Sebagai salah satu perusahaan perangkat keras komputer yakni ASUS, sudah memenuhi syarat tersebut, ditambah dengan nilai Beban Manfaat Produksi (BMP). Pencapaian ini diraih oleh seri ExpertBook. "Merilis produk untuk business to business (b2b).
Jadi bukan kelas gaming atau user rumahan seperti pada umumnya," ungkap Head of Public Relations ASUS Indonesia Muhammad Firman dalam ASUS TKDN Gathering Samarinda, Selasa (24/9) kemarin.
Pasar utamanya adalah kelas bisnis dan juga pengadaan barang pemerintahan. Dengan spesifik durability (daya tahan) lebih unggul. Salah satunya yakni melewati 28 mil-std (military standard), dibanding brand lain yang hanya 25 mil-std. Dijelaskan Commercial Product Marketing ASUS Indonesia, Aldy Ramadiansyah, bahwa hal itu untuk menjawab tantangan industri.
Menjawab kebutuhan sesuai dengan spesifikasi penggunaan produk oleh end user atau pengguna. "Sebab kita enggak tahu nanti end user ini apakah pekerja lapangan, atau full dibalik meja. Makanya kita pastikan, kualitasnya itu sama yang keluar," beber Aldy.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, peruntukkannya juga untuk lelang pemerintah. Pangsanya cukup besar. Kehadiran ASUS untuk menambah opsi selain brand lokal. Apalagi didukung dengan TKDN+BMP 40 persen. Dari segi kuantitas juga terus ditingkatkan, dengan 800-1.000 unit per hari diproduksi di Batam. Disiapkan untuk menjawab pengadaan perangkat keras dari pemerintah. Sehingga dari sisi ketersediaan dan distribusi dipastikan aman.
Sejauh ini, serapan pasar di Samarinda juga meningkat. Menjawab kebutuhan IKN, pihaknya juga mengaku siap. Apalagi TKDN jadi salah satu syarat pengadaan untuk pemerintahan. Pada 2022, TKDN ASUS masih 25 persen. Masuk 2024, mencapai 40 persen lebih. Hal itu mengikuti regulasi pemerintah.
Target berikutnya, ASUS berupaya mencapai 65% TKDN dan BMP dalam waktu yang akan datang. Langkah ini mencerminkan keseriusan ASUS dalam memperkuat posisinya di pasar Indonesia dengan produk-produk yang lebih terjangkau dan relevan.
"Dapat info, kalau regulasi untuk 2026 nanti TKDN di 65 persen. Kalaupun begitu juga sudah sangat siap. Apalagi kerjasama dengan UKM lokal yang tersebar di Batam, Tangerang dan Jepara. Jadi untuk tas, charger dan kabel itu kita dapat mitra lokal yang dari segi kualitas juga bagus. Sehingga tidak perlu impor dari luar. Ditambah perakitan, tenaga kerja juga lokal," lanjut Firman.
Hal itu juga sejalan dengan antisipasi permintaan pengadaan di IKN untuk perangkat kerasnya. "Misal permintaan dari semua kementerian total 2 juta unit, tentu itu tidak bisa hanya dipenuhi oleh satu brand saja. Sehingga kami juga bersiap. Selain government, juga ke Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) hingga Negara (BUMN)," paparnya.
Ke depan, pihaknya terus berkomitmen dan bekerjasama dengan mitra lokal. Guna meningkatkan lebih banyak produk yang memiliki nilai lokal tinggi. Berharap pencapaian tersebut tidak hanya berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berkontribusi pada peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) di Indonesia.
Editor : Uways Alqadrie