Sepuluh Tahun Tinggal di Rumah Jabuk, Warga Manggar Balikpapan Akhirnya Nikmati Program Bedah Rumah

Dina Angelina • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 14:53 WIB
RUMAH JABUK JADI LAYAK HUNI: Struktur bangunan rumah bantuan program RTLH 2026 milik Hendra Susanto di Manggar, Balikpapan Timur, kini sudah mencapai 75 persen, Kamis (20/8/2026). (ANGGI PRADITHA/KP)
RUMAH JABUK JADI LAYAK HUNI: Struktur bangunan rumah bantuan program RTLH 2026 milik Hendra Susanto di Manggar, Balikpapan Timur, kini sudah mencapai 75 persen, Kamis (20/8/2026). (ANGGI PRADITHA/KP)

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Program perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) 2026 dari Pemerintah Kota Balikpapan membawa angin segar bagi warga yang membutuhkan. Salah satu penerimanya adalah Hendra Susanto, warga Jalan Selili RT 42, Kelurahan Manggar, Balikpapan Timur.

​Berdasarkan pantauan langsung di lapangan pada Kamis (20/8/2026), proses renovasi rumah Hendra menunjukkan progres pesat. Struktur utama dan dinding dari bata ringan telah berdiri, lengkap dengan fasilitas dasar seperti jaringan listrik dan aliran air PDAM yang sudah terpasang.

Berprofesi sebagai tukang bangunan, Hendra memilih menggarap sendiri pembangunan rumahnya dengan dibantu sang anak. Langkah ini membuat seluruh bantuan dari pemerintah dapat dimaksimalkan penuh untuk pembelian bahan material.

Baca Juga: Program RTLH Balikpapan Targetkan 100 Rumah Layak Huni, Gandeng Swadaya Masyarakat

Saat ini fisik bangunan rumah sudah mencapai sekitar 75 persen. Dinding batu, kusen, hingga jendela telah terpasang rapi.

“Material bantuan diterima sekitar setengah bulan lalu. Kondisinya rumah sudah kita bongkar, begitu material datang, langsung kita kerjakan lagi,” ungkapnya.

Selama proses renovasi berlangsung, Hendra beserta keluarga menumpang sementara di rumah kerabat.

Baca Juga: Puluhan UMKM dan Pegiat Seni Budaya Lokal Bakal Ramaikan Bayan Craft Art Fest 2026

Sebelum tersentuh program RTLH, kondisi kediaman Hendra tergolong sangat memprihatinkan. Rumah berkonstruksi semipermanen yang ia huni selama satu dekade tersebut sudah mengalami kerusakan parah.

“Dinding kayu sudah lapuk (jabuk) dan atap sering mengalami kebocoran,” sebutnya. Material bantuan yang disalurkan meliputi batu, kayu, seng, semen, dan pasir sesuai dengan usulan awal.

Bantuan difokuskan pada bahan utama, sementara kekurangan material pendukung ditutupi secara mandiri oleh penerima bantuan. “Tanah tempat bangunan berdiri milik orang tua tapi sudah dihibahkan,” tuturnya.

Hendra optimistis proses pembangunan hunian barunya dapat rampung dalam waktu singkat tanpa harus menunggu hingga satu tahun, sehingga keluarganya bisa segera menempati rumah yang aman dan nyaman. (*)

Editor : Duito Susanto
RTLH Balikpapan pemkot balikpapan rumah tak layak huni