Hindari Kemacetan, Beli Pertalite di Balikpapan Bakal Tak Bisa Leluasa, Ini Rencana Jam Pelayanannya

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Kamis, 20 Agustus 2026 | 17:34 WIB
Antrean pertalite di SPBU Karang Anyar, Balikpapan. (FOTO AINUR ROFIAH/KP)
Antrean pertalite di SPBU Karang Anyar, Balikpapan. (FOTO AINUR ROFIAH/KP)

KALTIMPOST.ID-Antrean kendaraan untuk mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di sejumlah SPBU Balikpapan semakin panjang.

Selain membuat pengendara menunggu, antrean yang meluber hingga badan jalan mulai berdampak terhadap kelancaran lalu lintas.

Dinas Perhubungan (Dishub) Balikpapan pun menyiapkan skema untuk mengurai persoalan tersebut. Selain merencanakan lima titik penyaluran, waktu pelayanan BBM bersubsidi akan diatur agar tidak bertepatan dengan jam sibuk lalu lintas.

Kepala Dishub Balikpapan Muhammad Fadli Fathurrahman mengatakan, langkah tersebut akan dibahas lebih lanjut setelah pertemuan antara Pemkot Balikpapan, Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), serta PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan.

Baca Juga: Peluang Kerja Terbuka lewat Maganghub, Program Nasional, Kaltim Dapat Kuota 300 Peserta

“Insyaallah mungkin dalam waktu dekat, dua sampai tiga hari ke depan, kita akan rapat tindak lanjut terkait masalah penambahan kuota untuk BBM yang bersubsidi tersebut, khususnya untuk roda dua nanti,” ujar Fadli, Kamis (20/8).

Salah satu skema yang disiapkan adalah memperbanyak lokasi penyaluran BBM bersubsidi, terutama untuk kendaraan roda dua. Sedikitnya lima titik direncanakan tersebar di sejumlah wilayah Balikpapan.

Di Balikpapan Timur, dua titik direncanakan berada di kawasan Teritip dan Batakan. Sementara Balikpapan Utara mendapatkan dua titik yang direncanakan berada di kawasan Grand City dan Jalan MT Haryono, tepatnya sekitar depan Majesty.

Satu titik lainnya disiapkan di kawasan Kebun Sayur untuk melayani masyarakat di Balikpapan Barat.

Dishub juga membuka peluang bekerja sama dengan SPBU yang dikelola pengusaha lokal. Penambahan lokasi pelayanan diharapkan dapat menyebarkan kendaraan sehingga masyarakat tidak terkonsentrasi pada SPBU tertentu.

Dengan pola tersebut, antrean kendaraan yang selama ini berpotensi memanjang hingga badan jalan diharapkan dapat ditekan.

Selain memperluas titik penyaluran, pengaturan jam pelayanan menjadi strategi berikutnya. Dishub berupaya menghindari penyaluran BBM bersubsidi pada periode sibuk, terutama pagi hari ketika aktivitas masyarakat menuju tempat kerja dan sekolah meningkat.

Baca Juga: Bayan Open 2026 Kembali Digelar di Balikpapan, Jonatan Christie dan Hendra Setiawan Turun Gunung

“Pola yang kedua adalah kita akan mengatur jam nanti, jam-jam pelayanan untuk BBM yang bersubsidi. Sehingga tidak mengganggu aktivitas kepadatan lalu lintas,” jelasnya.

Dalam skema yang tengah dirancang, pelayanan BBM bersubsidi dibagi menjadi dua periode. Periode pertama pada pukul 09.00–12.00 Wita. Pelayanan kemudian dilanjutkan pada pukul 20.00–23.00 Wita.

Pengaturan tersebut diharapkan dapat menggeser aktivitas pengisian BBM dari jam-jam dengan volume lalu lintas tinggi. Dengan demikian, persoalan distribusi BBM bersubsidi tidak ikut memperbesar kemacetan di ruas jalan sekitar SPBU.

Fadli mengatakan, panjangnya antrean juga berkaitan dengan perubahan pola konsumsi BBM masyarakat. Sebagian pengguna kendaraan yang sebelumnya menggunakan pertamax disebut beralih ke pertalite.

Peralihan tersebut membuat jumlah kendaraan yang mengakses BBM bersubsidi meningkat. Ketika permintaan terkonsentrasi pada SPBU tertentu, antrean menjadi semakin panjang.

Kondisi itu terutama menjadi perhatian ketika antrean keluar dari area SPBU dan menggunakan sebagian badan jalan. Selain menghambat kendaraan lain, penumpukan kendaraan berpotensi menciptakan titik kemacetan baru.

Karena itu, penambahan lokasi pelayanan dan pengaturan waktu diarahkan untuk mengurai konsentrasi kendaraan.

Namun, penerapannya masih menunggu pembahasan lanjutan bersama pihak terkait, termasuk mengenai penambahan kuota BBM bersubsidi.

“Mungkin itu salah satu strategi kita dalam rangka untuk mengurai kemacetan yang kita lihat sampai hari ini sudah semakin panjang karena banyak masyarakat Kota Balikpapan yang sebelumnya menggunakan pertamax beralih ke pertalite,” pungkas Fadli.

Skema tersebut menempatkan persoalan antrean BBM tidak hanya sebagai isu ketersediaan dan distribusi bahan bakar, tetapi juga bagian dari pengelolaan lalu lintas kota.

Penyebaran titik pelayanan menjadi penting agar akses masyarakat terhadap BBM bersubsidi tidak menimbulkan persoalan baru di jalan raya. (rd)

Editor : Romdani.
Komjen Karyoto Komjen Fadil Imran mutasi Polri Agustus 2026 spbu 24 jam antre bbm