Kemarau Picu Puso di Berau, 11,8 Hektare Sawah Labanan Jaya Gagal Panen

Redaksi KP • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 20:44 WIB
HADAPI KEMARAU: Pemkab Berau berusaha memperkuat dukungan sektor pertanian untuk membantu petani menghadapi dampak kekeringan. (ILUSTRASI-IZZA/BP)
HADAPI KEMARAU: Pemkab Berau berusaha memperkuat dukungan sektor pertanian untuk membantu petani menghadapi dampak kekeringan. (ILUSTRASI-IZZA/BP)

TANJUNG REDEB – Kemarau yang melanda sejumlah wilayah Kabupaten Berau sepanjang musim tanam 2026 memicu gagal panen atau puso di sejumlah lahan pertanian. Dampak paling parah terjadi pada lahan yang berada jauh dari sumber air.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Peternakan (DTPHP) Berau Lita Handini mengatakan, puso terjadi di sejumlah kawasan pengembangan padi sawah. Selain kekeringan, serangan hama dan penyakit turut memperparah kondisi tanaman.

“Musim kemarau 2026 ini di beberapa lokasi pengembangan padi sawah banyak yang mengalami gagal panen. Puso selain kekeringan juga karena hama dan penyakit,” kata Lita.

Sejumlah wilayah yang terdampak antara lain Buyung-Buyung, Semurut, Merancang Hulu, Merancang Ilir, Melati Jaya, dan Labanan Jaya.

Baca Juga: Karhutla Marak di Paser dan Berau, Pemprov Kaltim Siapkan Operasi Modifikasi Cuaca ke BNPB

Di Labanan Jaya, dari total 118 hektare lahan yang ditanami pada musim gadu, sekitar 75 hektare masih dapat dipanen. Sementara 11,8 hektare lainnya mengalami puso akibat kekeringan.

Hasil Panen Turun hingga Dua Pertiga

Tidak hanya menyebabkan gagal panen, kemarau juga menurunkan produktivitas lahan yang masih mampu menghasilkan tanaman.

Lita menyebut, dalam kondisi normal petani dapat memperoleh hasil sekitar tiga ton gabah per hektare. Namun, tahun ini produktivitas turun menjadi sekitar satu ton per hektare.

Dampak kekeringan juga dirasakan petani tanaman pangan lainnya. Produksi jagung, cabai, dan berbagai jenis sayuran ikut mengalami penurunan.

Dari target produksi yang ditetapkan, realisasi panen jagung dan cabai baru mencapai sekitar 40 persen.

Meski demikian, tidak seluruh lahan pertanian mengalami dampak serupa. Petani yang masih memiliki akses terhadap sumber air dapat mempertahankan tanaman dengan memanfaatkan pompa.

“Kalau masih ada air, masih bisa dipompa. Tapi kalau paritnya juga kering, tidak bisa dipompa,” ujar Lita.

Irigasi Jadi Persoalan Utama

Menurut Lita, persoalan irigasi menjadi salah satu hal yang perlu segera dibenahi untuk mengantisipasi dampak kekeringan terhadap sektor pertanian.

Saluran pembawa air dari sungai maupun bendungan atau dam dinilai perlu direhabilitasi. Kebocoran saluran membuat pasokan air tidak mampu menjangkau petak sawah yang berada jauh dari sumber air.

Perbaikan jaringan irigasi diharapkan dapat membantu petani mempertahankan produksi ketika musim kemarau kembali terjadi.

Di tengah keterbatasan anggaran, Pemkab Berau tetap mengarahkan bantuan kepada kelompok tani. Lita menegaskan, petani yang tergabung dalam kelompok tetap berpeluang mendapatkan dukungan pemerintah sesuai program dan kebutuhan di lapangan.

Pemkab Berau Perkuat Infrastruktur Pertanian

Bupati Berau Sri Juniarsih mengatakan, pemerintah daerah terus memperkuat dukungan terhadap sektor pertanian, termasuk melalui pembangunan dan perbaikan infrastruktur pendukung.

Di Labanan Jaya, sejumlah pekerjaan telah dilakukan, antara lain revitalisasi saluran pembuangan, peningkatan drainase di Jalan Raja Wali dan sekitarnya, normalisasi saluran kelompok tani, serta penggalian saluran untuk menunjang aktivitas pertanian.

“Yang bisa kami lakukan, kami akan terus mendorong supaya usaha para petani kita dapat kita support untuk memaksimalkan hasil tani,” ujarnya.

Dukungan pemerintah, lanjut Sri Juniarsih, tidak hanya difokuskan di Labanan Jaya. Pemkab Berau juga akan mengarahkan perhatian ke kampung-kampung lain yang membutuhkan pengembangan sektor pertanian.

Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat ketahanan sektor pertanian Berau sekaligus membantu petani menghadapi ancaman kekeringan pada musim tanam berikutnya.

Editor : Muhammad Ridhuan
gagal panen Berau puso sawah Berau kemarau Berau 2026 pertanian Berau sawah Labanan Jaya