KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Sebanyak 283 personel dikerahkan untuk memperkuat edukasi dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Sumatera dan Kalimantan.
Dari jumlah tersebut, di antaranya 66 peserta didik (Serdik) Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi (Sespimti) Polri Dikreg ke-36, serta 217 peserta Sespimmen Polri Dikreg ke-67. Mereka tergabung ke Satuan Tugas (Satgas) Edukasi Aman Nusa II Tahun 2026 dengan tema “Strategi Mitigasi Penanggulangan Karhutla”.
Kegiatan berlangsung pada 7–16 September 2026 di enam provinsi, yaitu Sumatera Selatan, Riau, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.
Kegiatan di Kaltim, ada 11 peserta tidak hanya berupa sosialisasi kepada masyarakat, tetapi juga penelitian dan uji coba penggunaan serbuk Hartindo AF31 untuk sekat bakar dalam upaya pemadaman karhutla di Mako Brimob Polda Kaltim.
Baca Juga: Beras Harus Menembus Jalur Ekstrem ke Mahulu, Pemprov Siapkan Solusi Jangka Panjang
Para peserta melaksanakan sosialisasi karhutla kepada masyarakat di RT 35, Kelurahan Karang Joang, Kecamatan Balikpapan Utara.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Pengembangan Kompetensi dan Keprofesian (PKDN) yang dilaksanakan dengan melibatkan berbagai unsur di daerah karena penanganan karhutla membutuhkan kolaborasi antara kepolisian, TNI, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi masyarakat, relawan, hingga pemangku kepentingan lainnya.
Kolaborasi tersebut diperlukan untuk memperkuat upaya pemadaman, pencegahan, hingga penyelesaian persoalan karhutla di lapangan.
Salah satu hal yang menjadi perhatian para peserta didik Sespimti Dikreg ke-36 adalah penerapan teknologi dalam penanganan karhutla, termasuk pemanfaatan cairan Hartindo AF31 untuk membantu mengendalikan penyebaran api yang sudah diterapkan di lapangan untuk mengendalikan penyebaran api agar tidak meluas ke area yang lebih besar.
Baca Juga: Dekat Kandang Ayam hingga Masalah Listrik, 4 Dapur MBG di Paser Disetop BGN
Selain teknologi, perlunya kesiapsiagaan personel dan koordinasi lintas sektor menjadi faktor penting dalam merespons kebakaran secara cepat.
Penanganan dilakukan melalui berbagai metode, mulai dari pengerahan patroli bersama untuk pemadaman di darat dan bantuan relawan, hingga operasi pemadaman melalui udara menggunakan water bombing.
Ketua RT 35 Kelurahan Karang Joang, Sodik, mengatakan kebakaran lahan yang terjadi di wilayahnya selama ini dapat segera ditangani karena kesadaran masyarakat yang cepat melaporkan kejadian kepada aparat dan pemerintah setempat.
“Alhamdulillah, kalau ada kebakaran, cepat teratasi karena kesadaran masyarakat menghubungi kami,” terang Sodik. Ada tiga pilar kelurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, juga bergerak cepat menanggulanginya.
Keberadaan fasilitas pemadam kebakaran di sekitar wilayah tersebut juga membantu mencegah api meluas. Namun, ia berharap pemerintah dapat menambah dukungan berupa peralatan pemadaman, khususnya wilayah dinilai rawan kebakaran seperti kawasan Kebun Raya Balikpapan dan lingkungan RT 35.
Baca Juga: Bahaya! Kolam Diduga Berisi Limbah B3 Migas di Lawe-Lawe PPU Malah Jadi Tempat Mandi Anak-Anak
“Yang sangat diperlukan adalah bantuan alat pemadam, karena di sini yang paling rawan,” harapnya. Selama ini, masyarakat masih mengandalkan peralatan sederhana untuk pemadaman awal, seperti sapu dan kayu.
Sodik mengapresiasi kegiatan edukasi yang dilakukan jajaran Polri di wilayahnya. Ia berharap kegiatan tersebut dapat meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus memperkuat dukungan terhadap upaya pencegahan karhutla.
Peserta mengikuti rangkaian kegiatan didampingi Kasespim Lemdiklat Polri Irjen Pol Midi Siswoko, Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri Irjen Pol Sabilul Alif, dan Widyaiswara Kepolisian Utama Tingkat I Sespim Lemdiklat Polri Irjen Pol Joko Setiono, bersama Ketua Senat Serdik Sespimti Angkatan 36 Kombes Donny Alexander serta peserta lainnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo