BALIKPAPAN – Meningkatnya aktivitas wisata di Kawasan Wisata Tanjung Gading KM 12 membawa persoalan baru. Volume sampah yang dihasilkan pengunjung terus bertambah, sementara fasilitas pengelolaan sampah di kawasan tersebut masih terbatas.
Kondisi itu mendorong mahasiswa Institut Teknologi Kalimantan (ITK) mencari solusi yang bisa diterapkan langsung di lapangan. Terlebih, keterbatasan daya tampung Tempat Pemrosesan Akhir Sampah (TPAS) Manggar membuat pengurangan dan pengolahan sampah sejak dari sumber menjadi semakin penting.
Melalui Program Mahasiswa Mengabdi Desa (PMMD), mahasiswa dari Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Teknik Sipil, serta Teknik Logistik menghadirkan sistem pengelolaan sampah terpadu dengan memanfaatkan insinerator sederhana. Program ini dibimbing oleh tim dosen yang diketuai oleh Fathiyah Rahmi Hidayat, S.T., M.P.W.K.
Program tersebut diawali dengan observasi kondisi eksisting dan diskusi bersama pengelola kawasan wisata. Dari proses tersebut diketahui bahwa sampah selama ini masih dikelola secara konvensional, yakni dikumpulkan kemudian diangkut keluar kawasan tanpa pengolahan di lokasi.
Baca Juga: Kolaborasi Tim EcoBoo dari ITK Bersama Komunitas Lokal, Sulap Bambu Jadi Produk Berstandar
Pola tersebut dinilai berpotensi menimbulkan penumpukan sampah, terutama ketika volume sampah meningkat seiring aktivitas wisata.
Rancang Insinerator Double Barrel
Sebagai tindak lanjut, mahasiswa merancang dan membangun insinerator sederhana berbasis sistem double barrel. Perangkat tersebut dilengkapi ruang pembakaran, ventilasi, cerobong asap, serta komponen keamanan dasar.
Rancangan dibuat dengan mempertimbangkan kebutuhan pengelola. Selain mudah digunakan, alat tersebut diupayakan terjangkau dari sisi perawatan dan dapat membantu mengurangi volume sampah residu di kawasan wisata.
Setelah pembangunan selesai, insinerator diuji langsung di lapangan untuk mengetahui kinerja dan fungsinya. Berdasarkan hasil uji coba, alat dapat berfungsi sesuai rancangan dan dinyatakan siap digunakan oleh pengelola.
Namun, program tidak berhenti pada penyediaan teknologi. Mahasiswa juga memberikan pendampingan kepada pengelola melalui edukasi mengenai pengelolaan sampah terpadu, tata cara penggunaan insinerator, hingga perawatan alat.
Pendampingan tersebut diarahkan agar teknologi yang diberikan tidak sekadar menjadi fasilitas tambahan, tetapi dapat dioperasikan secara mandiri dan berkelanjutan dalam aktivitas sehari-hari.
Kehadiran insinerator sederhana diharapkan membantu pengelola mengurangi volume sampah yang harus dibawa keluar kawasan sekaligus menekan praktik pembakaran sampah secara langsung di lahan terbuka.
Bagi kawasan Wisata Tanjung Gading KM 12, penerapan teknologi tepat guna ini menjadi salah satu langkah awal untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif. Dengan pengelolaan yang lebih baik, kebersihan dan kenyamanan kawasan wisata diharapkan tetap terjaga tanpa mengabaikan aspek lingkungan.