KALTIMPOST.ID-Persoalan dugaan pertukaran akun Kelas Pintar milik sejumlah siswa SD Negeri 004 Balikpapan Selatan kembali mencuat.
Sejumlah orangtua meminta kejelasan terkait akun anak mereka yang disebut ditukar dengan akun siswa lain saat duduk di kelas VI pada 2024.
Salah seorang orangtua siswa, Rina, mengatakan persoalan bermula ketika anaknya pulang sekolah sambil menangis pada 9 Maret 2024.
Saat itu, sang anak mengetahui akun Kelas Pintar miliknya telah diganti dengan akun siswa dari kelas berbeda.
“Anak saya pulang sekolah dalam kondisi menangis. Dia bilang, ‘Mah, akun saya ditukar’,” kata Rina, Jumat (18/9).
Baca Juga: 160 Masjid di Kalimantan Kini Terhubung Internet, Teknologi AI Mulai Dikenalkan ke Masyarakat
Menurut Rina, sebelum pertukaran tersebut, akun anaknya memiliki nilai tugas 100 dan seluruh tugas telah diselesaikan.
Namun, akun pengganti yang diterima memiliki nilai 80 dan masih terdapat tugas yang belum dikerjakan.
Rina kemudian mempertanyakan persoalan itu kepada wali kelas. Namun, ia mengaku tidak memperoleh penjelasan mengenai alasan pertukaran akun tersebut.
Persoalan kemudian disampaikan kepada pihak sekolah hingga Dinas Pendidikan. Menurut Rina, dirinya mendapat penjelasan dari Dinas Pendidikan bahwa akun seharusnya tidak ditukar karena dikhawatirkan berdampak terhadap nilai siswa.
Ia kemudian diminta menyelesaikan persoalan melalui sekolah. Rina mengaku sempat mendapat informasi bahwa akun pengganti tidak akan digunakan ketika ujian. Namun, menurut dia, akun tersebut tetap digunakan.
“Bilang wali kelasnya pada saat ujian nanti tidak menggunakan akun tersebut. Faktanya menggunakan akun tersebut, masih digunakan,” ujarnya.
Baca Juga: Sektor Properti Balikpapan Dinilai Masih Tumbuh, Sejumlah Pengembang Terus Ekspansi
Rina menyebut persoalan itu kemudian memengaruhi kondisi anaknya. Anak yang sebelumnya rajin belajar disebut menjadi enggan mengerjakan tugas dan kehilangan semangat bersekolah.
Menurut dia, anaknya bahkan beberapa kali meninggalkan kelas ketika mendapat tugas. Guru kemudian menemukan anak tersebut berada di toilet, taman, maupun perpustakaan. “Trauma, Pak. Tidak mau belajar,” katanya.
Selain persoalan akun, Rina mengaku pernah melaporkan dugaan pencemaran nama baik ke kepolisian pada 14 Maret 2024.
Laporan dibuat setelah fotonya saat berada di Dinas Pendidikan disebut tersebar di grup panitia perpisahan disertai perkataan yang dinilainya menghina.
Namun, menurut Rina, laporan tersebut dihentikan melalui surat perintah penghentian penyidikan (SP3) pada Juni 2025.
Ia masih mempertanyakan penghentian tersebut karena merasa memiliki bukti dan saksi yang hendak diajukan.
Terkait dugaan pertukaran akun, Rina mengatakan dirinya mendapat penjelasan dari penyidik bahwa persoalan tersebut tidak memenuhi unsur pidana.
Dia menyebut sekitar 11 akun siswa diketahui mengalami pertukaran saat itu. Karena itu, ia meminta penjelasan mengenai alasan hanya sebagian siswa yang mengalaminya.
“Saya ingin mendapatkan keadilan. Saya ingin kejelasan, motifnya apa? Kenapa hanya beberapa anak yang ditukar, tidak semuanya?” katanya.
Baca Juga: Belum Temukan Performa Terbaik, Pelatih Borneo Minta Suporter Tetap Berikan Dukungan
Keluhan serupa disampaikan orangtua siswa lainnya, Ida. Ia mengatakan akun anaknya juga mengalami pertukaran. Namun, anaknya cenderung pendiam sehingga tidak banyak mempertanyakan kejadian tersebut.
Ida mengaku hingga kini belum mengetahui apakah pertukaran akun berpengaruh terhadap nilai anaknya. “Kalau masalah nilai, kita enggak tahu apakah itu berpengaruh atau tidak,” ujarnya.
Sejumlah orangtua kini berharap memperoleh penjelasan mengenai alasan pertukaran akun tersebut, termasuk kemungkinan dampaknya terhadap data, nilai, dan proses pembelajaran siswa. (rd)
Editor : Romdani.