Harga Cabai Rawit di Balikpapan Tembus Rp90.000/Kg, Pembeli Pasrah

Dina Angelina • Dipublikasikan Senin, 28 September 2026 | 17:10 WIB
Pedagang menata stok cabai di Pasar Pandansari, Balikpapan. Minimnya hasil panen dari daerah penghasil seperti Jawa dan Sulawesi memicu kenaikan harga komoditas pangan dalam dua bulan terakhir.
Pedagang menata stok cabai di Pasar Pandansari, Balikpapan. Minimnya hasil panen dari daerah penghasil seperti Jawa dan Sulawesi memicu kenaikan harga komoditas pangan dalam dua bulan terakhir. 

BALIKPAPAN - Kekeringan panjang di daerah penghasil pangan kini dampaknya merembet hingga ke dapur warga Balikpapan. Di lapak-lapak Pasar Pandansari, Balikpapan Barat, harga cabai rawit kini sudah merangkak naik hingga menembus Rp90.000 per kilogram.

​Bagi pedagang seperti Ade Jamal (26), dua bulan terakhir menjadi masa-masa yang serba sulit. Minimnya pasokan kiriman dari Jawa dan Sulawesi akibat kekeringan membuat modal yang harus ia keluarkan membengkak.

​"Harga normal cabai rawit biasanya Rp30 ribu. Sekarang Rp85 ribu sampai Rp90 ribu. Cabai keriting juga ikut naik jadi Rp65 ribu," tutur Ade saat ditemui di lapaknya.

​Kondisi cabai lokal pun tak mampu menjadi penyelamat. Jumlah panen petani lokal yang terbatas membuat harga cabai segar ikut menyesuaikan lonjakan harga nasional.

​Meski begitu, Ade menyebut masyarakat tetap membeli cabai karena statusnya sebagai bahan pangan pokok. Tantangan terbesar justru ada pada perputaran modal pedagang. Banyak pedagang terpaksa membatasi pasokan karena tak berani mengambil risiko dengan modal besar.

​Di sisi pembeli, kepasrahan menjadi satu-satunya pilihan. Dwi, warga yang berbelanja di Pasar Pandansari, mengaku berat dengan tingginya harga saat ini, namun tak punya opsi lain.

​"Sangat memberatkan, tapi mau bagaimana lagi. Cabai itu kebutuhan sehari-hari, jadi selagi barangnya ada, ya tetap dibeli," ungkap Dwi. (*)

Editor : Ismet Rifani
dampak kemarau harga cabai meroket Pasar Pandansari