KALTIMPOST.ID, KUKAR - Pandemi tidak melulu dipandang buruk oleh Excel. Dia justru menemukan peluang usaha. Mulai budidaya hidroponik, suplai ikan ke berbagai rumah makan, sarang madu lebah kelulut hingga peluang ekspor rumput laut serta kerang dara.
Sebagai orang yang tak bisa diam saja di rumah, Excel terus coba mencari kegiatan positif. Perkuliahan yang kala itu juga terbatas hanya lewat daring akibat pandemi Covid-19 juga membuatnya mau tak mau habiskan banyak waktu di rumah.
“Pas Corona 2020 itu kan ibaratnya kita dikurung di rumah. Bingung mau kegiatan apa. Coba hidroponik, dan ternyata ada permintaan lumayan di Muara Badak. Beberapa bulan, coba merambah ke ikan. Suplai ke restoran-restoran,” jelasnya.
Untuk hidroponik, semua dia mulai dari awal sejak pembibitan hingga siap jual. Sedangkan ikan, dia ambil dari nelayan. Melirik potensi ikan juga karena perputaran uang di hidroponik cukup lama, panen 30-45 hari. Sehingga dia mencari kegiatan lain yang bisa menghasilkan.
“Dari ikan itu coba lihat lagi yang lain. Ya coba peternakan lebah madu kelulut. Sekarang sudah ada 19 sarang dan rencana dalam waktu dekat ini mau tambah 30-an sarang. Jadi total 50-an, karena memang permintaan tinggi di madu ini. Baru panen langsung habis, enggak ada stok yang bermalam,” kata pria kelahiran 2001 itu.
Pikirannya semakin terbuka karena ingin jajal pasar ekspor. Lagi dan lagi. Excel mencari peluang. Komoditas apa yang bisa dikirim ke luar, yang sumbernya kaya di Muara Badak. Sehingga bisa terus kontinu.
Pada pertengahan 2023, dia memutuskan membangun PT Genta Bestari Nusantara. Dia juga mendaftar untuk kelas ekspor dari Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Kaltim. “Rencana mau bawa madu, tapi enggak bisa kontinu produknya. Pengin ikan, udang, itu sudah banyak pemain besarnya. Akhirnya coba di rumput laut,” sebutnya.
Jalin kerjasama dengan salah satu nelayan. Empat bulan pelatihan, langsung business matching dengan Indonesian Trade Promotion Center (ITPC) Chennai, India. Dari sana, semakin banyak Excel mulai belajar mengenai ekspor.
Hingga mengantarkan dia jadi salah satu peserta Trade Expo Indonesia (TEI) pada Oktober lalu. Dia membawa rumput laut dan kerang dara. Koneksi dan relasi pun semakin luas.
“Sejauh ini belum ada deal sih. Jadi baru negosiasi, ada yang tawarkan kerjasama tapi tahun depan. Perusahaan di Indonesia yang mengelola bio-plastik. Jadi potensi itu ke depan yang disiapkan,” sambung Alumnus Fakultas Pertanian Unmul itu.
Meski begitu, Excel mengaku siap untuk ekspor. Dari segi bahan baku, dipastikan aman. Diakui jika dia juga ingin agar produknya bisa terus kontinu. Sehingga tidak hanya sekali kirim dan selesai.
“Soalnya ada teman, berhasil kirim bungkil sawit sampai dua kontainer tapi stop. Karena ekspor ini kan panjang ya, di depan prosesnya lumayan. Jadi memang harapannya bisa sustain, jadi memang harus benar-benar serius supaya lanjut terus,” kata dia.
Kini dia juga merambah ke kebun buah. Dari enam hektare, seperempat yang sudah dia tanam seperti pisang hingga durian. Bahkan terakhir, Excel juga melihat potensi dari limbah pabrik sawit.
“Emang enggak bisa diam orangnya. Apa yang bisa dikerjakan, ya coba dikerjakan. Jadi memang harus bisa lihat pintu-pintu lain dan peluang-peluang lain,” tutupnya. (*)
Editor : Nugroho Pandu Cahyo