Cuaca Ekstrem Ancam Pasokan Pangan Balikpapan-PPU, Harga Ikan hingga Cabai Mulai Naik

Muhammad Taufik • Dipublikasikan Sabtu, 5 September 2026 | 18:48 WIB
Harga keperluan pangan naik. (FOTO M TAUFIK/KP)
Harga keperluan pangan naik. (FOTO M TAUFIK/KP)

KALTIMPOST.ID-Ancaman terhadap pasokan pangan Balikpapan dan Penajam Paser Utara (PPU) belum berakhir.

Ketika tekanan harga mulai mereda pada Agustus 2026, kemarau dan gelombang laut tinggi justru mulai memengaruhi produksi pertanian hingga hasil tangkapan nelayan.

Kondisi tersebut perlu diwaspadai karena dapat mengurangi pasokan dan kembali mendorong harga pangan.

Apalagi, Balikpapan dan PPU masih bergantung pada pasokan sejumlah komoditas dari luar daerah.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan Robi Ariadi mengatakan, puncak musim kemarau pada triwulan III, potensi El Nino yang lebih kuat, serta meningkatnya permintaan pangan menjadi risiko inflasi ke depan.

“Ke depannya, risiko inflasi masih berasal dari puncak musim kemarau pada triwulan ketiga, potensi El Nino yang lebih kuat, serta meningkatnya permintaan pangan seiring akselerasi operasional SPPG,” kata Robi, Sabtu (5/9).

Baca Juga: Natasya Modelling School Genap 9 Tahun, 50 Anak Balikpapan-PPU Unjuk Kemampuan di Gebyar Kita

Dampaknya mulai terlihat pada sejumlah komoditas. Di Balikpapan, harga ikan layang meningkat setelah hasil tangkapan nelayan di perairan Balikpapan dan sekitarnya berkurang.

Penurunan tangkapan terjadi seiring periode ikan pelagis kecil yang mulai berakhir pada triwulan III 2026, ditambah kondisi gelombang laut tinggi.

Tekanan juga datang dari sektor pertanian. Harga kacang panjang naik karena produksi dan pasokan petani lokal berkurang akibat cuaca kering.

Cabai rawit, jagung manis, dan ketimun ikut mengalami kenaikan setelah pasokan dari Jawa dan Sulawesi menurun akibat kemarau.

“Tekanan harga masih muncul meskipun secara umum Balikpapan mengalami deflasi,” ujar Robi.

Balikpapan mencatat deflasi 0,03 persen secara bulanan atau month to month (mtm) pada Agustus 2026.

Namun, kelompok makanan, minuman, dan tembakau justru memberikan andil inflasi terbesar, yakni 0,18 persen.

Baca Juga: Mahligai Nusantara 2026 Hadirkan Fentura Pop di Balikpapan, Targetkan 20 Ribu Transaksi QRIS

Kondisi tersebut menunjukkan penurunan indeks harga secara umum belum otomatis diikuti penurunan harga seluruh bahan pangan.

Tekanan lebih besar terjadi di PPU. Daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN) tersebut mencatat inflasi 0,52 persen secara bulanan. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil terbesar mencapai 0,41 persen.

Daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, pemeliharaan atau service, dan buncis menjadi beberapa komoditas pendorong inflasi.

Harga daging ayam ras meningkat akibat terbatasnya pasokan ayam beku dari Jawa serta ayam segar dari PPU dan daerah sekitarnya. Kenaikan biaya pakan turut menambah tekanan terhadap harga.

“Keterbatasan pasokan dan kenaikan biaya produksi menjadi kombinasi yang mendorong kenaikan harga daging ayam ras,” jelas Robi.

Cuaca laut juga memberikan tekanan. Gelombang tinggi mengurangi hasil tangkapan nelayan sehingga pasokan ikan tongkol di PPU menurun.

Sementara harga cabai rawit dan buncis naik akibat berkurangnya pasokan dari Jawa dan Sulawesi selama kemarau.

Namun, pergerakan harga tidak seluruhnya mengarah naik. Sejumlah komoditas justru mengalami penurunan ketika pasokan bertambah.

