Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Tim Penilai Sebut Geopark Sangkulirang-Mangkalihat Siap Jadi Geopark Nasional

Redaksi KP • Jumat, 10 Juli 2026 | 19:43 WIB
PENINJAUAN: Tim penilai Geopark Nasional meninjau salah satu geosite di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, Berau, dalam rangka verifikasi usulan penetapan sebagai Geopark Nasional. (IZZA/BP)
PENINJAUAN: Tim penilai Geopark Nasional meninjau salah satu geosite di kawasan Sangkulirang-Mangkalihat, Berau, dalam rangka verifikasi usulan penetapan sebagai Geopark Nasional. (IZZA/BP)

TANJUNG REDEB – Proses penilaian Geopark Sangkulirang-Mangkalihat sebagai calon Geopark Nasional resmi berakhir. Setelah lima hari melakukan asesmen di Kabupaten Kutai Timur dan Berau, tim penilai menyatakan kawasan tersebut secara umum telah siap, meski masih membutuhkan sejumlah penyempurnaan sebelum ditetapkan sebagai Geopark Nasional.

Ketua Tim Penilai Geopark, Mega Fatimah Rosana, mengatakan asesmen yang berlangsung pada 6–10 Juli mencakup kunjungan ke sejumlah geosite serta pemeriksaan dokumen pendukung. Hasil penilaian selanjutnya akan dibahas dalam rapat lintas kementerian pada Agustus mendatang.

"Kalau saya lihat, kesiapannya sudah cukup bagus. Walaupun memang di beberapa bagian masih perlu ditingkatkan," ujarnya, Jumat (10/7).

Menurut Mega, sebagian besar geosite telah berkembang menjadi destinasi wisata yang memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat sekitar. Namun, aspek edukasi masih perlu diperkuat, terutama melalui penyediaan informasi ilmiah yang mudah dipahami pengunjung.

Salah satu catatan diberikan untuk geosite Labuan Cermin. Fenomena unik pertemuan air asin dan air tawar dinilai belum dijelaskan secara memadai melalui panel informasi sehingga nilai edukasinya belum optimal.

Baca Juga: Menuju Geopark Nasional, Karst Sangkulirang–Mangkalihat Diverifikasi Tim Nasional Pekan Depan

"Informasi mengenai air asin dan air tawarnya belum tertulis dalam panel informasi. Padahal itu penting untuk memberikan edukasi kepada wisatawan," katanya.

Di sisi lain, tim penilai mengapresiasi tingginya keterlibatan masyarakat dalam mengelola kawasan geopark. Menurut Mega, hampir seluruh geosite yang dikunjungi telah menerapkan pengelolaan berbasis masyarakat sesuai konsep geopark yang mengedepankan pendekatan bottom-up.

"Yang saya sangat apresiasi adalah keterlibatan masyarakat. Kelihatannya memang sudah mandiri. Mereka sudah mampu mengelola lokasi-lokasi ini untuk menjaga kelestariannya," ujarnya.

Selama proses asesmen, tim mengunjungi sekitar 20 persen dari total 26 geosite yang masuk dalam kawasan Geopark Sangkulirang-Mangkalihat. Meski demikian, lokasi yang dipilih dinilai telah mewakili kondisi pengelolaan kawasan secara keseluruhan.

Keputusan akhir mengenai penetapan Geopark Nasional akan ditentukan melalui rapat lintas kementerian. Sementara surat keputusan penetapan diperkirakan terbit sekitar April tahun depan.

Selain aspek geologi, tim juga menekankan pentingnya penguatan unsur budaya sebagai salah satu dari tiga pilar utama geopark, selain keanekaragaman hayati. Museum Batu Bara dan Kota Tua Teluk Bayur dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata budaya yang melengkapi daya tarik kawasan.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Berau, Yudha Budisantosa, mengatakan geosite di Berau memiliki karakter yang berbeda dengan Kutai Timur. Jika Kutai Timur didominasi kawasan karst dan gua, Berau lebih mengandalkan kawasan pesisir dan kepulauan yang telah berkembang sebagai destinasi wisata.

"Pengembangan ekonomi dan pariwisata geosite kita sudah jauh lebih berkembang. Karakter kita berada di pesisir dan kepulauan, sedangkan Kutim lebih banyak pegunungan dan kawasan karst," ujarnya.

Yudha optimistis berbagai kekurangan administrasi maupun dokumen pendukung dapat diselesaikan dalam waktu sekitar satu bulan. Menurutnya, peluang Geopark Sangkulirang-Mangkalihat memperoleh status Geopark Nasional cukup besar sebagai tahapan menuju pengakuan sebagai UNESCO Global Geopark.

Ia menambahkan, pengelolaan kebersihan di Labuan Cermin juga mendapat apresiasi dari tim penilai. Praktik pengelolaan sampah berbasis prinsip reduce, reuse, dan recycle (3R) diharapkan dapat menjadi contoh bagi destinasi wisata lainnya di Berau.

 

Editor : Muhammad Ridhuan
#Geopark Sangkulirang Mangkalihat #Geosite Berau #UNESCO Global Geopark #Labuan Cermin #geopark nasional