Kabut Asap Ancam Satwa Liar, Anjing dan Kucing Sebaiknya di Dalam Rumah

Muhammad Taufik • Dipublikasikan Minggu, 18 Oktober 2026 | 08:39 WIB
drh. Ratna Panca Mardani menjelaskan dampak kebakaran hutan terhadap satwa liar seusai menghadiri peringatan HUT ke-20 PDHI di Balikpapan. (M TAUFIK/KALTIM POST)
drh. Ratna Panca Mardani menjelaskan dampak kebakaran hutan terhadap satwa liar seusai menghadiri peringatan HUT ke-20 PDHI di Balikpapan. (M TAUFIK/KALTIM POST)

 

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya berdampak pada kesehatan manusia, tetapi juga mengancam kelangsungan hidup satwa liar. Kebakaran dapat menyebabkan satwa terluka, kehilangan sumber makanan dan air, hingga terpaksa meninggalkan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman.

Dokter hewan sekaligus pemilik Jose Vet Clinic Balikpapan, drh. Ratna Panca Mardani, mengatakan satwa yang hidup di hutan menghadapi berbagai ancaman saat kebakaran terjadi. Ketika berusaha menyelamatkan diri dari api, satwa berisiko mengalami cedera, termasuk akibat menginjak benda tajam di tengah kondisi hutan yang terbakar.

Selain itu, kebakaran merusak sumber pakan dan air minum satwa. Kondisi tersebut dapat menyebabkan kelaparan, dehidrasi, bahkan kematian. Satwa yang kehilangan habitat juga berpotensi memasuki kawasan permukiman dan berhadapan dengan manusia.

Baca Juga: LAPSUS: APBD Menyusut, Kurang Salur dari Pusat Capai Rp 400 Miliar, Bontang Genjot Pajak Daerah

“Dia akan mendekati tempat manusia yang bukan habitat alamnya. Di situ dia bisa mendapatkan perlawanan dari manusia,” ujarnya saat menghadiri Kongres PDHI ke-20 di Balikpapan, Sabtu (17/10).

Ratna, yang merupakan alumnus Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada (UGM), menyebut sejumlah satwa yang berpotensi terdampak kebakaran hutan di Kalimantan. Di antaranya monyet, orangutan, rusa, dan babi hutan.

Menurut dia, dampak kebakaran terhadap satwa tidak hanya berupa luka dan kehilangan habitat, tetapi juga penderitaan berkepanjangan hingga penurunan populasi, terutama pada satwa yang dilindungi.

Sementara itu, bagi pemilik hewan peliharaan seperti anjing dan kucing, Ratna menyarankan agar hewan tetap berada di dalam rumah selama kualitas udara terdampak kabut asap. Hewan yang dibiarkan berkeliaran di luar rumah berisiko mengalami gangguan saluran pernapasan akibat paparan asap.

“Kalau hewan yang betul-betul disayangi, ya dimasukkan di dalam rumah,” imbaunya.

Baca Juga: Kau Akan hidup Panjang sebagaimana Tembangmu Akan Selalu Berdendang

Ratna menjelaskan, sistem pernapasan hewan dan manusia pada dasarnya sama-sama dapat terdampak paparan asap. Penciuman hewan yang lebih tajam tidak serta-merta membuatnya lebih rentan terhadap gangguan pernapasan akibat kabut asap.

“Penciuman tajam itu enggak berpengaruh, kalau sistem pernapasannya sama, kepekaannya juga sama,” pungkas Ratna. (*)

Editor : Ery Supriyadi
kabut asap Ratna Panca Mardani hewan peliharaan satwa liar kebakaran hutan