KALTIMPOST.ID, Seiring dengan estimasi penguatan ekonomi Amerika Serikat (AS), mata uang Asia terpantau mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat, Senin (2/9).
Pelemahan mata uang Asia dipimpin oleh baht Thailand yang mengalami penurunan signifikan sebesar 0,71 persen.
Pada posisi kedua, rupiah Indonesia mencatat pelemahan sebesar 0,45 persen diikuti ringgit Malaysia yang terdepresiasi sebesar 0,32 persen.
Berbeda dengan mata uang asing lainnya, di hari yang sama yen Jepang justru malah mengalami penguatan sebesar 0,13 persen.
Hal ini terjadi walau indeks dolar AS (DXY) terpantau mengalami kenaikan yang signifikan dalam tiga hari terakhir, yakni dari 100,55 menjadi 101,7 pada 27-29 Agustus mencatatkan kenaikan sebesar 1,14 persen.
Penguatan DXY mencerminkan optimisme investor terhadap pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan. Dalam laporan terbaru Biro Analisis Ekonomi Departemen Perdagangan, revisi pertumbuhan PDB kuartal kedua menunjukkan peningkatan signifikan menjadi 3,0 persen dari perkiraan awal 2,8 persen.
Angka ini menunjukkan percepatan ekonomi yang jauh lebih baik dibandingkan dengan kuartal pertama yang hanya mencatatkan pertumbuhan 1,4 persen.
Pemulihan ekonomi AS tetap tangguh, didorong oleh lonjakan belanja konsumen yang mencapai 2,9 persen lebih tinggi dari perkiraan awal 2,3 persen.
Meningkatnya upah menjadi faktor utama yang mendorong konsumen untuk tetap berbelanja, walau terdapat penurunan dalam investasi bisnis terutama di sektor perangkat lunak. Ekspor dan investasi inventaris swasta juga direvisi turun.
Pasar tenaga kerja Amerika Serikat menunjukkan tanda-tanda stabilisasi dengan klaim awal tunjangan pengangguran menurun lebih dari yang diperkirakan mencapai 231 ribu pada minggu yang berakhir pada 24 Agustus.
Penurunan ini meski hanya dua ribu klaim, mengindikasikan perbaikan kondisi tenaga kerja setelah kenaikan yang dipicu oleh faktor sementara seperti penutupan pabrik kendaraan bermotor dan badai Beryl.
Dan ini berakhir pada tingginya ekspektasi pemangkasan suku bunga bank sentral AS (The Fed) sebesar 25 basis poin pada pertengahan September ini.
Jika ekspektasi ini terbukti benar, kemungkinan besar DXY tidak akan mengalami pelemahan yang signifikan. Namun, bila pemangkasan suku bunga mencapai 50 basis poin, DXY dapat mengalami penurunan lebih dalam, memberikan dampak positif bagi mata uang Asia yang diharapkan akan menguat.
Editor : Hernawati