KALTIMPOST.ID-Prajurit Satuan Tugas Pengamanan Perbatasan (Satgas Pamtas) RI-Malaysia dari Yonkav 13/Satya Lembuswana dan Yonarmed 4/Parahyangan resmi menuntaskan Operasi Pengamanan Perbatasan Darat 2026, Senin (5/10).
Setelah bertugas sekitar satu tahun, pengalaman di wilayah perbatasan diminta menjadi bekal meningkatkan profesionalisme dan kesiapsiagaan satuan.
Pesan tersebut disampaikan Kepala Staf Kodam (Kasdam) VI/Mulawarman Brigjen Andy Setyawan saat memimpin upacara pelepasan Satgas Pamtas di Balikpapan.
Andy menyampaikan apresiasi kepada seluruh prajurit yang telah menjalankan tugas di wilayah terdepan Indonesia.
Baca Juga: Aktivasi IKD di Berau Mendekati 9 Persen, Disdukcapil Dorong Warga Beralih ke Identitas Digital
Pengamanan perbatasan memiliki tantangan tersendiri karena personel bersentuhan langsung dengan kawasan yang menjadi batas kedaulatan negara.
“Terima kasih atas dedikasi dan pelaksanaan tugas operasi pengamanan perbatasan darat RI-Malaysia yang telah dilaksanakan secara profesional, sehingga berjalan dengan baik, aman, dan lancar,” ujarnya.
Selama penugasan, prajurit dinilai mampu menjalankan tugas dengan berpegang pada Sapta Marga, Sumpah Prajurit, Delapan Wajib TNI, serta menghormati norma sosial masyarakat setempat.
Kodam VI/Mulawarman juga mencatat tidak terdapat pelanggaran hukum maupun hak asasi manusia (HAM) yang dilakukan personel selama operasi.
Menurut Andy, keberadaan Satgas Pamtas tidak hanya berkaitan dengan pengamanan masyarakat di wilayah perbatasan.
Penempatan pasukan juga menjadi bagian dari upaya menjaga kedaulatan dan keutuhan wilayah Indonesia.
Baca Juga: Pengendara Akali Nopol Beli Pertalite, Pertamina Perketat Pencatatan Digital di Tujuh SPBU Berau
Setelah kembali dari penugasan, seluruh personel diminta segera melakukan konsolidasi dan menyesuaikan diri dengan kegiatan di satuan masing-masing. Disiplin dan tata tertib keprajuritan juga harus kembali ditegakkan.
Inventarisasi materiil operasi turut menjadi perhatian. Seluruh peralatan diminta menjalani pemeliharaan sebelum disimpan agar tetap siap digunakan pada penugasan berikutnya.
Khusus personel Yonarmed 4/Parahyangan yang harus menempuh perjalanan laut menuju satuan induk, faktor keselamatan personel dan keamanan materiil selama pergeseran pasukan diminta menjadi prioritas.
Andy berharap pengalaman selama sekitar satu tahun menjaga perbatasan tidak berhenti sebagai catatan penugasan.
Pengalaman lapangan tersebut harus menjadi bahan evaluasi untuk meningkatkan kemampuan personel dan satuan.
“Jadikan pengalaman selama di daerah penugasan sebagai bahan evaluasi bagi peningkatan profesionalisme keprajuritan maupun pengembangan satuan dalam menghadapi tugas-tugas di masa depan,” pungkasnya. (rd)
Editor : Romdani.