SAMARINDA - Ide usaha itu muncul kepepet atau situasi mendesak. Ternyata jadi peluang. Meski baru dua tahun, perlahan usahanya semakin dikenal. Semakin optimistis karena potensi ekspor dari produk unik, ikan asin krispi. Sasar Uni Emirat Arab (UEA) sebagai pangsa pasar.
Usaha katering yang digeluti Rani Ningsih sudah berjalan lima tahun lalu. Itulah yang menjadi awal Rani menemukan ide bisnis Esa Masin Paser. “Waktu itu kepepet, mau cepat bikin nasi tumpeng. Tapi, pakai nasi urap, kan biasanya pakai ikan asin untuk lauknya. Nah, kok kayaknya bisa ini dijual (ikan asin),” bebernya.
Coba-coba dan tes pasar pada 2022, ternyata peminatnya tinggi. Sambil jalan, dia melihat bagaimana potensinya. Seiring waktu, produknya kini sudah mejeng di berbagai toko hingga acara. Bahkan terbaru, jadi UMKM pilihan untuk penyediaan suvenir jamaah haji Kaltim 2024.
“Jadi setor produk atau titip barang, nah dapat jaringan ke Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (DPPKUKM) Kaltim. Dari situ dihubungi, mau ambil produk untuk suvenir haji. Alhamdulillah,” lanjut dia.
Rani menggunakan ikan asin jenis bulu ayam. Dia olah sedemikian rupa agar jadi camilan. Diakui proses awal tak mudah. Bagaimana agar kudapan itu betul-betul krispi dan tahan lama tanpa pengawet. “Awalnya keras, jadi dapat masukan dari konsumen juga. Terus berkembang sampai dapat resep yang pas. Terus lanjut ke kemasan. Jadi, memang berproses,” jelas perempuan kelahiran 1985 itu.
Dia dibantu lima orang dalam proses produksi. Semua memiliki tugas masing-masing. Mulai proses pembersihan bahan baku, kemudian masuk ke tahap pengolahan bumbu hingga penggorengan. Terakhir, masuk ke pengemasan.
Sekali produksi khusus untuk pembersihan bisa 25-30 kilogram, bisa dua minggu sekali. Namun pengolahan seperti menggoreng setiap hari. Sebab kini, Rani mengaku jika permintaan mulai tinggi.
Setiap harinya mampu produksi hingga 360 bungkus kemasan 80 gram. Berasal dari Desa Rangan, Kuaro, Paser, produknya justru paling laku di Samarinda. Penjualan juga sudah sampai ke Bontang.
Dia titipkan dengan sistem konsinyasi ke beberapa toko, khususnya toko oleh-oleh dan camilan. “Jadi aktif menawarkan. Ini mau coba masuk ke retail, minimarket atau swalayan. Karena ternyata potensinya besar di Samarinda, kalau di lokal Paser belum terlalu,” jelasnya.
Visinya juga semakin terbuka setelah mengikuti pelatihan ekspor. Produknya memiliki nilai tersendiri untuk dikirim ke luar negeri. Kapasitas produksi pun diakuinya siap jika nantinya permintaan lebih tinggi. Siap memberdayakan masyarakat sekitar rumah produksinya.
“Esa Masin Paser ini arahnya mau ke mana? Ya ke ekspor, ada potensinya. Untuk negara itu potensinya ke Uni Emirat Arab (UAE). Sebab, sudah ada permintaan produk saya dibawa ke sana. Ke Tiongkok juga ada,” kata dia.
Rani sudah mengantongi berbagai info buyer yang cocok dengan pangsa pasar usahanya. Ilmu dan teori juga sudah didapat. Tinggal eksekusi. “Harapannya sih bisa lebih didampingi dan difasilitasi lagi oleh pemerintah. Kalau bisa dipertemukan langsung dengan buyer, sehingga produk daerah bisa segera ekspor,” tutupnya. (ndu/k15)
RADEN RORO MIRA
Editor : Nugroho Pandu Cahyo