KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Dampak fenomena El Nino mulai terlihat nyata pada kondisi Bendungan Teritip di Balikpapan Timur. Waduk yang menjadi tumpuan utama pasokan air bersih warga setempat itu tercatat sudah sekitar 60 hari tidak diguyur hujan.
Kondisi kian menyusutnya cadangan air dibenarkan oleh Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) Wilayah 1 BWS Kalimantan IV, Fatturrahman. Pihaknya mencatat dampak kemarau kali ini jauh lebih berat ketimbang periode tahun sebelumnya.
"Situasi ini membuat debit air terus mengalami penurunan. El Nino kali ini memang jauh lebih parah dibanding tahun 2023 lalu. Saat ini penurunan muka air waduk sudah sekitar dua meter," jelas Fatturrahman.
Baca Juga: Klaim Lahan 18 Hektare Klandasan, Ini Penjelasan Resmi Pemkot Balikpapan
Dalam kondisi normal, pasokan air yang disalurkan dari Bendungan Teritip mampu mencapai 220 liter per detik. Padahal potensi kapasitas maksimal infrastruktur penampung air tersebut dapat menyentuh 260 liter per detik.
"Memasuki puncak kemarau dan El Nino, kami melakukan simulasi ketat agar cadangan air di Bendungan Teritip mampu bertahan hingga Desember," ungkapnya.
Langkah antisipasi ini diambil mengingat BMKG memprediksi curah hujan baru berangsur turun pada rentang Oktober hingga November di kawasan Balikpapan. Karena itu, skema penjatahan air baku dirumuskan bersama Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB).
Baca Juga: Jalan Perum Daksa Balikpapan Rusak Tak Tersentuh APBD, Ini Penjelasan DPRD
"Saat ini pasokan air baku untuk PDAM kami batasi 50 persen dari kapasitas normal, yakni sekitar 110 liter per detik. Sisa volume efektif air diperkirakan tinggal menyisakan sekitar 850 ribu meter kubik," tuturnya.
Walhasil, kemungkinan besar penyaluran air pada Oktober bakal dipangkas kembali di bawah ambang 110 liter per detik jika hujan tak kunjung datang.
"Kami hitung apabila tanpa tambahan curah hujan, kemungkinan kuota pengambilan air PTMB akan disesuaikan menjadi 90 liter per detik demi menjaga ketersediaan hingga Desember," beber Fatturrahman.
Ia berharap hujan dapat turun lebih awal sehingga pola operasional kembali normal. "Kalau kondisi kembali stabil, kapasitas pengambilan air oleh PTMB tentu akan dipulihkan seperti sedia kala," imbuhnya.
Kondisi defisit debit air baku rupanya tak cuma melanda Teritip. Sumber air baku utama Kota Minyak lainnya, yakni Waduk Manggar, turut merasakan tekanan serupa akibat anomali iklim El Nino.
"Pengambilan air di Waduk Manggar yang awalnya 1.150 liter per detik mulai September kami turunkan menjadi 900 liter per detik. Penurunan ini berkisar 250 liter per detik atau setara 21 persen," bebernya.
Penyesuaian distribusi air baku tersebut telah diselaraskan dengan kalkulasi proyeksi BMKG. BWS Kalimantan IV berupaya optimal agar aliran air bersih tetap dapat menjangkau pelanggan hingga pengujung tahun. (*)
Editor : Duito Susanto