KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kasus diare akut di Balikpapan melonjak pada minggu ke-34 2026. Berdasarkan pemantauan Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) Dinas Kesehatan (Diskes) Balikpapan, tercatat 524 kasus dalam sepekan. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam lima minggu terakhir.
Kepala Diskes Balikpapan Alwiati mengatakan, angka tersebut juga lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencatat 466 kasus.
Baca Juga: Diskes Balikpapan Instruksikan Faskes Siaga KLB Diare Saat Musim Kemarau
“Terjadi peningkatan kasus yang bermakna pada minggu ke-34 medio 2026 menjadi 524 kasus sekaligus menjadi angka tertinggi dalam periode lima minggu terakhir,” kata Alwiati.
Secara kumulatif pada minggu ke-30 hingga ke-34 2026, kasus diare akut di Balikpapan mencapai 2.577 kasus. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi secara absolut dibandingkan kabupaten/kota lain di Kalimantan Timur (Kaltim).
Samarinda berada di urutan berikutnya dengan 1.397 kasus, disusul Kutai Kartanegara 1.236 kasus, Kutai Timur 828 kasus, Paser 642 kasus, Berau 431 kasus, Kutai Barat 423 kasus, Penajam Paser Utara 377 kasus, Bontang 231 kasus, dan Mahakam Ulu 86 kasus.
Baca Juga: Imbas Kabut Asap, Sekolah di Bontang Lakukan Pembelajaran Jarak Jauh, Begini Pengaruhnya ke MBG
Padahal, sebelum memasuki minggu ke-34, kasus diare akut di Balikpapan masih berada di bawah catatan 2025. Pada minggu ke-30 tercatat 532 kasus, berbanding 593 kasus pada 2025. Minggu ke-31 sebanyak 545 kasus berbanding 662 kasus, minggu ke-32 sebanyak 489 kasus berbanding 633 kasus, dan minggu ke-33 sebanyak 466 kasus berbanding 531 kasus.
Berdasarkan data fasilitas kesehatan tingkat pertama (FKTP), Kelurahan Klandasan Ilir mencatat kasus terbanyak dengan 33 kasus. Berikutnya Mekar Sari 30 kasus, Karang Joang 26 kasus, Damai 23 kasus, dan Sepinggan 22 kasus.
Sementara wilayah dengan catatan kasus terendah yakni Baru Tengah dan Karang Jati, masing-masing dua kasus. Disusul Batu Ampar dan Kariangau masing-masing tiga kasus, serta Lamaru empat kasus.
Baca Juga: Tiga Tersangka Dibekuk, Jaringan Narkoba Lintas Kaltim-Kalsel Dibongkar di Muara Komam
Dinkes Balikpapan meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan, terlebih kondisi kemarau menyebabkan keterbatasan air bersih perpipaan di sejumlah wilayah.
Alwiati mengatakan, kondisi tersebut berpotensi mendorong perubahan sumber air yang digunakan masyarakat. Dampaknya dapat berkaitan dengan aspek higiene, sanitasi, pengolahan air minum, hingga keamanan pangan.
“Kondisi ini dapat mendorong perubahan sumber air yang digunakan masyarakat dan berpotensi memengaruhi higiene, sanitasi, pengolahan air minum, serta keamanan pangan,” jelasnya.
Meski demikian, Dinkes belum menyimpulkan peningkatan kasus tersebut sepenuhnya disebabkan kemarau panjang. Langkah antisipasi tetap dilakukan melalui penguatan surveilans, koordinasi lintas sektor, kesiapan tata laksana klinis, serta edukasi kebersihan kepada masyarakat. (*)
Editor : Dwi Restu A