Khawatir Mangrove Balikpapan Tinggal Cerita, Agus Bei Ingatkan Ancaman Bencana Pesisir

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:03 WIB
UJI COBA: Agus Bei mengembangkan berbagai metode penanaman mangrove melalui serangkaian percobaan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan restorasi pesisir. FUAD MUHAMMAD/KP
UJI COBA: Agus Bei mengembangkan berbagai metode penanaman mangrove melalui serangkaian percobaan untuk meningkatkan tingkat keberhasilan restorasi pesisir. FUAD MUHAMMAD/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Mangrove bagi Agus Bei bukan sekadar kumpulan pohon yang tumbuh di tepian laut. Melainkan sebagai "anak". "Ada ikatan antara saya dan mangrove, mereka itu seolah berbicara dengan saya. Dan betapa bahagianya saya melihat kucup daun-daun hijau itu tumbuh seolah bertasbih," ucapnya.

Karena itu, ketika kawasan mangrove mulai dibuka dan dialihfungsikan, Agus tidak hanya melihat hilangnya pepohonan. Ia melihat hilangnya perlindungan alami bagi kota.

Ia mengingat kembali kondisi yang dilihatnya pada 2001. Mangrove mulai terdesak oleh pembukaan lahan untuk permukiman, perusahaan, aktivitas budidaya hingga pembangunan kawasan pesisir. "Kerusakan mangrove ini yang pertama adalah alih fungsi. Pembukaan lahan, baik untuk pemukiman maupun juga perusahaan," katanya.

Tekanan tersebut, menurut Agus, semakin besar ketika pertumbuhan kota dan populasi manusia meningkatkan kebutuhan terhadap lahan. Persoalan menjadi lebih kompleks ketika wilayah pesisir ikut menjadi objek penguasaan lahan.

Baca Juga: Mengenal Inovasi Buispot Agus Bei, Cara Jitu Bikin Mangrove Tahan Hantaman Gelombang Pesisir

"Kalau beli tanah di pinggir pantai, pantainya pun diklaim. Ini perlu diantisipasi dengan regulasi. Ini harus diseriusi," ujarnya. Agus kemudian menghubungkan kondisi tersebut dengan kejadian yang pernah terjadi di sekitar Graha Indah.

Pada 2001, angin puting beliung dan kenaikan air menjadi salah satu pengalaman yang membuatnya semakin memahami fungsi mangrove. Mangrove, menurut dia, memiliki kemampuan menahan sedimen sekaligus membantu mencegah abrasi. "Mangrove ini adalah bertahannya sedimen, tangkapan sedimen atau mencegah daripada abrasi," tuturnya.

Namun, tantangan terbesar justru muncul ketika mangrove berada di luar kawasan hutan yang memiliki mekanisme perlindungan berbeda. Agus menyoroti persoalan pengawasan dan regulasi terhadap kawasan pesisir yang berada di luar kawasan hutan.

Menurutnya, aturan mengenai persentase ruang hijau tidak akan banyak berarti apabila tidak diikuti pengawasan yang kuat. Kekhawatiran itu semakin besar karena menurut Agus, lahan untuk rehabilitasi di daratan juga semakin terbatas.

Baca Juga: Protes Harga Tiket Naik, Pusamania Tegaskan Boikot Pertandingan Pembuka di Segiri

"Dulu Kalimantan disebut sebagai paru-paru dunia, namun sekarang ungkapan itu tidak lagi berlaku," tegasnya. Apalagi, di tengah udara yang semakin panas dan ancaman emisi gas rumah kaca yang terus menjadi perhatian dunia, sebuah benteng hijau tumbuh diam-diam di tepian pesisir.

Ia tidak berdiri dengan beton. Tidak membutuhkan mesin. Hanya berupa pepohonan yang akarnya mencengkeram lumpur, berhadapan langsung dengan pasang, gelombang dan perubahan lingkungan.

Itulah mangrove. Bagi Agus, di balik rimbunnya vegetasi pesisir itu terdapat fungsi ekologis yang jauh lebih besar, termasuk dalam persoalan karbon dan perubahan iklim. “Kenapa saya melakukan konsen kepada mangrove? Karena mangrove adalah serapan karbon tercepat,” ujar Agus.

Ia melihat persoalan lingkungan saat ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya emisi dan konsentrasi gas rumah kaca. Ketika hutan daratan terus mengalami tekanan akibat eksploitasi sumber daya, mangrove menjadi salah satu ekosistem yang menurutnya semakin penting untuk dipertahankan. “Sekarang orang dunia internasional itu ingin selalu menanam mangrove,” katanya.

Bukan tanpa alasan. Menurut Agus, Indonesia memiliki posisi penting karena masih memiliki ekosistem mangrove yang dapat menjadi bagian dari upaya restorasi. Sementara untuk mengembalikan hutan daratan yang telah rusak menjadi ekosistem seperti semula, prosesnya dapat membutuhkan waktu sangat panjang.

“Untuk memulihkan jadi hutan perlu ratusan tahun. Jadi berapa generasi sudah hilang,” tuturnya. Karena itu, Agus memilih memusatkan perjuangannya pada mangrove. Baginya, menjaga kawasan pesisir bukan sekadar menyelamatkan pohon. Ada persoalan iklim yang lebih besar di belakangnya.

Baca Juga: Pasar Otomotif Kian Bergairah, Suzuki Apresiasi Tujuh Pembeli Pertama XL7 Hybrid di Balikpapan

Ketika tutupan hutan berkurang, kemampuan ekosistem dalam menyerap karbon juga ikut terancam. Sebaliknya, mempertahankan mangrove berarti mempertahankan salah satu ruang ekologis yang berfungsi menyimpan karbon.

“Kalau tidak ada hutan, ya cukup berbahaya karena di situ akan terperangkap daripada saking kepekatan daripada asap apalagi di tengah kondisi Karhutla sekarang,” tuturnya.

Baginya, hutan tidak dapat dipisahkan dari kualitas kehidupan manusia. Kerusakan hutan bukan hanya persoalan hilangnya pohon. Dampaknya dapat menjalar pada udara, iklim, pesisir hingga kesehatan manusia.

Karena itulah, ia tidak ingin gerakan menanam mangrove berhenti pada seremoni. Ribuan bibit yang ditanam tidak akan berarti apabila sebagian besar kemudian mati. Sebab, bagi Agus, menanam mangrove bukan hanya tentang menghijaukan pesisir hari ini. Ada pekerjaan ekologis yang jauh lebih panjang.

Baca Juga: 700 BUMN Siap Disuntik Mati Akhir 2026, Prabowo Incar Hemat Anggaran Rp 100 Triliun!

Pohon yang tumbuh hari ini akan menjadi bagian dari benteng pesisir pada masa mendatang. Ia membantu menjaga sedimen, menahan tekanan gelombang, sekaligus menjadi bagian dari ekosistem yang menyimpan karbon.

Dan di tengah ancaman perubahan iklim, keberadaan benteng hijau itu semakin penting. Agus pun mengingatkan bahwa menjaga lingkungan tidak seharusnya menunggu datangnya program atau anggaran. “Jangan menunggu kita harus ada bantuan baru melakukan aksi,” katanya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Hutan Mangrove Balikpapan Mangrove Graha Indah Konservasi Lingkungan Kaltim Agus Bei perubahan iklim