KALTIMPOST.IDBALIKPAPAN-Sebagai rangkaian kegiatan dalam Supply Chain Management (SCM) Summit 2024, ada 10 perjanjian baru serta beberapa amandemen yang telah ditandatangani.
Perjanjian jual beli gas (PJBG) tersebut, melibatkan tidak hanya konsumen dari sektor industri, tetapi juga Perusahaan Listrik Negara (PLN) dalam upaya pemenuhan kebutuhan pembangkit listrik.
Dengan adanya kerjasama ini, diharapkan dapat tercipta sinergi yang efisien antara berbagai pihak untuk mendukung ketahanan energi nasional.
Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Migas (SKK Migas) Dwi Soetjipto mengungkapkan bahwa kebijakan hilirisasi yang diterapkan oleh pemerintah telah memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan kebutuhan gas domestik.
.“Kebijakan hilirisasi yang terus didorong oleh pemerintah telah mendorong pertumbuhan kebutuhan gas di dalam negeri,” ujarnya.
Kebijakan pemerintah yang mendukung hilirisasi industri, diikuti dengan penambahan kapasitas produksi dan distribusi energi, menjadi langkah strategis untuk memastikan ketahanan energi yang berkelanjutan.
Hal ini, juga mencerminkan keberhasilan dari berbagai kebijakan energi yang telah diterapkan dalam beberapa tahun terakhir.
Para peserta SCM Summit 2024 juga mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi, mengenai berbagai tantangan dan solusi dalam rantai suplai industri migas.
Diskusi ini bertujuan untuk memperkuat kerjasama antara pihak-pihak terkait, dalam upaya meningkatkan efisiensi dan kapasitas nasional di sektor energi.
Dengan adanya penambahan perjanjian dan amandemen yang signifikan ini, diharapkan Indonesia dapat menghadapi tantangan kebutuhan energi di masa depan dengan lebih siap.
Keberhasilan ini menandai langkah maju dalam pencapaian target-target energi nasional, serta mempromosikan kerjasama yang lebih luas antar sektor.
Dwi juga menambahkan bahwa pertanyaan utama kini adalah sejauh mana Indonesia dapat memenuhi kebutuhan energi, khususnya gas.
"Jika kita menilai dari neraca gas, kita tidak pernah berada pada posisi negatif dalam hal keseimbangan gas hingga 2030,” ungkap Dwi.
Keyakinan SKK Migas ini didasarkan pada banyaknya temuan cadangan gas yang siap untuk dikembangkan, seperti di Geng North, Andaman, South Andaman, Blok Masela, dan Blok Kasuri di Papua.
“Jawa Timur saat ini mengalami surplus gas, sedangkan Jawa Barat menghadapi kekurangan. Oleh karena itu, suplai gas dari Sumatera bagian tengah dan selatan dialirkan ke Jawa Barat, dengan adanya terminal penerima di utara Jakarta untuk mendukung distribusi tersebut," sebutnya.
Secara keseluruhan, Dwi mengatakan, penandatanganan PJBG dan pelaksanaan SCM Summit 2024 menjadi momen penting dalam sektor energi Indonesia.
Ini tidak hanya menegaskan komitmen negara dalam memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga menunjukkan langkah konkret dalam pengembangan infrastruktur, dan peningkatan kapasitas nasional untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan keberlanjutan energi di masa depan.
Selain itu, Deputi Dukungan Bisnis SKK Migas Rudi Satwiko menilai, bahwa SCM Summit 2024 merupakan waktu yang tepat untuk memacu perbaikan kualitas rantai suplai di industri hulu migas dan meningkatkan kapasitas nasional.
“Event ini memberikan momentum untuk memperkuat kapasitas nasional dengan arah yang jelas menuju pembangunan rantai suplai yang lebih baik,” katanya.
Sebagai informasi tambahan, perjanjian jual beli gas yang baru ditandatangani ini mencakup transaksi dengan nilai total mencapai 1.249.078.779 dolar, setara dengan Rp 18,9 triliun.
Kesepakatan ini menunjukkan komitmen bersama dalam upaya memenuhi kebutuhan energi yang terus berkembang di Tanah Air.
Editor : Thomas Dwi Priyandoko