“Jika dilihat lebih rinci, penurunan produksi padi terbesar terjadi pada Februari yaitu 11,02 ribu ton. Lebih rendah dibanding Februari 2022. Untuk peningkatan, paling tinggi terjadi pada September yaitu 8,43 ribu ton dibanding bulan yang sama pada 2022,” beber Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kaltim Yusniar Juliana.
Produksi padi tertinggi terjadi pada Maret, mencapai 60,67 ribu ton. Dan terendah pada akhir tahun, 0,77 ribu ton. Sejalan juga dengan kondisi 2022 dimana produksi tertinggi juga di bulan yang sama, Maret dengan angka 53,74 ribu ton dan Desember terendah dengan angka 0,89 ribu ton.
“Secara mendetail menurut kabupaten/kota yang memberikan kontribusi produksi padi yaitu Kutai Kartanegara, Penajam Paser Utara, dan Paser. Masing-masing produksinya 115,10 ribu ton GKG, 45,10 ribu ton GKG dan 28,61 ribu ton GKG,” lanjut Yusniar.
Penurunan produksi padi sebagian besar disumbang oleh Paser, Kutai Timur dan Berau. Sementara peningkatan signifikan terjadi di Kutai Kartanegara. “Kabupaten Paser yang alami penurunan produksi padi terbesar merupakan salah satu sentra produksi padi di Kaltim,” sambungnya.
Kontribusi produksi padi GKG menurut daerahnya pada 2023 yakni Kutai Kartanegara dengan lebih dari 50 persen, yakni 50,71 persen. Disusul Penajam Paser Utara 19,87 persen, Paser 12,60 persen serta kota lainnya terakumulasi 16,82 persen.
Sedangkan untuk produksi beras untuk konsumsi pangan, pada 2023 angkanya 132,02 ribu ton. Angkanya juga turun dibanding 2022, yakni 7,25 ribu ton atau 5,20 persen. Pada 2022, produksi beras mencapai 139,27 ribu ton. “Sejalan juga dengan produksi padi, produksi beras terbesar pada 2023 terjadi di Maret yakni 35,29 ribu ton,” papar Yusniar.
Dijelaskan jika penurunan itu juga disumbang oleh luas lahan yang diistirahatkan atau tidak ditanami meningkat. Pada 2023, 27,35 persen lahan dibiarkan atau diberakan. Sedangkan data 2022 yakni 21,57 persen.
“Jadi proporsi lahan yang dibiarkan atau diberakan pada 2023 alami peningkatan dibanding tahun sebelumnya. Sedangkan untuk lahan yang ditanami selain padi mengalami penurunan,” bebernya.
Setelah Maret, sebagian besar lahan mengalami panen padi. Namun pada Juli-Oktober, sebagian besar lahan pertanian digunakan untuk ditanami tanaman selain padi.
Editor : Uways Alqadrie