan Arsip Kota Balikpapan, Selasa (4/8).
Di hadapan para penggerak pendidikan, komunitas, organisasi perangkat daerah, dan pegiat anak, ia menunjukkan bagaimana kampus dapat menjadi bagian dari solusi membangun generasi emas.
Bagi Sri, kolaborasi yang diusung KIARA sejalan dengan peran perguruan tinggi sebagai mitra pemerintah dan masyarakat. Kampus tidak hanya melahirkan lulusan, tetapi juga menyediakan tenaga pendidik, melakukan penelitian, serta mendampingi pelaksanaan program pendidikan anak usia dini di lapangan.
Baca Juga: Pendapatan BPHTB Bontang Baru 36,11 Persen, Bapenda Ungkap Penyebab Target Belum Tercapai
"Universitas Mulia memiliki Program Studi PAUD. Ini menjadi tempat mahasiswa belajar sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang akan mengawal pendidikan anak usia dini," ucapnya.
Ia mengatakan, setiap kebijakan yang diluncurkan oleh pemerintah berupaya ditindaklanjuti oleh sivitas akademika melalui penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga Kuliah Kerja Nyata (KKN). Cara itu dipilih agar program pemerintah tidak hanya berhenti pada tataran sosialisasi, tetapi benar-benar dapat diterapkan masyarakat.
"Sebagai akademisi kami tidak tinggal diam. Kami bersama mahasiswa turun melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat, hingga pendampingan agar program-program pendidikan anak usia dini dapat berjalan lebih baik," katanya.
Baca Juga: "Kami Bukan Anak Tiri NKRI", Jeritan Pemuda Perbatasan Long Apari Soroti Mahalnya Harga Bahan Pokok
Selama 2025 hingga 2026, Universitas Mulia telah menyelesaikan sedikitnya 12 penelitian yang berkaitan dengan pendidikan anak usia dini. Topiknya beragam, mulai dari implementasi PAUD Holistik Integratif (PAUD HI), Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan, pendidikan inklusif, pengasuhan, hingga keterlibatan orang tua dalam mendukung prestasi anak.
Tak hanya berhenti pada ruang akademik, hasil penelitian itu juga dibawa ke masyarakat. Dosen dan mahasiswa melakukan pendampingan di sejumlah kelurahan dan RT melalui program pengabdian kepada masyarakat. Salah satu wilayah dampingan bahkan berhasil meraih prestasi hingga tingkat provinsi.
Namun, di balik berbagai capaian tersebut, Sri mengungkapkan masih ada tantangan besar yang harus diselesaikan bersama. Sejumlah penelitian menunjukkan persoalan utama bukan terletak pada minimnya program, melainkan masih rendahnya pemahaman masyarakat.
Ia mencontohkan implementasi PAUD Holistik Integratif yang telah dijalankan sekitar 90 persen satuan PAUD. Namun, hanya sekitar 70 persen yang melaksanakannya sesuai regulasi.
"Masih ada yang belum memahami secara utuh, ada juga yang terkendala fasilitas. Jadi bukan berarti programnya tidak berjalan, tetapi kualitas implementasinya masih perlu diperkuat," jelasnya.
Temuan serupa juga muncul dalam penelitian mengenai program Transisi PAUD ke SD yang Menyenangkan. Sekitar 70 persen masyarakat mengaku telah mengetahui program tersebut. Akan tetapi, ketika ditelusuri lebih jauh, masih banyak keluarga yang belum memahami langkah konkret yang harus dilakukan.
"Informasinya sebenarnya sudah sampai, tetapi pemahamannya belum utuh. Itu sebabnya implementasinya belum maksimal," katanya.
Baca Juga: Sinergi Bapenda Mahulu–BPN Kutai Barat Perkuat Basis Data Pajak, Josman Bidik Optimalisasi PAD
Penelitian lain mengenai pendidikan inklusif pun menghasilkan kesimpulan yang hampir sama. Banyak orang tua belum memahami bagaimana mendampingi anak berkebutuhan khusus, sementara layanan yang tersedia di Balikpapan masih terbatas.
Menurut Sri, temuan-temuan tersebut justru menguatkan pentingnya keberadaan KIARA. Program yang diinisiasi Tanoto Foundation itu tidak hanya menjadi ruang diskusi, tetapi juga mempertemukan pemerintah, akademisi, komunitas, media, dunia usaha, dan organisasi masyarakat untuk menyusun aksi bersama memperkuat pengasuhan, literasi, dan numerasi anak usia dini.
Ia menilai pendekatan kolaboratif menjadi kunci agar hasil penelitian dapat diterjemahkan menjadi kebijakan maupun gerakan yang dirasakan langsung oleh keluarga.
"Kalau selama ini sosialisasi sudah dilakukan sampai tingkat kecamatan dan kelurahan, sekarang tantangannya adalah bagaimana informasi itu benar-benar sampai ke rumah tangga. Di sinilah kolaborasi menjadi penting, sehingga semua unsur bisa bergerak bersama," ujarnya.
Baca Juga: Pria Asal Manggar Ditemukan Meninggal di Sepinggan, Polisi Masih Selidiki Penyebabnya
Bagi Sri, masa depan anak tidak dibangun oleh satu institusi. Kampus menghadirkan riset, pemerintah membuat kebijakan, komunitas bergerak di lapangan, sementara keluarga menjadi tempat pertama anak bertumbuh. Ketika semua saling menguatkan, cita-cita melahirkan generasi emas seperti yang diusung KIARA bukan lagi sekadar wacana, melainkan langkah yang dimulai dari hari ini.
"Forum seperti KIARA menjadi momentum untuk saling berbagi pengetahuan dan memperkuat kolaborasi. Kalau semua bergerak bersama, saya optimistis program-program pendidikan anak usia dini akan lebih mudah dipahami masyarakat dan manfaatnya benar-benar dirasakan anak-anak kita," pungkasnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo