Pernah Dianggap Gila, Agus Bei Buktikan dengan Raih Kalpataru Dua Kali

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:12 WIB
PERINTIS KONSERVASI: Agus Bei memulai upaya penyelamatan mangrove secara mandiri sejak 2001. Konsistensinya mengantarkan dia meraih Kalpataru pada 2017 dan kembali mendapat penghargaan pada 2026. FUAD MUHAMMAD/KP
PERINTIS KONSERVASI: Agus Bei memulai upaya penyelamatan mangrove secara mandiri sejak 2001. Konsistensinya mengantarkan dia meraih Kalpataru pada 2017 dan kembali mendapat penghargaan pada 2026. FUAD MUHAMMAD/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tidak ada buku panduan, gelar akademik ataupun latar belakang khusus lingkungan yang mengantar Agus Bei masuk ke dunia konservasi mangrove. Semuanya bermula dari kepedulian sederhana yang kemudian berubah menjadi perjalanan panjang selama lebih dari dua dekade.

Pada 2001, Agus mulai melihat kerusakan kawasan pesisir di sekitar Graha Indah, Balikpapan. Mangrove yang seharusnya menjadi benteng alami pesisir justru terus terdesak oleh pembukaan lahan, permukiman, aktivitas usaha hingga tekanan penguasaan lahan.

Dari kondisi itu, muncul satu pertanyaan sederhana, "jika kerusakan dibiarkan, siapa yang akan memulihkannya?" Agus memilih turun langsung. "Sebenarnya kita tidak bisa hanya memandang, saya mau peduli. Namanya peduli bukan hanya kalimat yang diucapkan, tapi harus dengan aksi," ucap Agus saat diwawancarai di area edukasi Mangrove Center Graha Indah, Jumat (4/9).

Keputusan tersebut tidak langsung mendapat dukungan. Bahkan, pada masa awal perjuangannya, Agus mengaku sempat dianggap melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Orang menyebutnya gila. Namun, ia memilih tidak menjadikan anggapan tersebut sebagai alasan untuk berhenti.

Baca Juga: Kisah Agus Bei di Mangrove Graha Indah Balikpapan, Kritik Aksi Tanam Pohon yang Cuma Seremoni

"Saya tidak pernah sakit hati tentang itu. Saya membuktikan. Ketika membuktikan, sekarang baru diikuti orang banyak. Yang jelas saya fokus dan konsisten," ujarnya.

Konsistensi itu tidak lahir dari kondisi ideal. Pada tahap awal, Agus mengandalkan biaya pribadi untuk menjalankan berbagai percobaan. Jatuh bangun dan berdarah. Ia mencoba berbagai cara untuk mengetahui bagaimana mangrove dapat bertahan di lingkungan pesisir yang ekstrem. Baginya, menanam bukan sekadar memasukkan bibit.

Ia justru belajar dari kegagalan. Setiap bibit yang mati menjadi bahan evaluasi. Setiap tanaman yang tumbuh menjadi petunjuk untuk menemukan metode yang lebih tepat. "Saya tidak punya basic tentang lingkungan, tidak punya basic tentang hutan, tidak punya basic tentang tanaman. Tetapi saya punya kepedulian tentang itu," katanya.

Dari proses tersebut, Agus menemukan bahwa karakter setiap lokasi berbeda. Elevasi tanah, substrat, gelombang dan kondisi pasang surut menjadi faktor penting yang menentukan keberhasilan penanaman.

Baca Juga: Khawatir Mangrove Balikpapan Tinggal Cerita, Agus Bei Ingatkan Ancaman Bencana Pesisir

Ia kemudian mempelajari zonasi mangrove dan menjadikan kondisi lapangan sebagai semacam laboratorium terbuka. "Setiap topografi berbeda, berbeda juga perlakuannya. Saya pelajari semua itu. Tapi belajar kepada alam," ujarnya.

Perjalanan panjang itu kemudian mengantarkan Agus meraih Kalpataru Nasional kategori Perintis pada 2017. Penghargaan tersebut tidak ia anggap sebagai garis akhir. Justru sebaliknya, penghargaan itu menjadi pengingat bahwa pekerjaan konservasi masih panjang.

Kini, sembilan tahun setelah penghargaan tersebut, perjalanan Agus kembali menuju babak baru melalui Kalpataru Nasional kategori Lestari 2026. Menjadikan ia satu-satunya orang pertama di Kaltim yang menerima dua kali menerima penghargaan itu.

Bagi Agus, kategori Lestari memiliki makna berbeda. Jika penghargaan Perintis merupakan pengakuan atas langkah awal, maka Lestari menjadi simbol konsistensi menjaga apa yang telah dimulai. "Kalpataru bukan akhir dari proses," tegasnya.

Baginya, penghargaan boleh datang dan pergi. Yang jauh lebih penting adalah memastikan mangrove tetap hidup, pesisir tetap terlindungi dan pengetahuan tentang konservasi dapat diteruskan kepada generasi berikutnya.

"Jangan karena suatu reward. Ketika reward itu diharap, tidak dapat reward di belakang, justru kecewa. Jangan semata-mata karena reward saja," katanya.

Baca Juga: Mengenal Inovasi Buispot Agus Bei, Cara Jitu Bikin Mangrove Tahan Hantaman Gelombang Pesisir

25 tahun setelah langkah pertama pada 2001, Agus masih memilih jalan yang sama, lumpur, pasang surut, bibit, kegagalan, inovasi dan konsistensi. Bukan mengejar penghargaan berikutnya, melainkan menjaga amanah yang telah dimulai. "Mangrove itu legacy, warisan yang harus tetap hidup di masa-masa mendatang," pungkasnya (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Konservasi Mangrove Balikpapan Kalpataru Kaltim kerusakan pesisir Mangrove Center Graha Indah Agus Bei