KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Puluhan siswa SMP Islamic Global School (IGS) Balikpapan tidak hanya belajar tentang jurnalistik dari buku pelajaran. Senin (10/8), mereka turun langsung ke lingkungan kerja media dengan mengunjungi Kaltim Post dan Balikpapan TV (BTV).
Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual untuk mempertemukan materi yang selama ini diterima siswa di sekolah dengan praktik nyata di lapangan. Para siswa diajak melihat bagaimana sebuah informasi dikumpulkan, diolah, dikemas hingga disampaikan kepada masyarakat melalui media massa, baik dalam bentuk media cetak maupun penyiaran.
Saat diwawancara, Kepala Sekolah SMP Islamic Global School Balikpapan Vatrin Gatira Damai Mimpi mengatakan, kunjungan tersebut memiliki tujuan yang lebih luas dari sekadar memperkenalkan profesi wartawan kepada siswa. Mereka ingin memberikan pemahaman mengenai besarnya peran media dalam memperkenalkan potensi, kekayaan daerah, sekaligus menjaga keberadaan budaya lokal.
Baca Juga: Perwali Jam Edar Bakal Diterbitkan, "Raksasa Jalanan" yang Melanggar Diancam Denda Rp 5 Juta
"Tujuan dari siswa-siswi SMP Islamic Global School ke Kaltim Post maupun ke Balikpapan TV adalah mereka ingin mengetahui peran dari sektor penerbitan maupun dari segi penyiaran dalam mempublikasikan berita mengenai kekayaan alam dan kekayaan daerah, khususnya dari Balikpapan," kata Vatrin.
Menurutnya, media memiliki posisi penting dalam membuat berbagai potensi daerah lebih dikenal masyarakat. Tidak hanya kekayaan alam, tetapi juga cerita mengenai tradisi, kebudayaan, kuliner, kegiatan masyarakat hingga berbagai hal khas daerah yang memiliki nilai untuk diperkenalkan kepada publik.
Karena itu, siswa tidak hanya diajak melihat aktivitas di ruang redaksi. Saat berada di Balikpapan TV, mereka juga mendapatkan gambaran mengenai proses penyiaran dan berkesempatan melihat sekaligus melakukan simulasi bagaimana sebuah berita diproduksi dan disampaikan kepada penonton.
"Di BTV mereka belajar bagaimana proses penyiaran, kemudian juga bisa melihat dan simulasi bagaimana proses penyiaran berita itu sendiri," ujarnya.
Baca Juga: Sungai Mahakam Surut Buat Sembako Langka, Gubernur Rudy Mas’ud Minta Buka Jalur Darat Mahulu
Sementara ketika berada di Kaltim Post, para siswa mendapatkan pengalaman berbeda. Mereka diperkenalkan dengan proses kerja jurnalistik, mulai dari bagaimana jurnalis memperoleh informasi, mengolah fakta, menyusun berita hingga mempublikasikannya.
Tak kalah penting, siswa juga memperoleh tips bagaimana mengemas informasi mengenai budaya daerah agar tidak berhenti sebagai informasi biasa, tetapi dapat menjadi cerita yang menarik dan memiliki daya tarik bagi pembaca.
Vatrin menilai pengalaman tersebut penting karena anak-anak hidup di tengah perkembangan media yang sangat cepat. Di satu sisi, mereka memiliki akses luas terhadap informasi melalui media sosial. Namun di sisi lain, mereka juga perlu memahami bahwa informasi yang baik harus melalui proses, memiliki sumber yang jelas dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Hal-hal penting ini menjadi bekal bagi mereka bahwa ternyata peran media sangat penting bagi eksistensi budaya khas dari Balikpapan itu sendiri," katanya.
Pembelajaran jurnalistik sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi siswa SMP Islamic Global School. Vatrin menjelaskan, dalam pembelajaran Bahasa Indonesia, para siswa telah mendapatkan materi mengenai penulisan berita. Mereka juga terbiasa melakukan observasi terhadap berbagai informasi dan mengenal produk media massa, termasuk koran.
Dengan demikian, kunjungan ke Kaltim Post dan Balikpapan TV menjadi kesempatan untuk membawa pengetahuan tersebut keluar dari ruang kelas. "Biasanya siswa kami dilatih untuk belajar menulis mengenai berita dalam pembelajaran Bahasa Indonesia. Kemudian juga banyak melakukan proses observasi berkaitan dengan berita. Mereka dihadirkan dengan media cetak seperti koran, kemudian mereka juga berkegiatan field trip," jelasnya.
