Penyu di Balikukup Terancam, Tim Konservasi Berau Tempuh 140 Kilometer Amankan Pantai

Romdani. • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 18:17 WIB
Nelayan penjaring kepiting rajungan di perairan Balikukup.
Nelayan penjaring kepiting rajungan di perairan Balikukup. 

KALTIMPOST.ID-Tim gabungan bergerak cepat merespons insiden gangguan terhadap satwa penyu yang sedang mendarat untuk bertelur di kawasan Pulau Balikukup, Berau.

Langkah tanggap itu dilakukan untuk memastikan kelestarian satwa laut dilindungi tersebut tetap terjaga dari ancaman eksploitasi.

Upaya pengamanan kawasan perairan ini digagas oleh Yayasan Laut Biru Kepulauan Derawan (YLBKD)/Global Conservation (GC) bersama Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Kawasan Konservasi Perairan, Pesisir, dan Pulau-Pulau Kecil (KKP3K) Kepulauan Derawan. Tim gabungan langsung bertolak menyisir wilayah kepulauan terluar tersebut.

Dengan dukungan operasional utama dari YLBKD/GC, rombongan menempuh perjalanan laut lebih dari 140 kilometer dari Tanjung Batu menuju Pulau Balikukup.

Baca Juga: Penyu Derawan Dijaga dengan Teknologi Digital, EarthRanger Pantau Sarang hingga Perburuan Liar

Patroli terpadu ini berlangsung intensif selama beberapa hari demi mengumpulkan fakta di lapangan.

“Kami menempuh perjalanan lebih dari 140 kilometer untuk merespons laporan masyarakat dan memastikan langsung kondisi di lapangan, sekaligus mencegah terulangnya gangguan terhadap penyu yang sedang bertelur maupun pengambilan telurnya secara ilegal,” tegas tim lapangan konservasi, Wahyu Kesuma Bakti.

Setibanya di lokasi, tim langsung menggelar koordinasi terpadu bersama Kepala Kampung Balikukup, jajaran pos polisi setempat, serta Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas).

Sinergi itu dibangun untuk memperketat sistem pemantauan di darat maupun perairan sekitar.

Didampingi ketua Pokmaswas Balikukup, tim bergerak menyisir sejumlah titik krusial. Mereka memeriksa langsung lokasi kejadian gangguan, titik penguburan bangkai penyu, hingga bentang pantai yang menjadi area pendaratan satwa bercangkang keras tersebut.

Hasil peninjauan mencatat sedikitnya ada empat titik pantai peneluran penyu di Pulau Balikukup yang memerlukan proteksi ekstra ketat. Kawasan itu dinilai sangat rentan terhadap aktivitas manusia yang tidak bertanggung jawab.

Baca Juga: Warga Binaan Lapas Balikpapan Meninggal setelah Perkelahian, Kalapas Ungkap Kronologinya

“Ada empat lokasi pantai peneluran di Balikukup yang kini menjadi perhatian utama kami bersama warga. Keberadaan pantai pendaratan ini menuntut pengawasan rutin agar siklus bertelur penyu tidak terputus,” ujar Dadang I K Mujiono, anggota tim patroli lapangan.

Tak berhenti di Balikukup, rute patroli perairan langsung diperluas hingga mencapai kawasan Pulau Mataha dan Karang Muaras.

Kendati kondisi ombak dan gelombang laut cukup besar, tim tetap menyisir perairan untuk memantau lalu lintas perahu nelayan tangkap.

Saat pemantauan di perairan tersebut, tim turut mengonfirmasi adanya penanganan nelayan asal Balikukup yang diduga melakukan praktik penangkapan ikan terlarang menggunakan racun potasium.

Kasus dugaan penangkapan ikan ilegal ini tengah ditangani aparat Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) bersama UPTD KKP3K.

“Tantangan konservasi di perairan Balikukup bukan hanya menjaga keselamatan penyu dan area pantainya semata, tetapi juga memberantas destructive fishing seperti potasium yang merusak terumbu karang dan rantai makanan di laut,” ungkap Wahyu.

YLBKD/GC bersama UPTD KKP3K menegaskan keberadaan Pokmaswas Balikukup merupakan garda terdepan sistem pengawasan berbasis masyarakat.

Pengawasan konsisten dan komunikasi cepat antara warga, pemerintah kampung, pengawas perikanan, serta kepolisian menjadi benteng utama perlindungan ekosistem pesisir Berau.

Penguatan peran aktif Pokmaswas Balikukup kini menjadi kunci vital agar setiap ancaman terhadap penyu dan biota laut langka lainnya dapat segera dicegah sedini mungkin. (rd)

Editor : Romdani.
penyu Berau Bupati Berau Sri Juniarsih penajam paser utara pulau derawan Kutai Barat