KALTIMPOST.ID-Peringatan Hari Jadi ke-73 Berau dan HUT ke-216 Kota Tanjung Redeb tidak hanya menjadi momentum melihat capaian pembangunan. Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sempat memicu ratusan titik panas turut menjadi perhatian pemerintah daerah.
Hal itu mengemuka dalam Rapat Paripurna DPRD Berau, Senin (14/9), sehari menjelang puncak peringatan hari jadi. Bupati Berau Sri Juniarsih hadir mengenakan pakaian adat Dayak. Sedangkan Wakil Bupati Gamalis mengenakan pakaian adat Bajau.
Ketua DPRD Berau Dedy Okto Nooryanto mengatakan, peringatan hari jadi menjadi momentum untuk mengevaluasi perjalanan daerah sekaligus melihat tantangan ke depan.
Kolaborasi pemerintah daerah, DPRD, FKPD, dan masyarakat dinilai menjadi kunci mewujudkan pembangunan Berau.
Baca Juga: Bawa Anak 16 Tahun dari Balikpapan ke Parepare, Terdakwa Akui Empat Kali Berhubungan Badan
Sri Juniarsih mengatakan, bertambahnya usia daerah harus menjadi dorongan untuk mewujudkan Berau yang maju, unggul, berkelanjutan, makmur, dan sejahtera.
Namun, peringatan tahun ini berlangsung di tengah tantangan musim kemarau. Kondisi tersebut meningkatkan risiko karhutla dan sempat memunculkan kabut asap di sejumlah wilayah.
Data per 29 Agustus 2026 menunjukkan terdapat 779 titik panas atau hotspot di Berau. Saat itu, jumlah tersebut menjadi yang tertinggi di Kaltim.
Kondisi mulai membaik. Berdasarkan data BMKG Kaltim periode 9 September, titik panas di Berau turun menjadi 50 titik. Jumlah tersebut menempatkan Berau di posisi kedua setelah Kutai Kartanegara dengan 64 titik.
Dari 50 titik panas di Berau, empat memiliki tingkat kepercayaan rendah, 45 menengah, dan satu titik berkategori tinggi. “Namun, alhamdulillah, hari ini kita mulai melihat perkembangan yang lebih baik,” kata Sri.
Hujan juga mulai turun di sejumlah wilayah, meski intensitasnya masih rendah dan belum merata. Kondisi itu membantu meningkatkan kelembapan tanah dan menekan potensi kebakaran.
Meski demikian, kewaspadaan belum boleh dikendurkan. “Kondisi kemarau ini masih tetap harus kita waspadai, karena kelembapan tanah yang dinamis dapat kembali memicu munculnya titik api,” tegasnya.
Baca Juga: Empat Kali Listrik Padam dalam Sepekan, Warung Makan di Balikpapan Sepi dan Pedagang Merugi
Tim gabungan tetap disiagakan. Penanganan melibatkan BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI, Polri, Manggala Agni, pihak swasta, dan unsur terkait lainnya.
Pemantauan serta pemadaman dilakukan, termasuk dengan dukungan water bombing dan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC).
Pemkab Berau juga telah berkoordinasi dengan Menteri Kehutanan untuk menyampaikan kondisi di lapangan dan mendorong penguatan dukungan penanganan.
Dampak karhutla, lanjut Sri, tidak hanya menyentuh persoalan lingkungan. Kabut asap juga memengaruhi kesehatan, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi masyarakat.
Ketika kualitas udara memburuk, Pemkab Berau menerapkan kebijakan Belajar dari Rumah (BDR). Masyarakat juga diimbau menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan.
Sri turut mengapresiasi petugas yang bekerja di lapangan. Bertepatan dengan HUT ke-24 Manggala Agni, dia menyampaikan penghargaan atas peran personel dalam mengendalikan kebakaran.
Menurutnya, penanganan karhutla tetap memerlukan keterlibatan masyarakat. Warga diminta tidak melakukan pembakaran yang berpotensi memicu kebakaran dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
“Yang kita jaga adalah udara yang kita hirup, kesehatan keluarga kita, aktivitas ekonomi masyarakat kita, dan masa depan anak-anak kita,” ujarnya.
Sri berharap momentum 73 tahun Berau memperkuat kebersamaan menghadapi berbagai persoalan daerah. Pemerintah, DPRD, dan masyarakat, menurutnya, harus terus bergandengan tangan karena Berau merupakan rumah bersama yang harus dijaga. (adv/rd)
Editor : Romdani.