Regenerasi Pengrajin Balikpapan Jadi Tantangan, Kurang dari 10 Persen Anak Muda Serius Tekuni Batik

Ulil Mu'Awanah • Dipublikasikan Kamis, 24 September 2026 | 15:47 WIB
Menenun batik.
Menenun batik.

KALTIMPOST.ID-Menjaga denyut nadi industri kerajinan daerah kini tak lagi sebatas persoalan memoles mutu barang di etalase pameran.

Tantangan paling mendesak di Kota Minyak justru terletak pada ketersediaan generasi penerus yang bersedia melanjutkan estafet keterampilan tradisi tersebut.

Pemkot Balikpapan memandang perlu adanya jembatan transfer ilmu yang sistematis antara pelaku usaha mapan dan pemula. Langkah ini krusial agar rantai produksi komoditas bernilai tambah tinggi tidak terputus di tengah jalan.

Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian (DKUMKMP) Balikpapan Heruressandy Setya Kesuma mengatakan, pengrajin yang telah memiliki pengalaman perlu mengambil peran sebagai mentor bagi generasi muda yang mulai masuk ke sektor kerajinan.

Baca Juga: Penataan Guru Kaltim Jangan Sekadar Mutasi, Kompetensi dan Kebutuhan Sekolah Harus Dipetakan

Menurutnya, transfer pengetahuan tersebut dapat mempercepat proses belajar pelaku usaha baru. Mereka tidak harus memulai semuanya dari nol karena dapat belajar langsung dari pengrajin yang telah lebih dulu menjalankan usaha.

“Pengrajin yang ada juga harus mau menjadi mentor, coaching untuk teman-teman atau adik-adik yang calon wirausaha baru,” kata Heruressandy.

Ia menyebut keberlanjutan menjadi salah satu perhatian pemerintah dalam pengembangan ekonomi kreatif. Produk kerajinan yang saat ini telah memiliki pasar perlu tetap dilanjutkan oleh generasi berikutnya.

Kolaborasi antara pengrajin lama dan pelaku usaha muda juga diharapkan tidak hanya menyentuh keterampilan produksi. Pengetahuan mengenai manajemen usaha dan pemasaran perlu ikut ditransfer.

“Jangan sampai putus. Artinya berkolaborasi antara yang sudah sukses, yang sudah jago produksi, dengan yang baru mulai dan baru punya ide gagasan,” ucapnya.

Dengan pola tersebut, pelaku usaha baru dapat memangkas waktu belajar. Mereka bisa memperoleh pengetahuan praktis dari pengalaman pengrajin yang telah menghadapi berbagai persoalan usaha. “Dia akan banyak memotong waktu belajarnya karena sudah bertemu dengan yang berpengalaman,” tambahnya.

Baca Juga: Ekonomi dan El Nino: Membaca Ulang Likuiditas Air Kaltim 2026

Heruressandy mengatakan, sektor kerajinan yang ditangani DKUMKMP mencakup sejumlah subsektor, antara lain wastra, kriya dan ukiran kayu. Pengembangan dilakukan melalui peningkatan kapasitas, regenerasi, serta penguatan pemasaran.

Saat ini, jumlah pengrajin binaan yang terdata masih relatif terbatas. Namun, pemerintah membuka kesempatan bagi pelaku lain yang ingin bergabung dan dikembangkan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.

Tantangan regenerasi juga terlihat pada sektor batik. Dari sekitar 30 wirausaha muda yang pernah dikenalkan dengan aktivitas membatik, Heruressandy menyebut yang benar-benar serius menekuninya masih kurang dari 10 persen.

Kondisi tersebut menjadi pekerjaan rumah agar ketertarikan generasi muda terhadap kerajinan tidak berhenti pada tahap mengenal, tetapi berlanjut menjadi kegiatan usaha.

Karena itu, pemerintah mendorong pelatihan, pendampingan, sertifikasi, promosi dan kerja sama dengan berbagai pemangku kepentingan agar semakin banyak anak muda melihat kerajinan sebagai peluang usaha.

Bagi Heruressandy, regenerasi bukan sekadar mencari pengganti pengrajin lama. “Lebih dari itu, generasi baru diharapkan membawa ide, desain dan pendekatan pemasaran yang sesuai dengan perkembangan zaman,” tegasnya. (rd)

Editor : Romdani.
karhutla Kaltim kabut asap Batik Tenun Kaltim ibu kota nusantara Kutai Barat