Hal itu disampaikan Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim Budi Widihartanto. Dia menyebut pangsa terbesar selanjutnya yakni PMTB dengan angka 35,28 persen, lalu konsumsi rumah tangga sebesar 17,43 persen, serta konsumsi pemerintah 5,85 persen.
“Penurunan permintaan batu bara yang menahan kinerja net ekspor menjadi penyebab perlambatan pertumbuhan PDRB Kaltim dari sisi pengeluaran. Di tengah pangsanya yang masih mendominasi perekonomian Kaltim di sisi pengeluaran, perlambatan net ekspor menjadi penyebab utama perlambatan ekonomi Kaltim,” jelasnya Kamis (12/9).
Perlambatan net ekspor tersebut didorong oleh perlambatan ekspor dan peningkatan impor. Budi mengatakan pada triwulan I 2024, ekspor tumbuh 7,23 persen year on year (yoy), melambat jadi 5,71 persen yoy. Sementara itu, pada triwulan I 2024, impor meningkat dari 6,95 persen yoy jadi 8,77 persen yoy pada triwulan laporan.
“Penurunan ekspor ini disebabkan penurunan permintaan batu bara dari negara mitra dagang utama, sementara peningkatan impor didorong oleh komponen non-migas. Komponen lainnya yang berkontribusi terhadap perlambatan ekonomi Kaltim pada triwulan II ini adalah konsumsi rumah tangga. Dimana tumbuh 5,16 persen yoy, atau melambat dibanding triwulan sebelumnya yang 5,27 persen yoy akibat tertahannya daya beli rumah tangga yang dipengaruhi kinerja pertambangan batu bara,” papar Budi.
Meski melambat, eskspor (migas dan non-migas) pada triwulan laporan menunjukkan pertumbuhan yang lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya. Ditopang oleh rata-rata harga ekspor yang lebih baik. Budi menyebut secara total, ekspor Kaltim pada triwulan II 2024 terkontraksi pada triwulan sebelumnya sebesar 25,44 persen yoy.
Perbaikan pertumbuhan tersebut didorong oleh positifnya nilai ekspor migas, dimana tumbuh 4,51 persen yoy. Setelah pada triwulan sebelumnya terkontraksi -11,50 persen yoy. Perbaikan kinerja ekspor migas didukung oleh harga minyak yang tumbuh tinggi sebesar 9,06 persen yoy. Meski di sisi lain harga gas masih terkontraksi -9,47 persen yoy.
“Sejalan dengan ekspor migas, ekspor non-migas juga menunjukkan perbaikan. Pada triwulan II 2024, kontraksi mencapai -6,62 persen yoy atau membaik dibanding triwulan sebelumnya yang angkanya -26,76 persen yoy. Perbaikan ekspor non-migas didorong oleh peningkatan harga batu bara, meski secara volume sedikit mengalami perlambatan,” ujarnya.
Penurunan permintaan negara mitra dagang utama menjadi penyebab menurunnya volume eskpor batu bara. Tiongkok yang merupakan pasar utama alami penurunan dari yang sebelumnya 24,7 juta ton menjadi 23,9 juta ton. Penurunan itu karena peningkatan pasokan batu bara dalam negeri Tiongkok untuk memenuhi permintaan musiman serta pelonggaran inspeksi keselamatan di akhir triwulan II yang membatasi produksi di awal tahun.
Sejalan dengan Tiongkok, pertumbuhan volume ekspor ke negara-negara ASEAN juga melambat. Dari 25,23 persen yoy menjadi 5,73 persen yoy. Budi memperkirakan hal itu bersumber dari ekspansi ekonomi Filipina pada 2023 lalu. Didorong oleh konsumsi, jasa, dan investasi yang kemudian meningkatkan kebutuhan listrik negara tersebut.
“Sementara itu volume ekspor batu bara ke India mencapai 15,8 juta ton pada triwulan II, tumbuh 32,59 persen yoy. Dibanding triwulan sebelumnya yang 13,4 juta ton atau 7,49 persen yoy. Peningkatan itu diakibatkan heatwave yang melanda,” tutupnya.
Editor : Uways Alqadrie