KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Penanganan longsor di Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan memasuki tahap akhir. Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan memastikan jalan penunjang mobilitas warga hanya tinggal melewati proses pengaspalan.
Selama proses perbaikan, tim lapangan tidak menghadapi kendala berarti. Cuaca cerah yang mendominasi wilayah Balikpapan dalam beberapa waktu terakhir sangat membantu percepatan penanganan struktur tanah.
“Karena memasuki musim kemarau, penanganan bisa berjalan maksimal. Berbeda jika turun hujan deras, tentu bisa menjadi hambatan,” kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Balikpapan Rita.
Baca Juga: Perbaikan Jalan Syarifuddin Yoes Balikpapan Hampir Rampung, Siap Dibuka Penuh
Saat ini, pengerjaan fisik di lapangan berjalan lancar dan telah mendekati penyelesaian. “Pekerjaan sudah mau selesai dan tinggal proses pengaspalan saja," ujar Rita.
Meski pengerjaan fisik hampir rampung, Rita belum bisa memastikan tanggal pasti pembukaan akses jalan yang menghubungkan wilayah Balikpapan Utara dan Balikpapan Selatan tersebut.
Mengingat operasional jalan masih menunggu proses uji kelayakan dan pemeriksaan dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Kalimantan Timur.
Baca Juga: Warna Warni Baju Adat Semarakkan Upacara HUT RI di RT 69 Graha Indah
"Status jalan tersebut berada di bawah kewenangan BBPJN Kaltim. Kami di Dinas PU Balikpapan bertugas membantu proses pembangunan. Nanti tim dari balai yang akan memeriksa kelayakannya terlebih dahulu," jelasnya.
Setelah tim BBPJN Kaltim melakukan serah terima teknis dan menyatakan kondisi jalan aman, jalur vital tersebut akan langsung dibuka kembali untuk lalu lintas umum.
Sebelum perbaikan permanen ini berjalan, penanganan lokasi longsor hanya mengandalkan pelapisan aspal sementara sejak 2024.
Dalam proyek penanganan permanen ini, Dinas PU Balikpapan memegang kendali pengerjaan fisik. Sedangkan perencanaan desain serta pengawasan teknis berada di bawah supervisi BBPJN Kaltim.
Langkah penanganan permanen ini diambil berdasarkan hasil analisis kondisi tanah di bawah badan jalan. Uji geolistrik dan pengeboran yang dilakukan BBPJN Kaltim menemukan adanya titik kejenuhan air pada kedalaman 4 hingga 5 meter di bawah permukaan.
Kondisi tanah basah tersebut teridentifikasi sebagai pemicu utama pergeseran tanah. Sumber rembesan air berasal dari kebocoran pipa jaringan PDAM yang tertanam di area tersebut. Guna mengatasi masalah dari akarnya, PDAM telah melakukan peremajaan dan penggantian pipa.
Untuk memperkuat daya dukung tanah sepanjang 80 meter, tim konstruksi memasang sedikitnya 100 tiang pancang (bored pile) dengan kedalaman mencapai 4 meter.
Selain itu, pengerjaan ini memanfaatkan material mortar busa (timbunan ringan) untuk meminimalkan beban pada struktur tanah yang tergolong labil. (*)
Editor : Duito Susanto