KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Komunitas Guru Literasi Numerasi (Gulinum) Balikpapan bersama Tanoto Foundation mengembangkan inovasi ajar dadu bergambar guna memacu kemampuan literasi para pelajar sekolah menengah pertama (SMP) di Kota Minyak.
Langkah ini diambil menyusul masih rendahnya capaian rapor pendidikan sejumlah sekolah pada indikator literasi. Sebagian peserta didik bahkan tercatat masih membutuhkan pendampingan khusus dalam kemampuan dasar membaca dan merangkai tulisan.
Ketua Gulinum Balikpapan Nurhidayah menuturkan, program ini bermula dari amanah Fasilitator Daerah (Fasda) Perubahan Tanoto Foundation. Inisiatif tersebut kemudian diperluas agar dampaknya dapat dirasakan langsung oleh guru-guru lain di luar tim fasilitator.
"Kami membentuk tim yang beranggotakan rekan-rekan guru dengan dedikasi tinggi dan komitmen bersama untuk meningkatkan mutu pendidikan di Balikpapan," ungkap Nurhidayah.
Baca Juga: Megahnya Platinum Convention Hall Balikpapan, Magnet Baru MICE Penyangga IKN
Fokus utama tim diarahkan pada peningkatan kompetensi literasi melalui media yang mudah diterapkan di ruang kelas. Pihaknya sengaja tidak memilih platform digital yang rumit agar media tersebut ramah biaya dan bisa dipakai di seluruh sekolah.
"Kami ingin media yang berbeda, bisa diaplikasikan, ekonomis, dan bahannya mudah didapat. Akhirnya kami rancang dadu bergambar sebagai pemantik siswa agar bisa menyusun kalimat sederhana," jelasnya.
Nurhidayah menerangkan, dadu konvensional biasanya hanya memuat titik angka satu sampai enam. Tim Gulinum menggantinya dengan enam set gambar tematik yang masing-masing menyimpan alur cerita.
"Kalau siswa langsung disuruh membuat kalimat, mereka sering kali kesulitan tanpa ada pemicu ide. Dadu bergambar ini menjadi trigger agar suasana kelas lebih hidup, sekaligus melatih anak berbicara dan menulis secara terstruktur," imbuh Nurhidayah.
Baca Juga: Redam Lonjakan Harga Cabai, BI Balikpapan Ajak Warga Maksimalkan Pekarangan
Program intervensi literasi ini menjangkau sepuluh sekolah sasaran yang tersebar merata di seluruh kecamatan di Balikpapan. Tim Gulinum sendiri diperkuat oleh lima orang penggerak inti yang mendampingi para pendidik di lapangan.
Sekolah yang menjadi sasaran program antara lain SMP Negeri 4 dan SMP PGRI 7 di Balikpapan Barat, serta SMP Negeri 8 dan SMP Negeri 23 di Balikpapan Timur. Di Balikpapan Selatan mencakup SMP Wiatamandala, sedangkan Balikpapan Kota meliputi SMP Advent.
Adapun di Balikpapan Tengah ditunjuk SMP Negeri 27, serta SMP Negeri 24 mewakili wilayah Balikpapan Utara. Tiap sekolah mengutus dua tenaga pendidik, masing-masing satu guru bahasa Indonesia dan satu guru bahasa Inggris.
"Penetapan sepuluh sekolah ini berangkat dari hasil diskusi di Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP). Rapor pendidikan pada sektor literasi di sekolah-sekolah tersebut masih berada di zona kuning sehingga memerlukan perbaikan metode ajar," beber Nurhidayah.
Menanggapi masih adanya siswa tingkat menengah yang terkendala membaca dan menulis, Nurhidayah menegaskan bahwa saling melempar kesalahan antarjenjang pendidikan bukanlah jalan keluar. Guru dituntut mengambil tindakan nyata saat menemukan kendala tersebut di kelas.
"Kita tidak perlu menyalahkan jenjang SD atau jenjang sebelumnya ketika menemukan siswa yang belum lancar membaca. Apa yang bisa kita perbuat, langsung lakukan saja di ruang kelas dan luangkan waktu tambahan," tegasnya.
Baca Juga: Geger Temuan Jasad Bayi dalam Tas Ransel di Tenggarong Seberang, Polisi Amankan Ibu Kandung
Meski demikian, tanggung jawab pemulihan literasi siswa tidak boleh dibebankan kepada satu guru semata. Diperlukan manajemen sekolah yang rapi di bawah kepemimpinan kepala sekolah untuk membagi beban pendampingan siswa secara proporsional.
"Jika di satu sekolah ada sepuluh anak yang butuh bantuan khusus, pihak sekolah harus membagi tugas pendampingan itu bersama-sama. Kolaborasi dengan orang tua di rumah juga mutlak dilakukan karena pendidikan tidak bisa diserahkan seutuhnya ke pundak guru," katanya.
Nurhidayah menggarisbawahi pentingnya panggilan jiwa dan kesabaran seorang pendidik dalam memahami keunikan tiap anak. Menjadi guru profesional membutuhkan proses belajar berkelanjutan dan kepekaan rasa di ruang kelas.
Baca Juga: Tangani Karhutla di Muara Badak, PT Tritunggal Sentra Buana Terjunkan Tim Pemadam dan Logistik
"Menjadi guru profesional itu tidak ujuk-ujuk terjadi setelah lulus kuliah dan menyandang gelar sarjana. Dibutuhkan ketulusan, rasa sayang kepada anak didik, serta kemauan untuk terus memperdalam cara mengajar," papar Nurhidayah.
Ia pun mengajak rekan-rekan sejawat untuk aktif memperkaya kompetensi diri lewat berbagai pelatihan mandiri, baik luring maupun daring, tanpa terpaku pada pelatihan berbiaya dinas.
"Guru harus rajin berinteraksi di kelas untuk mengenal ragam karakter siswa. Mengabdi sebagai guru bukan semata mengejar materi, sebab ketulusan mendidik anak bangsa akan selalu mendatangkan kebaikan tersendiri," tutupnya.
Gerakan literasi berbasis media dadu bergambar oleh Gulinum Balikpapan diharapkan dapat menjadi pemantik semangat bagi sekolah-sekolah lain untuk terus menghadirkan pembelajaran yang kreatif, inklusif, dan berpihak pada kebutuhan anak. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo