KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Suasana di Stadion Batakan, Balikpapan Timur terasa berbeda. Sabtu (5/9/2026) sore itu bukan hanya dipenuhi warga yang berolahraga, tetapi juga deretan petugas gabungan yang turun langsung menggelar edukasi penataan kawasan jogging track.
Kolaborasi ini melibatkan Kecamatan Balikpapan Timur, Kelurahan, Polsek, Koramil, Dishub, Satpol PP, hingga LPM Kelurahan Manggar.
Baca Juga: Bandara CGK dan Halim Tutup Sementara Dampak Erupsi Gunung Krakatau, Penumpang Sepinggan Tertahan
Camat Balikpapan Timur, Ruddy Iskandar yang memimpin langsung kegiatan tersebut mengungkapkan keprihatinannya.
"Belakangan ini, ramainya pengunjung yang membentangkan tikar dan bersantai di area jogging track justru menimbulkan polemik baru," ujarnya.
Ia menjelaskan, fenomena ini tak hanya mengganggu warga yang serius berlari, tetapi juga memicu munculnya titik-titik parkir liar di sekitar stadion yang merusak ketertiban.
Baca Juga: Karhutla di Kutim Berujung Proses Hukum, Tiga Orang Sudah Diamankan Polisi
Tak hanya fokus pada pengunjung, rombongan tim gabungan juga menyambangi para pedagang kaki lima (PKL). Mereka diberi arahan tegas untuk menarik lapak dan berjualan lebih menjorok ke dalam, tepatnya di dekat pintu masuk stadion.
Langkah ini diambil agar arus kendaraan di jalan depan stadion tetap lancar dan tidak tersendat oleh aktivitas jual-beli yang meluber.
Ruddy menegaskan tiga poin utama yang harus ditaati bersama. Pertama, area parkir pengunjung hanya di dalam lingkungan stadion.
Kedua, jalur jogging track dikembalikan pada fungsi aslinya, yakni khusus untuk olahraga, bukan untuk duduk-duduk atau sekadar bersantai. Ketiga, seluruh pengunjung diimbau untuk menjaga kebersihan kawasan pintu masuk stadion.
Baca Juga: Kemarau Panjang Bikin Air Bontang Barat Diatur Bergilir, Cek Jadwal Distribusinya
Pemerintah Kota Balikpapan ternyata sudah menyiapkan langkah solutif ke depannya. Rencananya, kawasan Stadion Batakan akan ditata ulang salah satunya dengan penambahan kursi-kursi santai khusus bagi pengunjung.
Ini adalah solusi agar masyarakat yang ingin melepas penat tetap bisa duduk bersantai tanpa harus menggelar tikar di atas lintasan lari.
Apalagi, kawasan ini memang sedang naik daun sebagai destinasi kuliner dan ruang publik baru favorit warga untuk menghabiskan waktu setelah seharian beraktivitas.
"Kami mohon kerja sama dari seluruh masyarakat. Ini adalah bentuk edukasi, bukan sekadar tindakan represif. Kami sadar, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. Dukungan dan kesadaran warga sangat kami butuhkan agar semua fasilitas ini kembali pada peruntukkannya dan tetap nyaman untuk semua," pungkas Ruddy. (*)
Editor : Sukri Sikki