Lumpuh Imbas Gulma Air, Pendapatan Wisata Bamboe Wanadesa Balikpapan Merosot Drastis

Dina Angelina • Dipublikasikan Minggu, 4 Oktober 2026 | 17:55 WIB
TERHALANG GULMA: Wahana kapal wisata terhenti di antara tumpukan gulma air di kawasan Waduk Manggar, Balikpapan, Minggu (4/10). Pengelola Pokdarwis Bamboe Wanadesa berharap penanganan dari BWS Kalimantan IV sebelum penurunan debit air menyebabkan gulma membusuk dan mencemari waduk. ANGGI PRADITHA/KP
TERHALANG GULMA: Wahana kapal wisata terhenti di antara tumpukan gulma air di kawasan Waduk Manggar, Balikpapan, Minggu (4/10). Pengelola Pokdarwis Bamboe Wanadesa berharap penanganan dari BWS Kalimantan IV sebelum penurunan debit air menyebabkan gulma membusuk dan mencemari waduk. ANGGI PRADITHA/KP

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Fenomena kemunculan gulma air yang kian masif di kawasan Waduk Manggar, Balikpapan, Kaltim, memukul sektor pariwisata lokal. Dampak dari musim kemarau panjang ini menyebabkan angka kunjungan wisatawan di objek wisata Bamboe Wanadesa merosot drastis hingga lebih dari 50 persen.

Berdasarkan pantauan di lokasi, hamparan gulma tampak memenuhi sebagian besar permukaan air Waduk Manggar. Kondisi tersebut melingkupi sejumlah titik strategis, mulai dari kawasan Tanjung Gading, Bamboe Wanadesa, hingga objek wisata Meranti. Akibatnya, wahana perahu yang menjadi daya tarik utama wisatawan tidak dapat berlayar dengan leluasa.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bamboe Wanadesa, Murdianto, mengungkapkan bahwa fenomena gulma sebenarnya terjadi setiap musim kemarau. Namun, volume gulma pada tahun ini jauh lebih banyak dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Baca Juga: Balikpapan Jadi Pintu Utama Ekspor Kaltim, Sumbang Hampir 29 Persen

"Gulma ini memang selalu muncul setiap musim kemarau. Namun, jumlahnya tahun ini jauh lebih banyak dan terus bertambah," ujar Murdianto pada Minggu (2/10/2026).

Murdianto menjelaskan, gulma tersebut berpindah mengikuti arah angin hingga membentuk akumulasi padat menyerupai daratan kecil di atas air.

"Tumbuhan ini bergerak terbawa angin seperti 'pulau berjalan'. Berawal dari Tanjung Gading, lalu bergerak menuju area Bamboe Wanadesa, hingga akhirnya menumpuk di area wisata Meranti," tuturnya.

Penumpukan gulma tersebut berdampak langsung pada operasional wahana air. Padahal, menikmati pemandangan waduk dari atas kapal merupakan fasilitas favorit pengunjung.

Baca Juga: Ekspor Kaltim Tertekan Sektor Tambang, Turun 16,61 Persen pada Agustus

"Dampaknya paling terasa pada objek wisata air. Begitu gulma datang, otomatis kapal tidak bisa berlayar. Pengunjung yang tadinya ingin berfoto dan bersantai menikmati suasana naik kapal jadi terhalang," kata Murdianto.

Penurunan daya tarik ini berimbas signifikan terhadap pendapatan pengelola. Padahal, tarif masuk kawasan wisata terbilang terjangkau, yakni Rp5.000 untuk tiket masuk per orang, retribusi parkir sepeda motor Rp3.000, parkir mobil Rp5.000, serta tarif wahana kapal Rp10.000 per orang.

"Saat ini kondisi pendapatan menurun drastis. Kombinasi musim kemarau dan serbuan gulma membuat angka kunjungan wisatawan merosot lebih dari 50 persen dibanding kondisi normal," bebernya.

Mengingat pembersihan secara manual sudah tidak memadai akibat luasnya sebaran gulma, pihak Pokdarwis telah mengadukan permasalahan ini kepada Balai Wilayah Sungai (BWS) Kalimantan IV. Pihaknya mengkhawatirkan penurunan debit air waduk yang terus berlanjut dapat memicu pembusukan tanaman gulma.

"Pembersihan manual sudah tidak sanggup mengatasi jumlahnya yang sangat banyak. Kami sudah menyampaikan keluhan dan kekhawatiran ini ke BWS Kalimantan IV. Kami khawatir jika air makin kering, gulma ini akan membusuk dan mencemari kualitas air waduk, yang dampaknya tentu akan semakin memperburuk industri pariwisata di sini," pungkasnya. (*)

Editor : Nugroho Pandu Cahyo
Gulma Air bamboe wanadesa wisata balikpapan BWS Kalimantan IV waduk manggar