Baca Juga: Tamu Hotel di Balikpapan Makin Singkat Menginap, BPS Dorong Event Lokal hingga Internasional

Di Balikpapan, harga bawang merah dan tomat turun setelah pasokan dari daerah sentra produksi, terutama Jawa dan Sulawesi, meningkat memasuki masa panen.

Pasokan kangkung dari petani lokal juga bertambah. Kondisi cuaca yang lebih kering membuat tanaman lebih subur sekaligus mengurangi risiko kerusakan akibat genangan.

Di PPU, penurunan harga terjadi pada tomat, bawang merah, ikan layang, kelapa, dan bawang putih.

Harga ikan layang turun karena hasil tangkapan nelayan masih tinggi seiring migrasi ikan pelagis kecil ke perairan PPU.

Kelapa ikut turun setelah pasokan petani lokal bertambah. Sementara bawang putih mengalami penurunan harga setelah pasokan impor meningkat dan distribusinya lebih lancar.

Dinamika tersebut membuat kesinambungan pasokan menjadi kunci menjaga harga. Terlebih, gangguan produksi pada daerah pemasok dapat langsung berpengaruh terhadap ketersediaan komoditas di pasar Balikpapan dan PPU.

Robi mengatakan Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Balikpapan dan PPU terus menjaga pasokan dan distribusi melalui Gerakan Pangan Murah (GPM), Pasar Murah, Operasi Pasar, serta Kerja Sama Antardaerah (KAD).

“Langkah pengendalian harus dilakukan untuk menjaga kesinambungan pasokan sekaligus antisipasi dampak El Nino terhadap daerah sentra produksi,” katanya.

Hingga Agustus, TPID Balikpapan telah menggelar 87 kali GPM, termasuk tujuh kegiatan sepanjang Agustus. Operasi Pasar LPG 3 kilogram, Kios GESIT, dan Kios Penyeimbang juga terus dijalankan.

Sementara TPID PPU telah melaksanakan 27 kali GPM, Pasar Murah, dan Operasi Pasar, termasuk empat kegiatan selama Agustus.

Baca Juga: Wisatawan Asing Lebih Lama Menginap di Balikpapan, Tamu Nusantara Hanya 1,78 Hari

Penguatan tidak hanya dilakukan melalui intervensi pasar. Produksi petani turut didorong melalui Tani Camp, Gerakan Tanam Cabai, pemanfaatan pekarangan, serta penerapan Good Agricultural Practice (GAP).

Sumber pasokan juga diperluas. Kerja sama Balikpapan dan PPU dengan Kabupaten Karo serta Balikpapan dengan Kabupaten Bulukumba terus diperkuat untuk mengurangi ketergantungan terhadap satu daerah pemasok.

“Diversifikasi sumber pasokan menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap kondisi produksi di satu daerah,” ujar Robi.

Pemantauan dilakukan melalui early warning system, pembaruan harga bahan pokok penting, serta neraca pangan.

Langkah tersebut menjadi penting ketika kemarau mencapai puncak dan potensi El Nino mengancam produksi daerah sentra.

Secara tahunan, inflasi Balikpapan mencapai 3,79 persen dan PPU 3,68 persen. Sementara inflasi gabungan empat kota di Kaltim tercatat 3,83 persen, lebih tinggi dibandingkan inflasi nasional 3,19 persen.

Pengendalian inflasi selanjutnya diperkuat melalui Gerakan Pengendalian Inflasi Pangan Sejahtera (GPIPS) dan roadmap pengendalian inflasi daerah 2025–2027.

Robi menegaskan tantangan berikutnya adalah menjaga produksi dan distribusi ketika kemarau mencapai puncaknya.

Sebab, gangguan cuaca tidak hanya berpengaruh terhadap petani dan nelayan, tetapi dapat menjalar hingga ketersediaan serta harga pangan yang dibayar masyarakat.

“Kondisi tersebut dapat memengaruhi produksi dan kesinambungan pasokan pangan dari daerah sentra, khususnya Jawa,” pungkasnya. (rd)

Editor : Romdani.
Inflasi 2026 Balikpapan letjen lucky avianto penajam paser utara ibu kota nusantara Kutai Barat