BALIKPAPAN - Kondisi kemarau sangat parah ditambah El Nino yang kuat. Ancaman kekeringan di Kalimantan Timur secara umum diprediksi masih akan berlanjut hingga Oktober 2026.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa kondisi El Nino yang melanda Indonesia saat ini merupakan salah satu yang paling parah dalam sejarah 100 tahun terakhir.
Fenomena iklim ekstrim ini memiliki pola berulang setiap dekade, peristiwa serupa terakhir kali mencatatkan rekor pada 2015. “Siklus yang terjadi kurang lebih 10 tahun lalu,” kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I SAMS Sepinggan Balikpapan, Ilham Rosihan Fachturoni.
Dia menjelaskan, dominasi cuaca kering masih terjadi selama September hingga Oktober. Akibatnya, cuaca kering diperkirakan mendominasi kawasan Kaltim dan berpotensi mengundur datangnya musim penghujan.
Namun tingkat kekeringan di Kaltim tidak merata. “Kawasan utara dan barat, seperti Kabupaten Berau serta Mahakam Ulu sedikit lebih basah. Di sana masih menyimpan potensi hujan berkat dinamika atmosfer yang mendukung pembentukan awan,” sebutnya.
Sebaliknya, wilayah pesisir dan bagian tengah Kaltim diperkirakan hanya mengalami hujan lokal berintensitas ringan.
“November hingga Desember kita berharap ada angin segar karena biasanya dalam periode ini Monsun Asia atau Baratan sudah masuk wilayah Kaltim dan bisa menambah curah hujan,” bebernya.
BMKG meminta masyarakat dan pemerintah daerah untuk memperketat kewaspadaan terhadap krisis air bersih serta bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Harapannya November sudah masuk hujan di Kaltim. Namun untuk sepekan ke depan peluang hujan masih relatif di wilayah utara dan barat,” tandasnya. (*)
Editor : Ismet Rifani