Narasi-narasi ini telah melukiskan gambaran yang menyimpang tentang industri tersebut, dan seringkali didasarkan pada insiden-insiden terisolasi, informasi yang ketinggalan zaman, dan daya tarik emosional daripada fakta-fakta ilmiah.
Ketua Bidang Kampanye Positif, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Pusat Edi Suhardi mengatakan, serangan untuk menyudutkan industri sawit itu masih terus dilakukan sejumlah pihak berlangsung hingga kini.
“Padahal, yang digeber untuk menyerang industri sawit itu adalah disinformasi. Fakta dan metode ilmiah mengenai kelapa sawit tidak diindahkan. Narasi sentimental popular-fiksi melodrama yang menyesatkan dengan mengambil kasus terisolasi dan masa lalu didaur ulang,” kata Edi Suhardi saat menjadi narasumber pada Seminar Bekesahan dengan Bubuhan Milenial di Ruang Pelangi, Hotel Royal Victoria Sangatta, Kutai Timur, Kamis (26/9).
Selain Edi Suhardi, kegiatan ini juga menghadirkan Kepala Divisi Perusahaan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit, Achmad Maulizal Sutawijaya; Bidang Usaha Dinas Perkebunan Kutim, Aminudin Azis; Sekretaris Eksekutif Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute (PASPI), Risnayanti; dan Agustaman, petani kelapa sawit sukses dari Kecamatan Muara Wahau, Kutim.
Bupati Kutim, Ardiansyah Sulaiman diwaliki Kepala Dinas Perkebunan Kutim Sumarjana, menegaskan bahwa masyarakat Kutim khususnya kaum milenial, perlu diberikan informasi utuh melalui kampanye sawit yang positif ini, terkait peran industri kelapa sawit, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi.
Edi Suhardi mengungkapkan di depan peserta kalangan milenial itu, bahwa sawit memiliki keunggulan super kompetitif karena sehat, seperti mengandung vitamin A dan beta karotin. Di samping itu, mempunyai komitmen sustainability dengan standar, sertifikasi, dan komitmen, termasuk No Deforestation, No Peat, No Exploitation atau NDPE.
“Nah, lalu bagaimana cara kita berjuang bela sawit?” kata Edi Suhardi. Lebih lanjut ia mengungkapkan, semua pihak perlu menjalankan konsep percaya diri mendukung produk nasional guna kemandirian pangan dan energi ini.
Konsep yang dipaparkan Edi Suhardi adalah pikiran terbuka atau open minded dengan melihat sesuatu tidak berdasar kasus terisolasi, kasus lama atau hiperbola berlebihan.
“Lalu, kedepankan awareness, education and mindset change (kesadaran, pendidikan dan perubahan pola pikir). Perang informasi, disinformasi fiksi dilawan dengan fakta dan kajian ilmiah sawit," ucapnya.
Diuraikannya, 41 persen perkebunan kelapa sawit di Indonesia dimiliki petani kecil atau kata lain, membeli minyak sawit berarti membantu petani; 17 juta pekerja. Produksi crude palm oil (CPO) 50 juta ton (2023) dengan menghasilkan devisa Rp 600 triliun (10,2 persen total ekspor), 4 persen PDB, 8 persen APBN, dan sektor pembangunan yang paling efektif di daerah terpencil untuk mencapai Suistainable Development Goals (SDGs).
Editor : Uways Alqadrie