TANJUNG REDEB – Tumpukan sampah liar yang kembali muncul di sejumlah ruas jalan menjadi perhatian serius Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Berau. Beberapa titik yang disorot berada di Jalan Raya Bangun, Kecamatan Sambaliung, dan Jalan Poros Labanan Tanjung, Kecamatan Teluk Bayur.
Kepala DLHK Berau, Zulkifli Azhari, mengatakan persoalan tersebut sebagian besar disebabkan masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam membuang sampah pada tempat yang telah disediakan. Padahal, pemerintah telah menempatkan kontainer sampah atau amrol di sejumlah lokasi.
“Amrol sudah kami siapkan di Sambaliung. Tetapi masih ada masyarakat yang membuang sampah sembarangan. Bahkan banyak yang membuang sampah di sana bukan warga setempat, melainkan dari Tanjung Redeb,” ujarnya.
Baca Juga: Disbudpar Berau Tunda Retribusi 10 Destinasi Wisata, Infrastruktur Dasar Belum Memadai
Untuk mengatasi persoalan itu, DLHK mendorong keterlibatan pemerintah kelurahan, kecamatan, dan masyarakat melalui kegiatan kerja bakti. DLHK siap mendukung dengan armada pengangkut sampah untuk membersihkan lokasi yang menjadi titik pembuangan liar.
“Kami mengajak masyarakat untuk kerja bakti. Kelurahan dan kecamatan yang melaksanakan kegiatan di lapangan, sedangkan DLHK membantu pengangkutan sampahnya,” katanya.
Menurut Zulkifli, keterbatasan jumlah personel menjadi salah satu kendala dalam penanganan sampah di lapangan. Karena itu, kolaborasi berbagai pihak dinilai penting agar penanganan sampah dapat berjalan lebih maksimal.
Di Teluk Bayur, DLHK sebenarnya juga telah menyediakan amrol di kawasan Hutan Tangap. Namun fasilitas tersebut mengalami kerusakan setelah dua kali dibakar oleh oknum yang tidak bertanggung jawab.
“Di Teluk Bayur juga ada amrol, tetapi sayangnya sudah dua kali dibakar,” ungkapnya.
Sebelumnya, DLHK juga membersihkan tumpukan sampah di ruas jalan Gunung Tabur menuju Tanjung Batu dan memasang papan peringatan agar lokasi tersebut tidak kembali dijadikan tempat pembuangan liar.
Ke depan, DLHK berencana menambah jumlah amrol di sejumlah wilayah. Namun, pengadaan tersebut membutuhkan dukungan pemerintah kelurahan dalam menyiapkan lahan yang sesuai serta mendapat persetujuan masyarakat sekitar.
“Penempatannya harus tepat, tidak mengganggu estetika lingkungan dan kenyamanan warga,” jelasnya.
Zulkifli menegaskan, persoalan sampah bukan hanya soal sarana, tetapi juga kesadaran masyarakat. Meski fasilitas tersedia, masih banyak warga yang membuang sampah di luar amrol sehingga petugas harus bekerja ekstra membersihkan area sekitar.
Sementara itu, warga Sambaliung, Aji, mengaku tumpukan sampah di pinggir jalan sudah lama dikeluhkan masyarakat. Selain mengganggu pemandangan, sampah yang menumpuk juga menimbulkan bau tidak sedap.
“Kami berharap ada penanganan yang lebih rutin dan tegas. Walaupun lokasinya sepi, bukan berarti bisa dijadikan tempat pembuangan sampah,” ujarnya. (aja/kpg/rdh)
Editor : Muhammad Ridhuan