TANJUNG REDEB – Bahasa Banua, salah satu warisan budaya masyarakat Berau, berada di ambang kepunahan. Jumlah penuturnya terus menyusut dan kini diperkirakan hanya tersisa sekitar 11.200 orang atau sekitar 3–4 persen dari total penduduk Kabupaten Berau yang telah mencapai lebih dari 300 ribu jiwa.
Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Berau memperkuat upaya pelestarian melalui dunia pendidikan dengan memasukkan bahasa Banua sebagai mata pelajaran muatan lokal di tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Sekretaris Kabupaten Berau, Muhammad Said, mengatakan minimnya jumlah penutur menjadi peringatan bagi seluruh pihak agar bersama-sama menjaga keberlangsungan bahasa daerah tersebut.
"Kalau kita lihat data yang tercatat, sekitar 11.200 penutur dibandingkan jumlah penduduk Kabupaten Berau yang kurang lebih 300 ribu. Artinya tinggal sekitar 3 sampai 4 persen saja yang masih menggunakan bahasa Banua dalam keseharian," ujarnya, Kamis (2/7).
Menurutnya, berkurangnya jumlah penutur dipengaruhi faktor regenerasi. Saat ini mayoritas pengguna aktif bahasa Banua berasal dari kelompok usia lanjut, sementara generasi muda semakin jarang menggunakan bahasa tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
"Banyak anak muda yang orang tuanya lahir di Berau, bahkan dibesarkan di sini, tetapi tidak lagi memahami atau menggunakan bahasa Banua dalam percakapan sehari-hari. Ini yang menjadi kekhawatiran kita bersama," katanya.
Sebagai langkah pelestarian, Pemkab Berau mulai menerapkan pembelajaran bahasa Banua sebagai muatan lokal di SMP. Kebijakan tersebut diharapkan menjadi sarana bagi generasi muda untuk mengenal, mempelajari, dan menggunakan kembali bahasa daerah sebagai bagian dari identitas budaya Berau.
"Alhamdulillah, ini menjadi momentum yang baik. Dengan mulai diformalkan pengajaran bahasa Banua di tingkat SMP, kita berharap semakin banyak generasi muda yang mengenal dan menggunakan bahasa ini," ucap Muhammad Said.
Ia menegaskan, upaya pelestarian tidak cukup hanya mengandalkan pemerintah. Menurutnya, keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dengan membiasakan penggunaan bahasa Banua dalam kehidupan sehari-hari.
"Ini adalah identitas kita di Banua. Kita bersyukur masih memiliki bahasa daerah yang bisa kita jaga bersama. Tapi memang perlu upaya serius agar tidak punah," tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Berau, Mardiatul Idalisah, mengatakan pihaknya telah menyiapkan berbagai perangkat pendukung pembelajaran, mulai dari modul hingga kamus bahasa Banua.
"Upaya pelestarian bahasa Banua sudah kita masukkan dalam muatan lokal di SMP. Selain itu, kami juga sudah menyiapkan modul dan kamus bahasa Banua agar pembelajaran bisa lebih terarah," ujarnya.
Melalui sinergi pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat, Pemkab Berau berharap jumlah penutur bahasa Banua dapat kembali meningkat sehingga warisan budaya daerah tetap lestari di tengah perkembangan zaman.
Editor : Muhammad Ridhuan