KALTIMPOST.ID-Fenomena El Nino yang sangat kuat tahun ini berdampak terhadap peningkatan signifikan jumlah titik panas atau hotspot di Kaltim.
Sepanjang 1–24 Agustus 2026, jumlah hotspot tercatat lebih dari 35 persen dibandingkan periode El Nino sangat kuat pada 2015.
Ketua Bidang Data dan Informasi BMKG Balikpapan Huda Abshor Muhsinin mengatakan, kondisi tahun ini menunjukkan El Nino menjadi salah satu yang terkuat dalam tiga dekade terakhir.
“Dibandingkan tahun 2015, saat ini El Nino sudah memecahkan rekor sebagai El Nino yang sangat kuat dalam periode 30 tahun terakhir,” kata Huda kepada Kaltim Post, Selasa (25/8).
Baca Juga: Usai Makan Siang, Warga Manggar Balikpapan Diserang Parang, Terduga Pelaku Ditangkap di Gerbang Tol
Hingga 24 Agustus, jumlah hotspot di Kaltim telah mencapai lebih dari 13.500 titik. Angka tersebut masih berpotensi bertambah hingga akhir bulan. Konsentrasi hotspot terbanyak terpantau di Berau, Kutai Timur, dan Kutai Kartanegara.
Huda menegaskan, hotspot tidak serta-merta menunjukkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Dalam pemantauan citra satelit, hotspot merupakan titik yang memiliki suhu lebih tinggi secara signifikan dibandingkan lingkungan sekitarnya.
“Titik panas bisa terjadi akibat kebakaran, bisa juga akibat batu bara, pantulan panas dari atap, dan lain sebagainya,” ujarnya.
Potensi peningkatan hotspot masih perlu diwaspadai. Sebab, puncak El Nino diproyeksikan terjadi pada September hingga Oktober.
Fenomena tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga awal 2027, meski intensitasnya mulai menurun pada Desember hingga Februari.
Baca Juga: Bayan Craft Art Fest 2026 Resmi Dibuka di Balikpapan, 83 UMKM Ramaikan Festival Selama Tujuh Hari
Di tengah kondisi tersebut, operasi modifikasi cuaca (OMC) terus dilakukan untuk meningkatkan curah hujan, khususnya di wilayah Ibu Kota Nusantara (IKN).
Salah satu sasarannya meningkatkan kembali debit air Waduk Sepaku Semoi yang mengalami penyusutan.
Menurut Huda, OMC telah dilakukan sekitar enam kali. Penyemaian sebelumnya dilakukan ketika awan bergerak dari pesisir Balikpapan menuju Sepaku.
“Alhamdulillah, kemarin berhasil turun hujan di sekitar wilayah Sepaku dan sudah meningkatkan tinggi air di daerah aliran sungainya,” katanya.
Hujan yang terjadi di Balikpapan juga disebut salah satunya dipengaruhi OMC. Operasi tersebut ditujukan meningkatkan curah hujan alami rata-rata sekitar 30 persen.
Sebagai gambaran, apabila potensi hujan alami menghasilkan curah hujan 10 milimeter, melalui OMC curah hujan diharapkan meningkat menjadi sekitar 13 milimeter. (rd)
Editor : Romdani.