KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Ada satu kegelisahan yang terus mengikuti perjalanan Agus Bei setelah 25 tahun menjaga mangrove: siapa yang akan meneruskan ketika dirinya tidak lagi mampu turun ke lapangan? Pertanyaan itu terasa semakin nyata setelah usianya memasuki 58 tahun.
Agus memulai perjalanan konservasinya pada 2001. Kala itu, ia tidak pernah membayangkan akan menjalani perjuangan lingkungan selama puluhan tahun, apalagi menerima penghargaan Kalpataru Nasional kategori Perintis pada 2017 dan kemudian menatap kategori Lestari pada 2026.
Tetapi waktu justru memperlihatkan satu hal, konservasi tidak selesai hanya karena sebuah penghargaan telah diterima. "Kalpataru bukan akhir dari proses," tegas Agus.
Ia bahkan mengaku, jika dapat kembali ke masa lalu, dirinya mungkin akan memulai lebih awal dan memperluas gerakan konservasi. "Kalau saya flashback kembali, kalau sudah tahu mau jadi begini, mungkin saya lakukan lebih awal lagi. Menurut saya, saya pun cukup telat," timpalnya.
Baca Juga: Khawatir Mangrove Balikpapan Tinggal Cerita, Agus Bei Ingatkan Ancaman Bencana Pesisir
Agus menilai tantangan generasi muda saat ini bukan lagi sekadar bagaimana membuat seseorang tertarik pada lingkungan. Tantangannya adalah bagaimana kepedulian itu bertahan. "Kalau sekadar cinta alam, semua pun bisa. Jangankan anak muda, orang tua pun juga bisa. Tapi konsistensi," katanya.
Karena itu, ia tidak ingin kegiatan konservasi berhenti pada seremoni penanaman. Menurut Agus, banyak orang mampu menanam satu atau dua bibit. Tetapi persoalan sesungguhnya muncul setelah kegiatan selesai: siapa yang merawat, siapa yang memantau, dan berapa banyak yang akhirnya tumbuh ?. "Kalau sekadar menanam, persoalannya gampang. Tapi keberlanjutannya?" ujarnya.
Pandangan tersebut lahir dari pengalaman langsung. Selama bertahun-tahun, Agus belajar bahwa bibit yang benar, lokasi yang tepat, pola tanam, metode dan pemeliharaan harus menjadi satu kesatuan.
Satu saja keliru, hasilnya bisa berbeda. Ia kemudian membawa pengetahuan tersebut ke berbagai daerah, tidak hanya di Kalimantan Timur. Materi wawancara menyebut penerapan dan pembelajaran metodenya telah berkembang ke sejumlah wilayah di Kalimantan hingga Jawa dan Bali.
Baca Juga: Mengenal Inovasi Buispot Agus Bei, Cara Jitu Bikin Mangrove Tahan Hantaman Gelombang Pesisir
Perjalanan tersebut juga membuat Mangrove Center Graha Indah menjadi ruang belajar. Masyarakat, komunitas, mahasiswa hingga akademisi datang untuk melihat langsung bagaimana restorasi dilakukan. Bagi Agus, proses transfer pengetahuan sama pentingnya dengan menanam pohon.
Sebab, ia menyadari bahwa kawasan yang dijaganya tidak boleh bergantung selamanya kepada satu orang. "Semasa hari generasi ini, siapa yang bisa mempertahankan?" katanya.
Pertanyaan itu sekaligus menjadi pekerjaan berikutnya. Penghargaan Kalpataru kategori Perintis pada 2017 telah menjadi penanda atas perjalanan awalnya. Jika Kalpataru Lestari 2026 menjadi babak berikutnya, maka makna terbesar dari perjalanan itu bukanlah piala.
Melainkan apakah setelah Agus tidak lagi berada di lapangan, masih ada orang yang mau berdiri di lumpur, memeriksa bibit, membaca elevasi, menghadapi gelombang dan kembali menanam ketika tanaman sebelumnya mati.
Sebab, bagi Agus, menjaga lingkungan bukan tentang menunggu penghargaan. "Jangan karena suatu reward," ucap Agus. Yang jauh lebih penting adalah memastikan amanah itu tetap hidup.
Dari 2001, 2017 hingga 2026, perjalanan Agus Bei pada akhirnya bukan hanya tentang seorang lelaki dan hutan mangrove. Ini tentang konsistensi. Tentang bagaimana satu kepedulian kecil dapat tumbuh menjadi pengabdian panjang dan bagaimana pengabdian itu harus diwariskan sebelum generasi yang memulainya benar-benar pergi.
Baca Juga: Protes Harga Tiket Naik, Pusamania Tegaskan Boikot Pertandingan Pembuka di Segiri
Dan kini, seperempat abad setelah memulai langkahnya pada 2001, Agus masih berada di tempat yang sama: menjaga mangrove. Bedanya, persoalan yang dahulu mungkin hanya terlihat sebagai kerusakan pesisir, kini telah menjadi bagian dari persoalan global, emisi karbon, perubahan iklim dan keberlanjutan generasi mendatang.
Mangrove yang dahulu dianggap hanya pohon di pinggir laut, kini memiliki cerita yang jauh lebih besar. Ia adalah hutan yang berdiri di batas darat dan laut. Dan bagi Agus Bei, selama pohon-pohon itu masih tumbuh, masih ada salah satu harapan untuk menjaga udara, pesisir dan kehidupan tetap memiliki ruang bernapas.
"Mangrove itu legacy, warisan yang harus tetap hidup dimasa-masa mendatang," pungkasnya dengan mata sembari penuh harap dan pesan kepada generasi muda. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo