KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Di atas kertas, menanam mangrove terdengar sederhana. Bibit ditanam, kemudian dirawat sampai tumbuh. Namun, bagi Agus Bei, persoalannya jauh lebih rumit ketika lokasi yang hendak dihijaukan merupakan pantai terbuka dengan elevasi rendah, substrat pasir dan hantaman gelombang.
Di lokasi seperti itu, bibit mangrove tidak cukup hanya ditanam. Ia harus dibuat mampu bertahan. Persoalan tersebut menjadi awal perjalanan panjang Agus mengembangkan inovasi teknik penanaman mangrove, termasuk metode Kantong Lumpur GB dan Buispot GB. Keduanya lahir bukan dari sekali percobaan, melainkan dari rangkaian trial and error.
"Untuk melakukan suatu inovasi pasti perlu pengorbanan. Nggak ada yang tidak. Untuk melakukan suatu keberhasilan tanpa ada perjuangan dan pengorbanan, nggak ada," kata Agus.
Sebelum menemukan kantong lumpur, Agus mencoba berbagai material. Goni, besek, bambu, pipa hingga material lain dicoba untuk mencari wadah yang mampu membuat bibit bertahan lebih lama.
Baca Juga: HUT Ke-50 Sekolah KPS Balikpapan, IKA Alumni Resmi Terbentuk Dipimpin Adam Dustin Bhakti
Masalahnya, bibit membutuhkan waktu adaptasi cukup panjang sebelum mampu menghadapi kondisi ekstrem di pesisir. Agus bahkan menyebut dirinya membutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk mempersiapkan bibit agar lebih siap ketika akhirnya ditanam di lapangan.
"Rata-rata lebih daripada tujuh bulan dipertahankan itu pasti mati kalau tidak cepat ditanam. Saya butuh bukan hanya tujuh bulan, tapi sekitar dua tahun," ujarnya.
Dari percobaan tersebut kemudian muncul konsep Kantong Lumpur GB. Metode ini menggunakan media lumpur dan kantong planter bag, untuk membantu mempertahankan akar dan membuat tanaman memiliki ruang tumbuh yang lebih sesuai dengan karakter pesisir.
Agus menyebut metode tersebut mulai dikembangkan di Balikpapan dan telah diterapkan di sejumlah lokasi, termasuk kawasan sekolah hingga kawasan Kampung Atas Air. "Kenapa saya harus pakai lumpur? Karena memang lumpur itu mampu mengikat akar. Kalau pasir, tidak akan bisa," sebutnya.
Baca Juga: Sound Artist Asal Samarinda Rilis Album Bareng Eks Drummer Sepultura
Namun, inovasi tidak berhenti di sana. Agus kemudian menghadapi persoalan berbeda ketika berhadapan dengan gelombang besar. Metode rumpun berjarak yang sebelumnya digunakan ternyata tidak selalu efektif. Ia mengeluarkan biaya puluhan juta rupiah untuk percobaan tersebut.
"Biaya itu, rumpun berjarak itu Rp 30 juta sampai Rp 40 juta habis, tapi apa saya menyesal? Tidak, saya terus cari solusinya," ungkapnya. Ketika gelombang besar datang, struktur tersebut ikut terdorong karena pasir tidak memiliki kemampuan mengikat yang cukup kuat. Agus sempat mencoba menggunakan gorong-gorong. Hasilnya kembali tidak sesuai harapan.
Dari pengamatan tersebut lahirlah rancangan Buispot GB dengan konstruksi bagian dasar menyerupai konsep "cakar ayam". Buispot kemudian tidak hanya dirancang sebagai tempat tumbuh mangrove. "Pertama, sebagai peredam gelombang atau penguatan. Kedua, sebagai media tanam. Yang ketiga adalah sebagai pemecah. Jadi punya fungsi multiganda," jelasnya.
Dalam proses tersebut, Agus menempatkan kegagalan sebagai bagian dari penelitian lapangan. Ia bahkan menegaskan, sebelum sebuah metode diberikan kepada orang lain, dirinya harus terlebih dahulu menanggung risiko kegagalan.
"Kalau orang mencoba pada saat sudah selesai, silakan saja. Tapi kan tidak sama dengan yang sudah melakukan proses," ujarnya. Kini, hasil eksperimen tersebut telah berkembang dan diterapkan di sejumlah wilayah. Agus menyebut metode Kantong Lumpur GB telah dilakukan sejak 2018, sedangkan ekspansi keluar Balikpapan mulai dilakukan pada 2023.
Baca Juga: Protes Harga Tiket Naik, Pusamania Tegaskan Boikot Pertandingan Pembuka di Segiri
Baginya, keberhasilan restorasi bukan ditentukan oleh seberapa banyak bibit yang ditanam. "Yang benar bukan lagi bertanya seberapa banyak kamu menanam, tapi seberapa banyak yang sukses dari yang kalian tanam," ucapnya.
Pesan itu sekaligus menjadi kritik terhadap pola rehabilitasi yang hanya mengejar angka penanaman. Sebab, bagi Agus, satu bibit yang hidup dan tumbuh optimal jauh lebih berarti daripada ribuan bibit yang hanya selesai ditanam dalam sebuah seremoni. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo