Bisnis F&B Kaltim Tumbuh 13,79 Persen, Transaksi Naik tapi Omzet Hanya Bertambah 3 Persen

Nuron Setya Wijaya • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 14:35 WIB
Kopdar Racik Bisnis F&B di Balikpapan, Kamis (24/9). (FOTO NURON/KP)
Kopdar Racik Bisnis F&B di Balikpapan, Kamis (24/9). (FOTO NURON/KP)

KALTIMPOST.ID-Bisnis makanan dan minuman di Kaltim terus berkembang, tetapi pertumbuhan pasar juga membawa persaingan semakin ketat. Pelaku usaha dituntut lebih cermat mengelola biaya hingga membaca perubahan perilaku konsumen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), sektor penyediaan akomodasi dan makan minum Kaltim pada triwulan II 2026 tumbuh 13,79 persen. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional sebesar 10,60 persen.

Co-Founder dan CEO Esensi Solusi Buana (ESB) Gunawan mengatakan, semakin banyaknya pilihan kuliner membuat konsumen lebih selektif dalam membelanjakan uang.

“Sekarang konsumen semakin selektif. Mereka ingin memaksimalkan pengeluaran, jadi lebih berhati-hati dalam berbelanja,” katanya dalam Kopdar Racik Bisnis F&B di Balikpapan, Kamis (24/9).

Baca Juga: Penataan Guru di Kaltim Dikritik Pengamat Unmul, Sekolah Unggulan Dinilai Perlu Kajian Matang

Kondisi itu terlihat dari pergerakan transaksi merchant ESB di Balikpapan. Berdasarkan data internal perusahaan sepanjang Januari–Juli 2026, transaksi pada gerai yang sama tumbuh 16,5 persen secara tahunan. Namun, pertumbuhan omzet hanya sekitar 3 persen.

Perbedaan tersebut, menurut Gunawan, menjadi sinyal bagi pelaku usaha untuk lebih disiplin menghitung biaya, menentukan harga, dan menjaga margin. Peningkatan jumlah transaksi belum tentu menghasilkan pertumbuhan pendapatan dengan laju yang sama.

“Bisnis bukan hanya bagaimana menjual untuk pertama kali, tetapi bagaimana membuat pelanggan kembali,” ujarnya.

Karena itu, mempertahankan pelanggan menjadi bagian penting dalam keberlangsungan usaha. Pelaku F&B perlu memiliki kesadaran terhadap biaya sekaligus memahami kebutuhan konsumennya.

F&B Educator dan Management Consultant Agung Haryadi menambahkan, tantangan lain muncul ketika usaha mulai berkembang. Keinginan membuka cabang atau memperbesar skala bisnis harus diikuti sistem pengelolaan yang lebih tertata.

Pencatatan keuangan menjadi salah satu fondasi. Sistemnya tidak harus rumit, tetapi harus dilakukan secara konsisten.

Baca Juga: Kabut Asap di Kutim Bikin Belajar Jarak Jauh, Distribusi MBG untuk TK hingga SMP Masih Dihentikan

“Kalau pencatatan tidak rapi, menduplikasi catatan jatuhnya hanya menduplikasi masalah,” katanya.

Menurut Agung, kemampuan menghasilkan makanan yang disukai konsumen saja tidak cukup. Ketika skala usaha membesar, pengusaha harus mampu mengelola keuangan, stok, operasional, hingga pengendalian biaya.

Di tengah persaingan tersebut, pelaku usaha lokal dinilai memiliki modal berupa pemahaman terhadap karakter pasar dan kedekatan dengan komunitas.

Keunggulan itu dapat dimanfaatkan untuk bergerak lebih adaptif dibandingkan pemain berskala besar. “Kalau kalah besar, harus menang cepat,” ujarnya.

Pertumbuhan aktivitas pariwisata, perhotelan, industri, dan investasi turut membuka pasar bagi bisnis kuliner Kaltim.

Namun, pertumbuhan tersebut sekaligus menuntut pelaku usaha memperkuat pengelolaan agar ekspansi pasar dapat diikuti keberlanjutan bisnis. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim letjen lucky avianto penajam paser utara ibu kota nusantara Kutai Barat