Mangrove Center Balikpapan Pikat Turis Mancanegara, 60 Mahasiswa Jepang Segera Berkunjung

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Rabu, 9 September 2026 | 19:20 WIB
WISATA EDUKASI: Agus Bei memastikan wisatawan yang berkunjung ke Mangrove Center Graha Indah tidak dipungut biaya tiket masuk, begitu pula kendaraan yang parkir. FUAD/KP
WISATA EDUKASI: Agus Bei memastikan wisatawan yang berkunjung ke Mangrove Center Graha Indah tidak dipungut biaya tiket masuk, begitu pula kendaraan yang parkir. FUAD/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Mangrove Center Graha Indah tidak hanya menjadi ruang konservasi dan edukasi lingkungan di Balikpapan. Kawasan ini perlahan berkembang menjadi salah satu destinasi yang mampu menarik wisatawan mancanegara sekaligus membuka aktivitas ekonomi berbasis ekowisata.

Founder dan Pengelola Mangrove Center Graha Indah Agus Bei menyebut arus kunjungan ke kawasan tersebut berlangsung hampir setiap hari. Menariknya, sekitar 40 persen pengunjung berasal dari luar negeri, sedangkan 60 persen lainnya merupakan wisatawan domestik dari berbagai daerah di Indonesia.

Wisatawan mancanegara yang datang berasal dari sejumlah negara, mulai Yunani, Mesir, Italia, Amerika hingga beberapa negara di Asia. Selain wisatawan umum, kawasan tersebut juga menjadi tujuan mahasiswa dan komunitas yang ingin mempelajari langsung ekosistem mangrove. “Ini menjadikan aset bagi pemerintah Balikpapan bahwa edukasi terhadap masyarakat penting,” tutur Agus, baru-baru ini.

Baca Juga: 64 Perusahaan di Kaltim Dapat Proper Merah, Senator Desak Pelanggar Lingkungan Dibuka ke Publik

Menurutnya, tingginya minat pengunjung dari berbagai negara menunjukkan bahwa mangrove tidak hanya mempunyai nilai ekologis, tetapi juga memiliki potensi ekonomi melalui pengembangan wisata berbasis lingkungan dan edukasi. Arus wisatawan domestik juga cukup besar. Sekitar 60 persen pengunjung berasal dari berbagai wilayah Indonesia, termasuk Jawa, Sumatera dan Sulawesi.

Komposisi tersebut membuat Mangrove Center memiliki pasar pengunjung yang cukup beragam. Kawasan ini tidak hanya menjadi tempat rekreasi bagi masyarakat sekitar Balikpapan, tetapi juga menjadi tujuan perjalanan wisatawan yang datang dari luar daerah maupun luar negeri.

Yang luar biasa, Agus memilih tidak menerapkan tiket masuk maupun retribusi kepada pengunjung. Tamu yang datang dapat memasuki kawasan tanpa dipungut biaya. Begitu pula kendaraan yang parkir tidak dikenakan biaya parkir. "Nggak ada tiket masuk maupun parkir, gratis," ucapnya.

Kebijakan tersebut menjadi bagian dari konsep yang dikembangkan Agus, yakni memberikan ruang bagi masyarakat untuk mengenal mangrove tanpa menjadikan biaya masuk sebagai penghalang. Namun, aktivitas wisata tetap memiliki pilihan berbayar, terutama bagi pengunjung yang ingin menyusuri kawasan pesisir menggunakan kapal.

Baca Juga: BGN Larang Susu Kental Manis Masuk Menu Makan Bergizi Gratis, Wajibkan Susu Hewani Murni

Tarif perjalanan menggunakan kapal ditetapkan sebesar Rp 300 ribu per orang untuk durasi sekitar satu jam. Dengan kapal tersebut, pengunjung dapat menyusuri kawasan pesisir mangrove sekaligus melihat kondisi ekosistem dari sisi perairan.

