BMKG Ungkap Efektivitas Modifikasi Cuaca Kaltim, Dongkrak Hujan 30 Persen dan Redam Karhutla

Dina Angelina • Dipublikasikan Selasa, 25 Agustus 2026 | 09:59 WIB
MODIFIKASI CUACA: Tim gabungan bersiap melakukan penyemaian garam dari udara dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di langit Kalimantan Timur.  (IST)
MODIFIKASI CUACA: Tim gabungan bersiap melakukan penyemaian garam dari udara dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di langit Kalimantan Timur.  (IST)

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digencarkan Pangkalan TNI AU (Lanud) Dhomber Balikpapan bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) membuah hasil positif. Teknologi hujan buatan terbukti mampu meningkatkan total curah hujan alami di Kalimantan Timur hingga rata-rata 30 persen.

​Keberhasilan tersebut berdampak langsung pada peningkatan ketinggian air di Bendungan Sepaku Semoi, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), yang menjadi sumber air baku vital di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).

Baca Juga: Diabetes Tak Lagi Menunggu Tua, Gaya Hidup Jadi Alarm

​Ketua Tim Data dan Informasi Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan Huda Abshor Mukhsinin menjelaskan, peningkatan peluang curah hujan—khususnya di wilayah Sepaku—merupakan hasil kombinasi dari intervensi OMC dan kondisi cuaca lokal yang mendukung.

​"Penyemaian garam kemarin dilakukan tidak hanya di sekitar area bendungan, tetapi juga menjangkau perbatasan Kutai Barat dan Kutai Kartanegara. Alhamdulillah, hujan turun dan ketinggian air di bendungan ikut meningkat," ujar Huda.

​Selain berfokus pada pengisian pasokan air Bendungan Sepaku Semoi, misi OMC juga ditargetkan untuk memicu hujan di area rawan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), seperti di Kabupaten Berau.

Baca Juga: 20 Ide Kegiatan Maulid Nabi 2026 untuk TK hingga SMA, Edukatif dan Islami    

​Berdasarkan pemantauan pos curah hujan di Kaltim, hujan telah mengguyur sejumlah wilayah dengan intensitas ringan hingga sedang. Sebaran hujan tercatat mulai Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), Berau, kawasan barat laut Kutai Kartanegara (Kukar), hingga bagian barat-utara Kutai Timur. 

Hujan intensitas rendah juga terpantau di Kutai Barat bagian selatan, Kukar bagian barat daya, dan PPU bagian barat laut.

​"OMC mampu meningkatkan total curah hujan alami dengan rata-rata 30 persen. Parameter yang menjadi acuan sebenarnya cukup banyak, mulai pergerakan angin, kelembapan udara, hingga ketebalan awan," jelasnya.

Baca Juga: 20 Pantun Maulid Nabi Muhammad SAW 2026 yang Sarat Makna dan Menyejukkan Hati

​Langkah intensif itu dilakukan mengingat BMKG memprediksi fenomena El Nino masih berpotensi berlangsung hingga awal 2027. Meskipun Kaltim diperkirakan mulai memasuki musim hujan pada November 2026, upaya mitigasi tetap menjadi prioritas.

​"Peluang pengaruh El Nino pada periode tersebut memang tidak semasif saat puncak kemarau yang kita rasakan sekarang," tutup Huda. (*)

Editor : Dwi Restu A
efektivitas hujan bmkg kaltim modifikasi cuaca