Sopir Truk di Balikpapan Harus Antre Solar Subsidi hingga Dua Hari   

Muhammad Taufik • Dipublikasikan Minggu, 9 Agustus 2026 | 17:12 WIB

 

ANTRE: Truk-truk mengantre di SPBU Km 15 Karang Joang, Balikpapan, untuk mendapatkan Bio Solar bersubsidi, Kamis (6/8). Panjangnya antrean dikeluhkan sopir karena waktu tunggu bisa berjam-jam hingga dua hari. (FOTO M TAUFIK)

 
ANTRE: Truk-truk mengantre di SPBU Km 15 Karang Joang, Balikpapan, untuk mendapatkan Bio Solar bersubsidi, Kamis (6/8). Panjangnya antrean dikeluhkan sopir karena waktu tunggu bisa berjam-jam hingga dua hari. (FOTO M TAUFIK)  

BALIKPAPAN - Antrean panjang bio solar bersubsidi di SPBU Km 15 Karang Joang, Balikpapan Utara, memaksa para sopir truk menghabiskan waktu berjam-jam, bahkan hingga dua hari, hanya untuk mendapatkan bahan bakar.

Heri, sopir truk longbed 12 roda mengaku mulai mengantre sejak pukul 09.00 Wita. Namun hingga pukul 16.00 Wita, kendaraannya baru mendekati area pengisian.

"Dari pukul 9 pagi sampai pukul 4 sore, sekitar tujuh jam. Kadang bisa delapan jam. Bisa cuma ngisi 100 liter," ujarnya, Kamis (6/8).

Menurut Heri, kondisi tersebut bukan hanya terjadi di Balikpapan, tetapi juga di sejumlah daerah lain di Kalimantan.

"Sudah lama begini. Di Kalimantan Tengah, Banjar, sama saja. Di mana-mana antre," katanya.

Keluhan serupa disampaikan Arif, sopir truk material. Ia mengaku pernah mengantre sejak pukul 18.00 Wita dan baru memperoleh Solar pada sore hari berikutnya. Bahkan dalam kondisi tertentu, waktu tunggu bisa mencapai dua hari.

"Kalau antre sampai satu malam biasa. Pernah mulai jam 6 sore, dapatnya baru sore besoknya. Kadang sampai dua hari," tuturnya.

Ia berharap distribusi solar ke SPBU dapat lebih lancar agar antrean tidak semakin panjang. Menurutnya, keterlambatan pasokan kerap membuat proses pengisian berhenti selama beberapa jam.

"Kalau bisa solarnya jangan telat datang. Soalnya kalau telat, antreannya makin panjang. Ditambah lagi masih banyak pengetap," katanya.

Menanggapi kondisi tersebut, pengawas SPBU Km 15 Karang Joang, Ali, mengatakan pihaknya telah menjalankan penyaluran BBM subsidi sesuai prosedur.

Bahkan, kuota solar di SPBU tersebut telah dinaikkan dari semula 24 kiloliter (KL) menjadi 40 hingga 48 KL per hari secara bergantian dengan SPBU KM 13 setelah adanya aksi protes terkait antrean beberapa waktu lalu.

Meski kuota bertambah, menurut Ali, antrean belum dapat terurai karena jumlah SPBU penyalur solar subsidi di Balikpapan masih terbatas. Untuk kawasan Balikpapan Utara hanya SPBU KM 15 yang melayani Solar, sedangkan di wilayah barat hanya SPBU KM 13.

"Harapannya SPBU lain juga bisa ikut menjual solar supaya antrean tidak menumpuk di sini," ujarnya.

Ali juga menilai meningkatnya permintaan dipengaruhi kenaikan harga Dexlite dan Pertamina Dex. Menurutnya, banyak kendaraan operasional perusahaan yang kemudian mengurus barcode untuk beralih menggunakan solar subsidi.

Sementara itu, penurunan harga Pertamax beberapa waktu lalu dinilai belum berdampak terhadap perubahan pola konsumsi masyarakat.

Selain keterbatasan SPBU penyalur, Ali mengakui praktik penyalahgunaan BBM subsidi oleh pengetap masih ditemukan. Meski demikian, sistem barcode mampu mendeteksi kendaraan yang mencoba melakukan pengisian berulang sehingga transaksi yang tidak sesuai dapat dicegah.

Ia berharap pemerintah bersama Pertamina dapat menambah jumlah SPBU penyalur solar subsidi agar antrean panjang yang dikeluhkan para sopir truk dapat berkurang. (*)

Editor : Ismet Rifani
SPBU KM 13 dan KM 15 solar subsidi antre bbm