Pada waktu tertentu, perjalanan juga memberikan kesempatan kepada pengunjung untuk melihat bekantan yang berada di sekitar kawasan. Agus menyebut waktu pagi dan sore menjadi periode yang disarankan bagi pengunjung yang ingin mencoba melihat aktivitas bekantan.

“Dengan kenaikan harga bensin yang luar biasa, tur menggunakan kapal tetap sama, Rp300 ribu, enggak berubah, kita tidak naikkan. Anggaplah kita bersedekah karena tamu yang datang. Parkir juga tidak ditarik retribusi,” ucapnya.

Keputusan mempertahankan tarif tersebut menjadi menarik dalam perspektif ekonomi pariwisata. Di tengah meningkatnya biaya operasional, termasuk bahan bakar, tarif perjalanan kapal tidak langsung dibebankan kepada pengunjung melalui kenaikan harga.

Agus justru menempatkan kegiatan tersebut sebagai bagian dari kontribusi sosial dan edukasi lingkungan. Konsep ini membuat sumber manfaat ekonomi Mangrove Center tidak semata-mata diletakkan pada tiket masuk.

Di sisi lain, keberadaan wisatawan mancanegara juga memberikan nilai promosi tersendiri bagi Balikpapan. Ketika mahasiswa, komunitas dan wisatawan dari berbagai negara datang untuk melihat langsung pengelolaan mangrove, kawasan tersebut secara tidak langsung menjadi etalase bagi potensi ekowisata kota.

Bahkan, agenda kunjungan dari luar negeri masih terus berlangsung. "Pada 15 September nanti, sebanyak 60 mahasiswa dari Jepang dijadwalkan datang untuk melihat dan mempelajari kawasan Mangrove Center," sebut Agus.

Baca Juga: Anggaran Belanja Pegawai 2027 Naik Rp20 Triliun, Kemenkeu Buka Suara Soal Nasib Gaji Pokok PNS

Kunjungan tersebut memperlihatkan bahwa fungsi Mangrove Center telah berkembang melampaui destinasi wisata konvensional. Kawasan ini menjadi tempat bertemunya konservasi, pendidikan dan pariwisata.

Agus sebelumnya menegaskan bahwa dirinya tidak ingin pengembangan mangrove hanya diarahkan untuk mengejar jumlah wisatawan atau keuntungan ekonomi. Menurutnya, nilai ekonomi harus berjalan berdampingan dengan keberlanjutan ekologi.

Karena itu, model yang dikembangkan di Mangrove Center lebih menitikberatkan pada wisata edukasi. Pengunjung tidak sekadar datang, berfoto, kemudian pulang, tetapi diajak memahami bagaimana mangrove tumbuh, mengapa kawasan tersebut harus dilindungi dan bagaimana proses restorasinya dilakukan.

Pendekatan tersebut menjadi peluang ekonomi yang berbeda. Mangrove tidak perlu diubah menjadi objek wisata buatan untuk mendatangkan pengunjung. Justru kondisi alam dan cerita konservasi yang selama ini dijaga menjadi daya tarik utamanya.

Baca Juga: Bupati Sidak, Antrean Pertalite di Berau Juga Mengular, Kendaraan Bisa Pakai Enam Barcode

Keberadaan destinasi ini memiliki potensi lebih luas. Wisatawan yang datang tidak hanya berinteraksi dengan kawasan mangrove, tetapi juga berpeluang menggerakkan aktivitas ekonomi lain di kota melalui perjalanan, transportasi, konsumsi dan kebutuhan wisata selama berada di Balikpapan.

"Bukan sekadar mengejar sebanyak-banyaknya pengunjung, tetapi memastikan semakin banyak orang mengenal mangrove dan memahami alasan ekosistem tersebut harus tetap dijaga," ucapnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Bekantan Balikpapan Mangrove Center Graha Indah wisata balikpapan ekowisata Balikpapan Agus Bei