Tarif Bandara dan Pelabuhan: MTI Kaltim Dorong Diskon Off-Peak

Ainur Rofiah • Dipublikasikan Sabtu, 17 Oktober 2026 | 11:55 WIB
TEKAN HARGA: Transportasi udara yang harga tiketnya masih tinggi dianggap untuk bisa dicarikan solusi agar memudahkan masyarakat. (IST)
TEKAN HARGA: Transportasi udara yang harga tiketnya masih tinggi dianggap untuk bisa dicarikan solusi agar memudahkan masyarakat. (IST)

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN - Akademisi Universitas Mulawarman sekaligus Ketua Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Kalimantan Timur, Tiopan Hendri M Gultom, mendorong operator memberikan diskon tarif layanan bandara dan pelabuhan saat periode sepi (off-peak). Kebijakan itu dinilai efektif mendongkrak mobilitas masyarakat sekaligus memutar roda ekonomi daerah.

Tiopan mengatakan, bandara dan pelabuhan merupakan fasilitas publik penunjang mobilitas masyarakat. Ketika arus perjalanan sedang menurun, operator perlu memberlakukan penyesuaian tarif guna memantik kembali minat bepergian masyarakat.

 Baca Juga: Mengapa Harga Tiket Pesawat Masih Tinggi? Ini Akar Masalahnya

Penurunan mobilitas dinilai tidak hanya memukul penerimaan operator transportasi, melainkan juga menekan ekosistem bisnis di sekitarnya. Imbas sepinya penumpang dirasakan langsung oleh penyedia jasa sewa, gerai komersial, hingga pelaku usaha lokal.

"Kalau kita bersikukuh dengan tarif seperti itu pada saat off-peak, pergerakan masyarakat justru sedikit. Orang juga akan lebih berhati-hati membelanjakan uangnya di bandara. Pendapatan tenant berkurang, belum lagi dampaknya terhadap belanja di luar bandara," kata Tiopan.

Ia memaparkan bahwa sektor transportasi memiliki efek berganda (multiplier effect) yang besar terhadap perekonomian. Arus mobilitas yang tinggi akan mempercepat perputaran uang di berbagai sektor usaha, khususnya UMKM dan perekonomian lokal.

Baca Juga: Semangat Hari Kesaktian Pancasila, HUT Ke-30 UBP Mahakam Hadirkan Santunan Anak Yatim dan Dhuafa

Selain stimulus tarif, Tiopan mendorong pemerintah daerah memperkuat sektor pariwisata guna mengurangi ketergantungan pada komoditas pertambangan. Gagasan ini mendesak diterapkan menyusul kebijakan pemerintah pusat terkait pembatasan volume produksi tambang yang berpotensi memengaruhi kas daerah.

"Pemerintah daerah harus mulai giat membangun apa yang bisa dijual di daerahnya. Konektivitas harus didukung dengan informasi dan promosi mengenai keunggulan tempat wisata agar jumlah kunjungan terus meningkat," ujarnya.

Di samping strategi tarif promosi, Tiopan menyoroti tingginya komponen pajak dan biaya pelayanan bandara atau airport tax pada harga tiket pesawat. Menurut perhitungannya, komponen pungutan tersebut menyumbang sekitar 30 hingga 40 persen dari total harga tiket.

Baca Juga: UM dan Unesa Pastikan TIket The Nationals, Duel Penentu Juara Menanti

Faktor lain yang turut memengaruhi ongkos penerbangan adalah biaya bahan bakar avtur. Guna meredam biaya operasional jangka panjang, Tiopan menyarankan pemerintah mempercepat hilirisasi avtur di dalam negeri agar tidak rentan terimbas fluktuasi kurs dolar AS.

Kendati mengusulkan efisiensi tarif, Tiopan mengingatkan operator agar tidak mengabaikan keselamatan operasional pelayaran maupun penerbangan. Seluruh pelaku industri wajib mematuhi standar pelayanan minimal yang ditetapkan Kementerian Perhubungan.

Ia berharap pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan operator transportasi dapat memperkuat koordinasi untuk menjaga konektivitas wilayah. "Dengan demikian, transportasi tidak hanya berfungsi sebagai sarana perpindahan, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi daerah," pungkasnya. (*)

Editor : Dwi Restu A
off peak pelabuhan diskon bandara tiket