Menurut Vatrin, pengalaman turun langsung ke lapangan memberikan suasana belajar yang berbeda. Jika sebelumnya siswa lebih banyak mempelajari proses pengolahan informasi secara teoritis, melalui kunjungan ini mereka dapat melihat secara langsung bagaimana pekerjaan tersebut dilakukan oleh para pelaku media.
Baca Juga: Kasus Keracunan MBG di Bontang, Pemkot Panggil Seluruh SPPG dan Sekolah untuk Perketat Pengawasan
"Mereka belajar menjadi jurnalis berkaitan dengan berita tersebut. Jadi walaupun tidak sesering ketika mereka akan berkunjung ke media seperti ini, untuk terjun langsung ke lapangan ini adalah hal baru," katanya.
Meski demikian, para siswa sebelumnya telah memiliki bekal mengenai cara memproses informasi dan mempublikasikannya melalui media sosial sekolah. Pengalaman tersebut menjadi dasar bagi mereka untuk memahami bahwa membuat konten bukan sekadar mengambil foto atau video kemudian mengunggahnya.
Ada proses memilih informasi, menentukan sudut pandang, memastikan fakta, menulis judul, menyusun cerita, hingga mempertimbangkan bagaimana sebuah informasi dapat diterima oleh masyarakat.
Dalam materi yang disiapkan untuk kunjungan tersebut, siswa juga diperkenalkan dengan konsep bahwa kekayaan Kalimantan Timur bukan hanya mengenai sumber daya alam. Daerah ini menyimpan kekayaan cerita, mulai dari destinasi wisata, sejarah, tradisi dan seni, kuliner hingga kisah masyarakat.
Baca Juga: Hasil Investigasi Keracunan MBG Bontang, Bakteri Patogen Ditemukan pada Ayam Serundeng dan Gulai
Media kemudian menjadi salah satu jembatan yang membuat berbagai cerita tersebut dapat dikenal lebih luas. Kunjungan ini diikuti 34 siswa dengan delapan guru pendamping. Selain menjadi bagian dari pembelajaran, kegiatan tersebut juga berkaitan dengan program Traditional Day yang tengah disiapkan SMP Islamic Global School.
Vatrin mengatakan, Traditional Day menjadi salah satu program sekolah untuk memperkenalkan budaya khas daerah sekaligus mengajak siswa memahami keberagaman budaya Indonesia. Kegiatan tersebut juga diarahkan menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
"Ini juga sebagai salah satu program dari Traditional Day, di mana kami ingin memperkenalkan kepada khalayak bahwa mereka adalah tamu-tamu yang akan berkunjung ke sekolah kami tanggal 20 Agustus nanti sebagai salah satu upaya dalam memperkenalkan budaya khas daerah dan dalam rangka memperingati kemerdekaan RI," tuturnya.
Pada kegiatan Traditional Day yang akan digelar 20 Agustus mendatang, sekolah berencana mengundang sejumlah sekolah lain untuk hadir dan berpartisipasi. Di antaranya mitra OSIS dari beberapa SMP serta sejumlah sekolah dasar di sekitar lingkungan sekolah.
Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk memperkenalkan hasil pembelajaran dan proyek yang berkaitan dengan budaya kepada siswa dari sekolah lain.
Vatrin menyebut kegiatan itu juga menjadi momentum bagi SMP Islamic Global School untuk memperkenalkan program-program pendidikan yang dijalankan sekolah, termasuk proyek Traditional Day yang menempatkan pengalaman langsung dan pengenalan budaya sebagai bagian dari pembelajaran.
Baca Juga: Aset Negara Tak Bisa Sembarangan Dilepas, BPKAD Kaltim Beberkan Masalah Lahan KORPRI Loa Bakung
Melalui rangkaian kegiatan tersebut, sekolah berharap siswa tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi mampu berkembang sebagai pengolah sekaligus penyampai informasi. Mereka didorong untuk melihat lingkungan sekitar sebagai sumber cerita yang dapat diangkat secara kreatif, selama tetap berpegang pada fakta.
Kunjungan ke media pun menjadi salah satu cara untuk menunjukkan bahwa budaya tidak akan dikenal luas apabila tidak ada yang menceritakannya. Di era digital ketika arus informasi bergerak sangat cepat, kemampuan mengemas cerita daerah secara menarik menjadi semakin penting.
"Bagi para siswa, pengalaman tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa menjadi jurnalis tidak hanya tentang menulis berita. Ada proses mencari fakta, bertemu narasumber, melakukan observasi, mengambil gambar, menentukan angle, menyusun cerita dan memastikan informasi yang disampaikan kepada publik tetap akurat," ucapnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo