Tangani Kasus Bahu Beku hingga Drop Hand, Perdosni Kaltimtara Gelar Baksos Intervensi Nyeri Bantu 39

Dina Angelina • Dipublikasikan Senin, 24 Agustus 2026 | 17:42 WIB
BAKSOS: Tim dokter spesialis neurologi Perdosni Kaltimtara bersama pasien intervensi nyeri dalam kegiatan bakti sosial gratis di RS Pertamina Balikpapan, Minggu (23/8/2026). 
BAKSOS: Tim dokter spesialis neurologi Perdosni Kaltimtara bersama pasien intervensi nyeri dalam kegiatan bakti sosial gratis di RS Pertamina Balikpapan, Minggu (23/8/2026). 

BALIKPAPAN — Persatuan Dokter Spesialis Neurologi Indonesia (Perdosni) Kaltimtara menggelar bakti sosial (baksos) intervensi nyeri gratis di Klinik Nyeri Gedung A RS Pertamina Balikpapan (RSPB), Minggu (23/8/2026). Aksi ini dihadirkan sekaligus untuk membantu memangkas panjangnya antrean pasien BPJS Kesehatan di wilayah Kaltimtara.

Ketua Perdosni Kaltimtara, dr. Fajar Rudy Qimindra, Sp.N, CIPS, FIPP mengungkapkan bahwa kegiatan ini sekaligus  membantu masyarakat yang selama ini harus menunggu rujukan cukup lama.

"Ini lumayan membantu karena antrean BPJS cukup panjang. Jadi, sebagian pasien kita bantu penanganannya melalui baksos ini," kata dokter spesialis saraf dan intervensi nyeri tersebut.

Kegiatan bertema ‘Merdeka dari Saraf Kejepit di Hari Merdeka’ ini diisi dengan pelayanan medis intervensi nyeri bahu, lutut, drop hand & foot, hingga carpal tunnel syndrome (CTS). Agenda sosial ini digelar dalam rangka memperingati HUT ke-39 RSPB serta peringatan HUT ke-81 RI.

Meskipun tanpa dipungut biaya, panitia menerapkan skrining ketat. Penanganan diprioritaskan bagi pasien kriteria ringan hingga sedang yang dinilai efektif mendapatkan tindakan intervensi nyeri.

"Kita pilih pasien yang memang sesuai untuk tindakan intervensi nyeri. Termasuk kasus menarik rujukan dari dokter ortopedi dan dokter bedah saraf," jelasnya. 

Salah satu kasus yang ditangani adalah drop hand, yakni kondisi kelumpuhan pergelangan tangan yang kerap dipicu kecelakaan patah tulang lengan atas. Meski struktur tulang telah disambung, fungsi saraf belum dapat bergerak normal.

"Ciri-cirinya layu (keple) seperti stroke. Tadi ada dua pasien drop hand yang ditangani. Tindakan dilakukan melalui hidrodiseksi saraf untuk membebaskan jepitan," papar dr. Fajar.

Ia menambahkan, tindakan medis ini tidak cukup dilakukan sekali, melainkan membutuhkan 3 hingga 5 kali pengulangan setiap dua minggu hingga satu bulan.

"Prinsipnya meregenerasi dan membutuhkan pengulangan seperti memori. Dulu saraf bisa bergerak, dengan pengulangan ini kita ingatkan memorinya agar bisa bergerak kembali," terangnya.

Selain drop hand, tim medis banyak menangani kasus bahu beku (frozen shoulder). Kondisi yang sering terjadi mendadak ini membuat sendi tidak bisa digerakkan, misalnya akibat posisi tidur yang salah atau setelah mengangkat beban berat.

Untuk menangani kasus tersebut, dokter melakukan tindakan injeksi pada titik kendala di antara otot yang mengalami peradangan. Prosedurnya terbilang cepat, kurang dari 15 menit, dilanjutkan observasi kondisi pasien selama 15–30 menit.

Antusiasme masyarakat cukup tinggi dengan pendaftar mencapai lebih dari 50 orang. Namun, kuota terpaksa dibatasi menjadi 39 pasien sesuai dengan usia HUT RSPB. Melihat tingginya kebutuhan warga, Perdosni Kaltimtara merencanakan kegiatan serupa pada September atau November mendatang. (*)

Editor : Ismet Rifani
Perdosni Kaltimtara dr. Fajar Rudy Qimindra baksos intervensi nyeri gratis frozen shoulder RS PERTAMINA BALIKPAPAN