KALTIMPOST.ID-Kabut asap yang terlihat menyelimuti sejumlah kawasan Balikpapan pada pagi hingga siang hari belum membuat kualitas udara masuk kategori berbahaya.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Balikpapan menyatakan hasil pemantauan menunjukkan kualitas udara masih berada pada kategori sedang.
Kepala DLH Balikpapan Sudirman Djayaleksana mengatakan, kondisi tersebut diketahui melalui Air Quality Monitoring System (AQMS) yang bekerja secara real time selama 24 jam.
DLH memiliki dua perangkat AQMS yang ditempatkan di kawasan Balikpapan Baru dan Kantor DLH Balikpapan.
Baca Juga: Tak Cukup Sertifikasi Halal, BI Balikpapan Ungkap Kunci UMKM Kaltim Tembus Pasar Global
Keduanya digunakan untuk memantau perubahan kualitas udara secara berkelanjutan. “Posisinya masih dalam kategori sedang, berarti belum berbahaya,” ujar Sudirman, Rabu (30/9).
Menurut dia, hasil pemantauan kualitas udara terbagi dalam beberapa kategori, mulai baik, sedang hingga tingkatan yang menunjukkan kondisi lebih buruk.
Berdasarkan pengukuran terkini, kualitas udara Balikpapan belum berada pada kondisi yang membahayakan.
Data dari AQMS juga terhubung dengan kementerian sehingga perkembangan kualitas udara dapat dipantau secara berkelanjutan.
Masyarakat juga bisa mengakses informasi kualitas udara melalui aplikasi Isunet LH yang tersedia di Play Store.
Sudirman menjelaskan, kemunculan kabut asap yang terlihat secara kasatmata pada pagi hingga siang hari tidak bisa langsung menjadi ukuran bahwa kualitas udara telah memburuk.
Baca Juga: Kopi Kaltim Dilirik Buyer Malaysia dan Arab Saudi, Delcoff Raih LoI Ekspor Rp 402 Juta
“Kalau kabut biasanya hanya pagi dan kemudian hilang. Namun, pengukuran kualitas udara tidak hanya dilakukan pada pagi hari,” katanya.
Karena itu, penilaian kondisi udara mengacu pada hasil pengukuran perangkat pemantau, bukan hanya berdasarkan jarak pandang atau kondisi yang terlihat pada waktu tertentu.
AQMS terus merekam kondisi udara sepanjang hari sehingga perubahan kualitas dapat terpantau secara real time.
“Jadi, untuk kondisi kualitas udara secara real time berdasarkan alat yang kita ukur selama 24 jam, saat ini masih berada dalam kategori sedang,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.