Mengapa Harga Tiket Pesawat Masih Tinggi? Ini Akar Masalahnya

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:02 WIB
JADI PERHATIAN: Bandara SAMS Sepinggan yang meski masih ramai peminat, justru mengalami penurunan penumpang. (IST)
JADI PERHATIAN: Bandara SAMS Sepinggan yang meski masih ramai peminat, justru mengalami penurunan penumpang. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Tingginya harga bahan bakar pesawat atau avtur masih menjadi pemicu utama mahalnya harga tiket penerbangan di Indonesia. Komponen avtur tercatat menyumbang hingga 40 persen dari total pembentukan tarif tiket pesawat.

General Manager Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan Balikpapan, R Iwan Winaya Mahdar, mengungkapkan bahwa potongan tarif jasa kebandarudaraan atau airport tax pada momentum tertentu belum berdampak signifikan menekan harga tiket.

Baca Juga: Semangat Hari Kesaktian Pancasila, HUT Ke-30 UBP Mahakam Hadirkan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa

"Komponen harga tiket 40 persen itu adalah dari harga avtur. Kami melalui 37 kantor cabang bandara yang tersebar, pada momen tertentu seperti Nataru dan Lebaran, sudah memberikan diskon terkait airport tax," ujar Iwan, Sabtu (17/10).

Karena besarnya beban operasional maskapai dari bahan bakar, Iwan menilai penguatan konektivitas udara di Kalimantan Timur memerlukan intervensi lintas sektor. Pemerintah daerah diharapkan dapat turun tangan memberikan subsidi pembukaan rute baru guna menarik kunjungan wisatawan.

Baca Juga: UM dan Unesa Pastikan TIket The Nationals, Duel Penentu Juara Menanti

Meski demikian, pembukaan rute baru harus dihitung cermat berdasarkan keterisian kursi penumpang atau load factor. Iwan mencontohkan rute penerbangan langsung Balikpapan menuju Berau yang sempat mengalami penurunan frekuensi akibat sepinya pasar.

"Minat wisatawan saat itu tidak sesuai dengan ekspektasi maskapai, sehingga faktornya di bawah 70 persen. Ini yang menyebabkan rute Balikpapan-Berau yang tadinya beroperasi pada hari kerja menjadi hanya tiga kali seminggu, bahkan kadang-kadang tidak beroperasi," jelasnya.

Untuk mendongkrak minat terbang, Iwan berharap agenda wisata dan acara berskala besar terus digalakkan di Kalimantan Timur. Lonjakan pelancong dinilai penting untuk menghidupkan ekosistem perhotelan hingga biro perjalanan.

Baca Juga: Setelah Berbulan-bulan Daring, Siswa SMPN 2 Samarinda Kembali ke Kelas

Saat ini, pengelola bandara aktif berkomunikasi dengan Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), ASITA, serta pelaku biro perjalanan, termasuk agensi perjalanan ibadah.

"Kami juga melakukan diskusi dengan teman-teman travel umrah. Harapannya, ada penerbangan langsung umrah dari Balikpapan ke Mekah maupun Madinah," tutur Iwan.

Iwan menegaskan, sinergi pemangku kepentingan menjadi kunci utama menjaga keberlangsungan konektivitas udara di Kaltim. Pasalnya, akses mobilitas masyarakat di wilayah ini masih sangat bergantung pada transportasi udara dan laut. (*)

Editor : Dwi Restu A
akar masalah tinggi harga tiket pesawat balikpapan