Utama Samarinda Balikpapan Kaltim Nasional Piala Dunia 2026 Olahraga Bisnis Lifestyle Opini Sosbis Hiburan

Balikpapan Siap Menjadi Pusat Ekonomi Kreatif: Menyambut Era Ibu Kota Nusantara

Ulil Mu'Awanah • Senin, 29 Juli 2024 | 19:45 WIB
Cokorda Istri Ratih Kusuma. (Foto: Ist)
Cokorda Istri Ratih Kusuma. (Foto: Ist)

KALTIMPOST.ID, BALIKPAPAN — Balikpapan, yang selama ini dikenal sebagai pusat industri dan jasa, kini menghadapi tantangan sekaligus peluang besar dengan adanya Ibu Kota Nusantara (IKN).

Penajam Paser Utara dan Kutai Kartanegara telah ditetapkan sebagai lokasi ibu kota baru, menjadikan Balikpapan sebagai gerbang penting yang harus siap menyambut perubahan besar ini.

Dalam konteks ini, pengembangan sektor ekonomi kreatif menjadi semakin krusial sebagai bagian dari strategi pembangunan jangka panjang kota.

Ekonomi kreatif mencakup sektor-sektor yang mengandalkan kreativitas, keterampilan, dan bakat individu untuk menciptakan barang dan jasa bernilai tambah tinggi. Sektor ini meliputi seni, desain, musik, film, dan digital.

Kepala Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Balikpapan, Cokorda Ratih Kusuma, menjelaskan bahwa sektor ekonomi kreatif telah memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal, baik dalam penciptaan lapangan kerja maupun peningkatan daya tarik investasi.

“Di Balikpapan, kami melihat pertumbuhan signifikan dalam subsektor ekonomi kreatif, terutama dalam bidang seni kerajinan tangan, desain grafis, produksi film lokal, dan musik. Content creator juga semakin berkembang, mendukung promosi pariwisata kota,” ungkap Ratih.

Dengan pertumbuhan pesat ini, Balikpapan menghadapi tantangan untuk beradaptasi dan memanfaatkan peluang yang ada, terutama setelah ditetapkan sebagai kota kreatif. Pembangunan ibu kota baru akan membawa perubahan demografis yang signifikan, termasuk penambahan populasi dan meningkatnya kebutuhan infrastruktur serta layanan.

“Sebagai gerbang IKN, Balikpapan harus memanfaatkan momentum ini. Ekonomi kreatif memiliki potensi besar untuk mendukung pertumbuhan ekonomi kota. Selain menciptakan lapangan kerja, sektor ini juga berkontribusi pada citra kota dan daya tarik investasi,” kata Ratih.

Untuk mendorong perkembangan ekonomi kreatif, pemerintah kota telah meluncurkan berbagai inisiatif strategis, termasuk program pelatihan untuk pelaku usaha kecil dan menengah (UKM) di sektor kreatif. Program ini bertujuan memberikan keterampilan dan pengetahuan yang diperlukan agar para pelaku usaha dapat bersaing di pasar lokal dan global.

“Pelatihan ini mencakup manajemen bisnis, pemasaran digital, dan pengembangan produk. Kami juga menyediakan bantuan teknis dan fasilitas untuk mendukung pelaku usaha, terutama yang baru memulai,” jelasnya.

Pemerintah juga berkomitmen memperkuat infrastruktur untuk mendukung sektor ekonomi kreatif, seperti pengembangan ruang pameran, galeri seni, dan tempat pertunjukan. Dengan infrastruktur yang memadai, Balikpapan diharapkan menjadi pusat kegiatan kreatif yang menarik bagi pelaku industri dan pengunjung.

Selain dukungan pemerintah, komunitas dan sektor swasta juga memainkan peran penting. Komunitas kreatif lokal aktif mengorganisir berbagai acara, seperti festival seni, pameran kerajinan, dan workshop, yang tidak hanya mempromosikan produk lokal tetapi juga meningkatkan keterlibatan masyarakat.

Kolaborasi antara sektor swasta dan publik menjadi kunci keberhasilan. Banyak perusahaan swasta telah berinvestasi dalam sektor ekonomi kreatif melalui sponsorship, pembiayaan proyek, dan kemitraan dengan pelaku industri lokal. “Kami melihat banyak potensi dalam sektor ini dan berusaha mendukung pengembangan ekonomi kreatif melalui berbagai inisiatif. Investasi dalam kreativitas akan membawa dampak positif jangka panjang,” ujar Ratih.

Ekonomi kreatif memiliki dampak luas, tidak hanya pada aspek ekonomi tetapi juga sosial dan budaya. Di Balikpapan, sektor ini berkontribusi pada pelestarian budaya lokal dan peningkatan kualitas hidup masyarakat. Produk dan layanan kreatif yang dihasilkan oleh komunitas lokal membantu mempertahankan warisan budaya sekaligus menawarkan cara baru untuk memperkenalkan budaya tersebut ke dunia luar.

"Salah satu contohnya adalah Pasar Inpres Kebun Sayur, yang merupakan pusat ekonomi kreatif lokal," tambahnya.

Pengembangan ekonomi kreatif juga membantu mengurangi ketergantungan pada sektor-sektor tradisional seperti industri ekstraktif, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi Kaltim. Dengan diversifikasi ekonomi, Balikpapan dapat mengurangi risiko ekonomi yang terkait dengan fluktuasi harga komoditas dan dampak lingkungan dari kegiatan industri berat.

Editor : Thomas Priyandoko
#ekraf #balikpapan