KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Kebiasaan masyarakat menahan belanja di luar kebutuhan pokok ikut memengaruhi penerimaan daerah. Target Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Balikpapan dalam dokumen Perubahan KUA-PPAS 2026 disesuaikan turun sekitar Rp73 miliar.
Rasionalisasi target tersebut dilakukan setelah melihat perputaran ekonomi Kota Minyak yang tidak secepat tahun-tahun sebelumnya. Kondisi itu turut dipengaruhi tekanan ekonomi global.
Wakil Ketua DPRD Balikpapan Yono Suherman mengatakan, tren belanja masyarakat saat ini cenderung lebih berhati-hati.
Baca Juga: LAPSUS: Transaksi BBM Bersubsidi Diawasi Digital, Pertamina Siapkan Sanksi hingga Penutupan SPBU
"Mereka menahan diri tidak belanja di luar dari kebutuhan pokok," kata Yono.
Menurut Yono, perlambatan aktivitas ekonomi terjadi di hampir seluruh sektor bisnis utama di Balikpapan. Mulai dari industri otomotif hingga sektor perumahan turut merasakan dampaknya.
"Prinsipnya karena warga menahan uang dulu dibanding harus belanja," sebutnya.
Meski berada dalam situasi ekonomi yang menantang, Yono tetap optimistis perekonomian Balikpapan dapat kembali tumbuh. Menurut dia, pelaku usaha di lapangan masih aktif mencari dan menangkap peluang pasar di Kota Minyak.
Hal itu terlihat dari pertumbuhan sejumlah usaha dalam setahun terakhir, seperti kedai kopi (coffee shop) hingga penyediaan fasilitas olahraga.
DPRD Balikpapan berharap sektor usaha kreatif tersebut terus tumbuh positif sehingga dapat menjadi salah satu alternatif penopang penerimaan PAD.
Baca Juga: CCTV Ungkap Skandal Biksu Senior Thailand, Bersama Selingkuhan Terekam “Bermain” di Atas Meja Kuil
Untuk menjaga kestabilan ekonomi lokal, Yono juga mengimbau masyarakat lebih mengutamakan transaksi di dalam kota.
"Kalau kita sering bepergian kan menjadi income bagi luar daerah," tutup Yono. (*)
Editor : Ery Supriyadi